Kelompok Usaha Lokal di Kaltara Harapkan Keberlanjutan Program Pendampingan
03 November 2026 22:35 WIB
Yudi Samadi
Photo: Beberapa perwakilam kelompok masyarakat penerima bantuan M4CR di Desa Tanah Merah, tana Tidung, Kaltara berharap Dukungan dan Pendampingan bisa berkelanjutan (03/11)
TANA TIDUNG, SONORA.CO.ID – Kehadiran program Mangroves
for Coastal Resilience (M4CR) di Kalimantan Utara tidak hanya berdampak
pada pemulihan ekosistem pesisir, tetapi juga memberikan angin segar bagi
pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal. Melalui skema hibah pendampingan (matching
grant), program ini terbukti mampu menggerakkan kembali semangat produktif
warga, khususnya para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di daerah.
Hal tersebut terungkap dari kisah inspiratif para penerima manfaat program M4CR di wilayah setempat. Salah satunya disampaikan oleh Mita, perwakilan kelompok usaha "Inggila Takai" dari Kabupaten Tana Tidung, saat membagikan pengalamannya dalam sesi interaksi bersama media dan pengelola program.
Menurut Mita, sebelum mendapatkan intervensi dan pendampingan dari M4CR, kelompok usahanya kerap berjalan sendiri dengan keterbatasan. Bahkan, beberapa anggota sempat kehilangan motivasi karena minimnya kepastian penghasilan. Namun, situasi berubah drastis setelah mereka menerima fasilitas bantuan serta pendampingan intensif melalui skema matching grant.
"Dengan adanya bantuan M4CR ini, kami sangat terbantu. Ibu-ibu semangatnya tumbuh kembali karena bisa mendapat penghasilan tambahan," ujar Mita.
Dalam praktiknya, program M4CR tidak sekadar memberikan bantuan modal atau alat produksi—seperti mesin pengolahan dan fasilitas penunjang usaha—tetapi juga aktif mendampingi kelompok masyarakat dalam memperluas jangkauan pasar. Beragam produk unggulan lokal hasil binaan kelompok ini, mulai dari kerajinan khas daerah, minyak kelapa murni (VCO), Nata de Coco, serundeng, sambal bondo, hingga produk olahan khas lainnya, kini berhasil menembus pasar luar daerah bahkan hingga ke Pulau Bali.
Sebagai bentuk komitmen nyata dalam mendorong perekonomian masyarakat pesisir, program M4CR tercatat telah menyalurkan dana lebih dari 534 juta rupiah guna membantu permodalan dan pengembangan usaha warga di tingkat tapak. Suntikan dana dan bimbingan ini dinilai sangat krusial dalam mendongkrak kemandirian ekonomi warga yang sebagian besar tinggal di wilayah pesisir dengan tantangan geografis cukup tinggi.
Kendati demikian, di balik rasa syukur atas berbagai pencapaian tersebut, para pelaku UMKM dan warga penerima manfaat menyimpan satu harapan besar. Mengingat batas masa pelaksanaan proyek M4CR yang direncanakan selesai pada tahun 2027, mereka berharap agar program pendampingan ini dapat terus diperpanjang.
Warga khawatir jika program ini berakhir tanpa kelanjutan, upaya pemberdayaan yang telah dirintis dengan susah payah akan kehilangan arah. Mereka berharap pemerintah dan pihak terkait dapat melanjutkan skema pendampingan ini demi memastikan keberlanjutan kemandirian ekonomi masyarakat pesisir di masa depan.
"Harapan saya M4CR masih ada ke depannya. Apa yang telah diberikan M4CR akan terus kami kembangkan, bukan berarti ketika program ini nantinya selesai, kami juga ikut menghilang. Kami ingin terus berproses dan berkembang ke depannya," pungkas Mita penuh optimisme.
Hal tersebut terungkap dari kisah inspiratif para penerima manfaat program M4CR di wilayah setempat. Salah satunya disampaikan oleh Mita, perwakilan kelompok usaha "Inggila Takai" dari Kabupaten Tana Tidung, saat membagikan pengalamannya dalam sesi interaksi bersama media dan pengelola program.
Menurut Mita, sebelum mendapatkan intervensi dan pendampingan dari M4CR, kelompok usahanya kerap berjalan sendiri dengan keterbatasan. Bahkan, beberapa anggota sempat kehilangan motivasi karena minimnya kepastian penghasilan. Namun, situasi berubah drastis setelah mereka menerima fasilitas bantuan serta pendampingan intensif melalui skema matching grant.
"Dengan adanya bantuan M4CR ini, kami sangat terbantu. Ibu-ibu semangatnya tumbuh kembali karena bisa mendapat penghasilan tambahan," ujar Mita.
Dalam praktiknya, program M4CR tidak sekadar memberikan bantuan modal atau alat produksi—seperti mesin pengolahan dan fasilitas penunjang usaha—tetapi juga aktif mendampingi kelompok masyarakat dalam memperluas jangkauan pasar. Beragam produk unggulan lokal hasil binaan kelompok ini, mulai dari kerajinan khas daerah, minyak kelapa murni (VCO), Nata de Coco, serundeng, sambal bondo, hingga produk olahan khas lainnya, kini berhasil menembus pasar luar daerah bahkan hingga ke Pulau Bali.
Sebagai bentuk komitmen nyata dalam mendorong perekonomian masyarakat pesisir, program M4CR tercatat telah menyalurkan dana lebih dari 534 juta rupiah guna membantu permodalan dan pengembangan usaha warga di tingkat tapak. Suntikan dana dan bimbingan ini dinilai sangat krusial dalam mendongkrak kemandirian ekonomi warga yang sebagian besar tinggal di wilayah pesisir dengan tantangan geografis cukup tinggi.
Kendati demikian, di balik rasa syukur atas berbagai pencapaian tersebut, para pelaku UMKM dan warga penerima manfaat menyimpan satu harapan besar. Mengingat batas masa pelaksanaan proyek M4CR yang direncanakan selesai pada tahun 2027, mereka berharap agar program pendampingan ini dapat terus diperpanjang.
Warga khawatir jika program ini berakhir tanpa kelanjutan, upaya pemberdayaan yang telah dirintis dengan susah payah akan kehilangan arah. Mereka berharap pemerintah dan pihak terkait dapat melanjutkan skema pendampingan ini demi memastikan keberlanjutan kemandirian ekonomi masyarakat pesisir di masa depan.
"Harapan saya M4CR masih ada ke depannya. Apa yang telah diberikan M4CR akan terus kami kembangkan, bukan berarti ketika program ini nantinya selesai, kami juga ikut menghilang. Kami ingin terus berproses dan berkembang ke depannya," pungkas Mita penuh optimisme.
News
View MoreOur Services
Sonora Education And Talent Management
Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Research Solution
Your Research Solution for Comprehensive Coverage, Reliable Sources, and Diverse Perspectives