Mangrove Subur, Petambak Tambah Daya Saing Berkat Pendampingan M4CR
03 November 2026 22:26 WIB
Yudi Samadi
Photo: Ediyanto dan rekannya dari Kelompok Nelayan Mekar Abadi Desa Tanah Merah, Tana Tidung, kaltara memperlihatkan salah satu kepiting hasil budidayanya di tambak yang menerapkan konsep silvofishery
TANA TIDUNG, SONORA.CO.ID – Praktik budidaya tambak
ramah lingkungan (silvofishery) kini mulai memetik hasil nyata di kawasan
pesisir Kalimantan Utara. Berlokasi di Pulau Mangkasak, Desa Tana Merah,
Kecamatan Tana Lia, Kabupaten Tana Tidung, kelompok nelayan setempat sukses
menyelaraskan kegiatan ekonomi budidaya perikanan dengan upaya pelestarian
hutan mangrove melalui pendampingan program Mangroves for Coastal Resilience
(M4CR).
Salah satu kelompok penerima manfaat, Kelompok Nelayan Mekar Abadi yang diketuai oleh Rustana Syarif, secara konsisten mengelola dan merehabilitasi lahan mangrove seluas 133 hektare di area tambak mereka. Kelompok yang beranggotakan 7 laki-laki dan 6 perempuan ini telah menanam sebanyak 106.400 bibit mangrove jenis Rhizophora sp. dengan alokasi 800 bibit per hektare.
Menggunakan pola tanam silvofishery tipe empang parit terbuka, upaya pemulihan yang dilakukan sejak tahun 2024 tersebut menunjukkan hasil yang sangat memuaskan. Berdasarkan pemantauan dan evaluasi tim M4CR, tingkat keberhasilan tumbuh tanaman mangrove di area tambak tersebut mencapai 86 persen.
Sekolah Lapang: Fondasi Keberlanjutan Ekologi dan Ekonomi
Keberhasilan ini tidak lepas dari pembekalan serta pendampingan intensif yang diterima para warga. Kelompok nelayan diikutsertakan dalam dua program utama, yakni Sekolah Lapang Rehabilitasi Mangrove dan Sekolah Lapang Livelihood.
Lewat Sekolah Lapang Rehabilitasi Mangrove, warga dilatih secara teknis di lapangan mengenai tata cara pembibitan, teknik penanaman, pemantauan berkala, pemeliharaan tanaman, hingga pemulihan sistem hidrologi kawasan. Sementara itu, Sekolah Lapang Livelihood hadir untuk membekali masyarakat dengan keterampilan mata pencaharian alternatif yang ramah lingkungan, pengolahan hasil pesisir, serta penguatan manajemen kelompok usaha agar warga tetap meraih penghasilan tanpa merusak ekosistem pesisir.
Secara akumulatif di Kalimantan Utara, program M4CR telah menyelenggarakan Sekolah Lapang Rehabilitasi Mangrove bagi 114 kelompok masyarakat (pokmas) serta menyalurkan pembekalan Sekolah Lapang Livelihood bagi pokmas dari 3 desa prioritas.
Menjawab Tantangan Budidaya Tambak
Kendati menawarkan potensi ekonomi yang menjanjikan, aktivitas budidaya udang dan ikan bandeng di wilayah pesisir tetap diwarnai berbagai tantangan. Bendahara Kelompok Nelayan Mekar Abadi, Ediyanto, membeberkan realita operasional yang dihadapi para petambak di Pulau Mangkasak.
Menurut Ediyanto, petambak di wilayahnya rata-rata bisa memanen hasil tambak hingga 4 kali dalam setahun, dengan sekali tebar bibit mencapai 300.000 hingga 500.000 ekor. Meski demikian, budidaya udang menghadapi tantangan ancaman predator buaya, risiko penyakit yang menekan tingkat kelangsungan hidup (survival rate) udang hingga berada di angka 40 persen, serta ancaman gagal panen akibat cuaca ekstrem.
"Biaya investasi awal budidaya untuk lahan sekitar 26 hektare bisa menelan Rp15 juta hingga Rp20 juta. Biaya operasional tinggi dan hasil panen kadang masih spekulatif, bahkan kerap mengalami gagal panen 2 sampai 3 kali akibat serangan penyakit," tutur Ediyanto.
Ia menambahkan, setiap kali panen berhasil, kelompoknya memperoleh sekitar 300 kilogram yang dijual ke pengepul lokal dengan kisaran harga Rp105.000 hingga Rp150.000 per kilogram.
Di tengah tingginya ketidakpastian tersebut, kehadiran program M4CR dinilai sangat meringankan beban petambak. M4CR menyalurkan bantuan operasional, bibit mangrove, perlengkapan budidaya, serta infrastruktur penunjang. Selain itu, seiring tumbuhnya pohon mangrove yang dulu rentan tertutup lumpur dan terhempas angin kencang, kini tanaman tersebut justru menjadi pelindung alami dinding tambak yang relatif mudah dirawat dan dijaga kelestariannya.
Komitmen Keberlanjutan dan Alokasi Profit Sosial
Kesadaran akan pentingnya mangrove juga memicu komitmen berkelanjutan dari kelompok masyarakat lain di Desa Tana Merah. Anas Tahir, Ketua Kelompok Masyarakat Tunas Abadi Jaya, menyatakan komitmen kelompoknya untuk menyisihkan sebagian keuntungan dari usaha budidaya demi mendukung kegiatan pelestarian mangrove dan aksi sosial secara berkala.
