Program M4CR Tingkatkan Produktivitas Petambak dan UMKM di Tana Tidung, Kaltara
03 November 2026 22:47 WIB
Yudi Samadi
Photo: Direktur Eksekutif M4CR, M. Zainal Arifin bersama seluruh pemangku kepentingan Rehabilitasi Mangrove di Kabupaten Tana Tidung memperagakan Salam Lestari usai sesi diskusi dalam Media Gathering M4CR di Desa Tanah Merah (03/111)
TANA TIDUNG, SONORA.CO.ID – Program rehabilitasi
mangrove Mangrove for Coastal Resilience (M4CR) di Desa Tana Merah,
Kecamatan Tana Lia, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara, tidak hanya
berfokus pada perbaikan ekosistem pesisir, tetapi juga membawa dampak positif
bagi perekonomian warga lokal.
Melalui kegiatan media gathering pada Selasa (3/11/2026), rombongan media meninjau langsung lokasi tambak warga yang diajak kembali menanam pohon mangrove sejak tahun 2024.
Camat Tana Lia, Arbain Padilah, S.IP, menyampaikan apresiasi mendalam atas hadirnya program M4CR yang dinilai komprehensif dari hulu ke hilir dalam membantu masyarakat setempat. Menurutnya, ratusan hektar lahan tambak yang ditanami mangrove dengan pendampingan M4CR kini sudah mulai menunjukkan hasil nyata.
"Ada peningkatan produktivitas yang disampaikan warganya. Ini menunjukkan bahwa skema program M4CR telah berhasil mendatangkan keuntungan secara ekonomi, melibatkan langsung warga setempat, dan secara jangka panjang akan berdampak positif pada lingkungan," ujar Arbain.
Selain pendampingan silvofishery atau integrasi tambak dengan penanaman mangrove, M4CR juga menyalurkan bantuan pendanaan bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal. Di Desa Tana Merah, dukungan diberikan pada pengembangan olahan pangan Stick Tudai serta usaha ayam petelur.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) Kementerian Kehutanan sekaligus Direktur Eksekutif M4CR, Muhammad Zainal Arifin, menegaskan bahwa penanganan mangrove harus berjalan seiring dengan pemberdayaan ekonomi.
"Kemenhut ingin menyukseskan kegiatan rehabilitasi mangrove tidak hanya fokus pada penanaman, tetapi juga pada pengembangan industri kecil yang dimiliki masyarakat setempat. Bantuan ini diharapkan dapat dikembangkan ke bidang lain agar semakin banyak masyarakat yang produktif dan berdaya," ungkap Zainal.
Zainal menambahkan, meskipun pendanaan proyek M4CR secara formal akan berakhir pada tahun 2027, manfaatnya harus tetap dirasakan secara berkelanjutan melalui komitmen serta kolaborasi masyarakat.
Melihat dampak positif yang nyata terhadap penghasilan sehari-hari, para petambak dan pelaku UMKM penerima manfaat menyuarakan harapan besar agar program pendampingan ini dapat terus berlanjut. Mereka merasa keberadaan fasilitas pendana serta bimbingan teknis dari M4CR sangat krusial dalam menopang stabilitas usaha yang baru berkembang.
Para warga dan nelayan setempat menyuarakan keinginan agar durasi pelaksanaan proyek M4CR diperpanjang dan tidak berhenti pada 2027 mendatang. Keberlanjutan program dinilai sangat penting untuk memastikan ekosistem tambak mangrove dapat matang sempurna sekaligus memperluas jangkauan bantuan ekonomi ke lebih banyak kelompok masyarakat.
Melalui kegiatan media gathering pada Selasa (3/11/2026), rombongan media meninjau langsung lokasi tambak warga yang diajak kembali menanam pohon mangrove sejak tahun 2024.
Camat Tana Lia, Arbain Padilah, S.IP, menyampaikan apresiasi mendalam atas hadirnya program M4CR yang dinilai komprehensif dari hulu ke hilir dalam membantu masyarakat setempat. Menurutnya, ratusan hektar lahan tambak yang ditanami mangrove dengan pendampingan M4CR kini sudah mulai menunjukkan hasil nyata.
"Ada peningkatan produktivitas yang disampaikan warganya. Ini menunjukkan bahwa skema program M4CR telah berhasil mendatangkan keuntungan secara ekonomi, melibatkan langsung warga setempat, dan secara jangka panjang akan berdampak positif pada lingkungan," ujar Arbain.
Selain pendampingan silvofishery atau integrasi tambak dengan penanaman mangrove, M4CR juga menyalurkan bantuan pendanaan bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal. Di Desa Tana Merah, dukungan diberikan pada pengembangan olahan pangan Stick Tudai serta usaha ayam petelur.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) Kementerian Kehutanan sekaligus Direktur Eksekutif M4CR, Muhammad Zainal Arifin, menegaskan bahwa penanganan mangrove harus berjalan seiring dengan pemberdayaan ekonomi.
"Kemenhut ingin menyukseskan kegiatan rehabilitasi mangrove tidak hanya fokus pada penanaman, tetapi juga pada pengembangan industri kecil yang dimiliki masyarakat setempat. Bantuan ini diharapkan dapat dikembangkan ke bidang lain agar semakin banyak masyarakat yang produktif dan berdaya," ungkap Zainal.
Zainal menambahkan, meskipun pendanaan proyek M4CR secara formal akan berakhir pada tahun 2027, manfaatnya harus tetap dirasakan secara berkelanjutan melalui komitmen serta kolaborasi masyarakat.
Melihat dampak positif yang nyata terhadap penghasilan sehari-hari, para petambak dan pelaku UMKM penerima manfaat menyuarakan harapan besar agar program pendampingan ini dapat terus berlanjut. Mereka merasa keberadaan fasilitas pendana serta bimbingan teknis dari M4CR sangat krusial dalam menopang stabilitas usaha yang baru berkembang.
Para warga dan nelayan setempat menyuarakan keinginan agar durasi pelaksanaan proyek M4CR diperpanjang dan tidak berhenti pada 2027 mendatang. Keberlanjutan program dinilai sangat penting untuk memastikan ekosistem tambak mangrove dapat matang sempurna sekaligus memperluas jangkauan bantuan ekonomi ke lebih banyak kelompok masyarakat.
News
View MoreOur Services
Sonora Education And Talent Management
Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Research Solution
Your Research Solution for Comprehensive Coverage, Reliable Sources, and Diverse Perspectives