Peran Penting Masyarakat Adat Menjaga Warisan Sejarah dan Pesisir
03 November 2026 22:53 WIB
Yudi Samadi
Photo: Direktur Eksekutif M4CR, M. Zainal Arifin beserta para tokoh adat Tana Tidung sesaat disambut tarian tardisional sebelum memasuki tempat acara Media Gathering M4CR di Desa Tanah Merah (03/11)
TANA TIDUNG, SONORA.CO.ID – Keberadaan masyarakat adat
menjadi benteng utama dalam menjaga kelestarian ekosistem pesisir dan hutan
mangrove. Hal tersebut mengemuka dalam diskusi media gathering saat kunjungan
ke Desa Tana Merah, Kecamatan Tana Lia, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan
Utara, Selasa (3/11/2026).
Desa Tana Merah yang berada di Pulau Mandul memiliki rekam sejarah panjang. Selain merupakan daerah pertahanan NKRI pada masa konfrontasi Indonesia-Malaysia era 1960-an, kawasan yang kini dihuni lebih dari 6.000 jiwa ini memiliki keterikatan erat dengan sejarah ekologi bentang pesisir Kalimantan Utara.
Pemangku Adat Desa Tana Merah, Ujang Syahrin, mengungkapkan bahwa luasan mangrove di wilayahnya sempat menyusut signifikan akibat aktivitas industri migas, pengolahan sawit, serta alih fungsi lahan menjadi tambak. Perubahan ini bahkan membuat banyak nelayan beralih profesi menjadi buruh pabrik, sehingga kesadaran menjaga lingkungan sempat menurun.
Hadirnya proyek M4CR yang mengajak warga kembali menanam mangrove di area tambak memberikan harapan baru bagi masyarakat adat untuk memulihkan kelestarian desa mereka.
"Sebagai tetua adat bersama kelompok masyarakat adat Desa Tana Merah, kami berharap ke depan bisa terus membangun kolaborasi. Tokoh adat ingin menjaga daerah adat agar masyarakatnya sejahtera, salah satunya dengan ikut melestarikan mangrove. Setiap bantuan yang bertujuan meningkatkan kehidupan masyarakat akan kami terima dengan tangan terbuka," kata Ujang.
Dukungan terhadap peran masyarakat adat juga disampaikan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal PDASRH Kementerian Kehutanan sekaligus Direktur Eksekutif M4CR, Muhammad Zainal Arifin. Menurutnya, wilayah pesisir yang memiliki struktur masyarakat adat kuat umumnya memiliki ekosistem mangrove yang terjaga baik.
"Terima kasih kepada masyarakat adat yang ikut menjaga alam dengan kearifan lokal yang diturunkan secara turun-temurun. Dengan kearifan tersebut, ekosistem pesisir khususnya mangrove dapat terjaga dengan baik," tutur Zainal.
Melengkapi dimensi kelestarian lingkungan tersebut, para nelayan tradisional dan pelaku UMKM lokal yang merasakan langsung manfaat program M4CR turut berharap agar integrasi kegiatan penanaman dan bantuan modal usaha ini terus berjalan. Mereka menyadari bahwa proses pemulihan kawasan pesisir berbasis kearifan lokal memerlukan pendampingan berkelanjutan.
Oleh karena itu, warga penerima manfaat berharap masa kerja proyek M4CR dapat diperpanjang melampaui batas target tahun 2027. Perpanjangan masa proyek diharapkan mampu memperkuat kemandirian ekonomi warga pesisir sekaligus menjamin tradisi pelestarian lingkungan oleh masyarakat adat tetap lestari lintas generasi.
Desa Tana Merah yang berada di Pulau Mandul memiliki rekam sejarah panjang. Selain merupakan daerah pertahanan NKRI pada masa konfrontasi Indonesia-Malaysia era 1960-an, kawasan yang kini dihuni lebih dari 6.000 jiwa ini memiliki keterikatan erat dengan sejarah ekologi bentang pesisir Kalimantan Utara.
Pemangku Adat Desa Tana Merah, Ujang Syahrin, mengungkapkan bahwa luasan mangrove di wilayahnya sempat menyusut signifikan akibat aktivitas industri migas, pengolahan sawit, serta alih fungsi lahan menjadi tambak. Perubahan ini bahkan membuat banyak nelayan beralih profesi menjadi buruh pabrik, sehingga kesadaran menjaga lingkungan sempat menurun.
Hadirnya proyek M4CR yang mengajak warga kembali menanam mangrove di area tambak memberikan harapan baru bagi masyarakat adat untuk memulihkan kelestarian desa mereka.
"Sebagai tetua adat bersama kelompok masyarakat adat Desa Tana Merah, kami berharap ke depan bisa terus membangun kolaborasi. Tokoh adat ingin menjaga daerah adat agar masyarakatnya sejahtera, salah satunya dengan ikut melestarikan mangrove. Setiap bantuan yang bertujuan meningkatkan kehidupan masyarakat akan kami terima dengan tangan terbuka," kata Ujang.
Dukungan terhadap peran masyarakat adat juga disampaikan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal PDASRH Kementerian Kehutanan sekaligus Direktur Eksekutif M4CR, Muhammad Zainal Arifin. Menurutnya, wilayah pesisir yang memiliki struktur masyarakat adat kuat umumnya memiliki ekosistem mangrove yang terjaga baik.
"Terima kasih kepada masyarakat adat yang ikut menjaga alam dengan kearifan lokal yang diturunkan secara turun-temurun. Dengan kearifan tersebut, ekosistem pesisir khususnya mangrove dapat terjaga dengan baik," tutur Zainal.
Melengkapi dimensi kelestarian lingkungan tersebut, para nelayan tradisional dan pelaku UMKM lokal yang merasakan langsung manfaat program M4CR turut berharap agar integrasi kegiatan penanaman dan bantuan modal usaha ini terus berjalan. Mereka menyadari bahwa proses pemulihan kawasan pesisir berbasis kearifan lokal memerlukan pendampingan berkelanjutan.
Oleh karena itu, warga penerima manfaat berharap masa kerja proyek M4CR dapat diperpanjang melampaui batas target tahun 2027. Perpanjangan masa proyek diharapkan mampu memperkuat kemandirian ekonomi warga pesisir sekaligus menjamin tradisi pelestarian lingkungan oleh masyarakat adat tetap lestari lintas generasi.
News
View MoreOur Services
Sonora Education And Talent Management
Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Research Solution
Your Research Solution for Comprehensive Coverage, Reliable Sources, and Diverse Perspectives