Pokmas Tunas Abadi Jaya sendiri telah menyelesaikan penanaman 104.000 bibit mangrove di lahan seluas 133 hektare dengan skema silvofishery. Sinergi antara pemerintah, M4CR, dan kelompok masyarakat ini membuktikan bahwa keberadaan hutan mangrove yang lestari bukan merupakan penghambat usaha perikanan, melainkan benteng pelindung dan penopang kesejahteraan ekonomi pesisir di masa depan.
Salah satu kelompok penerima manfaat, Kelompok Nelayan Mekar Abadi yang diketuai oleh Rustana Syarif, secara konsisten mengelola dan merehabilitasi lahan mangrove seluas 133 hektare di area tambak mereka. Kelompok yang beranggotakan 7 laki-laki dan 6 perempuan ini telah menanam sebanyak 106.400 bibit mangrove jenis Rhizophora sp. dengan alokasi 800 bibit per hektare.
Menggunakan pola tanam silvofishery tipe empang parit terbuka, upaya pemulihan yang dilakukan sejak tahun 2024 tersebut menunjukkan hasil yang sangat memuaskan. Berdasarkan pemantauan dan evaluasi tim M4CR, tingkat keberhasilan tumbuh tanaman mangrove di area tambak tersebut mencapai 86 persen.
Sekolah Lapang: Fondasi Keberlanjutan Ekologi dan Ekonomi
Keberhasilan ini tidak lepas dari pembekalan serta pendampingan intensif yang diterima para warga. Kelompok nelayan diikutsertakan dalam dua program utama, yakni Sekolah Lapang Rehabilitasi Mangrove dan Sekolah Lapang Livelihood.
Lewat Sekolah Lapang Rehabilitasi Mangrove, warga dilatih secara teknis di lapangan mengenai tata cara pembibitan, teknik penanaman, pemantauan berkala, pemeliharaan tanaman, hingga pemulihan sistem hidrologi kawasan. Sementara itu, Sekolah Lapang Livelihood hadir untuk membekali masyarakat dengan keterampilan mata pencaharian alternatif yang ramah lingkungan, pengolahan hasil pesisir, serta penguatan manajemen kelompok usaha agar warga tetap meraih penghasilan tanpa merusak ekosistem pesisir.
Secara akumulatif di Kalimantan Utara, program M4CR telah menyelenggarakan Sekolah Lapang Rehabilitasi Mangrove bagi 114 kelompok masyarakat (pokmas) serta menyalurkan pembekalan Sekolah Lapang Livelihood bagi pokmas dari 3 desa prioritas.
Menjawab Tantangan Budidaya Tambak
Kendati menawarkan potensi ekonomi yang menjanjikan, aktivitas budidaya udang dan ikan bandeng di wilayah pesisir tetap diwarnai berbagai tantangan. Bendahara Kelompok Nelayan Mekar Abadi, Ediyanto, membeberkan realita operasional yang dihadapi para petambak di Pulau Mangkasak.
Menurut Ediyanto, petambak di wilayahnya rata-rata bisa memanen hasil tambak hingga 4 kali dalam setahun, dengan sekali tebar bibit mencapai 300.000 hingga 500.000 ekor. Meski demikian, budidaya udang menghadapi tantangan ancaman predator buaya, risiko penyakit yang menekan tingkat kelangsungan hidup (survival rate) udang hingga berada di angka 40 persen, serta ancaman gagal panen akibat cuaca ekstrem.
"Biaya investasi awal budidaya untuk lahan sekitar 26 hektare bisa menelan Rp15 juta hingga Rp20 juta. Biaya operasional tinggi dan hasil panen kadang masih spekulatif, bahkan kerap mengalami gagal panen 2 sampai 3 kali akibat serangan penyakit," tutur Ediyanto.
Ia menambahkan, setiap kali panen berhasil, kelompoknya memperoleh sekitar 300 kilogram yang dijual ke pengepul lokal dengan kisaran harga Rp105.000 hingga Rp150.000 per kilogram.
Di tengah tingginya ketidakpastian tersebut, kehadiran program M4CR dinilai sangat meringankan beban petambak. M4CR menyalurkan bantuan operasional, bibit mangrove, perlengkapan budidaya, serta infrastruktur penunjang. Selain itu, seiring tumbuhnya pohon mangrove yang dulu rentan tertutup lumpur dan terhempas angin kencang, kini tanaman tersebut justru menjadi pelindung alami dinding tambak yang relatif mudah dirawat dan dijaga kelestariannya.
Komitmen Keberlanjutan dan Alokasi Profit Sosial
Kesadaran akan pentingnya mangrove juga memicu komitmen berkelanjutan dari kelompok masyarakat lain di Desa Tana Merah. Anas Tahir, Ketua Kelompok Masyarakat Tunas Abadi Jaya, menyatakan komitmen kelompoknya untuk menyisihkan sebagian keuntungan dari usaha budidaya demi mendukung kegiatan pelestarian mangrove dan aksi sosial secara berkala.
Pokmas Tunas Abadi Jaya sendiri telah menyelesaikan penanaman 104.000 bibit mangrove di lahan seluas 133 hektare dengan skema silvofishery. Sinergi antara pemerintah, M4CR, dan kelompok masyarakat ini membuktikan bahwa keberadaan hutan mangrove yang lestari bukan merupakan penghambat usaha perikanan, melainkan benteng pelindung dan penopang kesejahteraan ekonomi pesisir di masa depan.
News
View MoreOur Services
Sonora Education And Talent Management
Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Research Solution
Your Research Solution for Comprehensive Coverage, Reliable Sources, and Diverse Perspectives