Karyawan Terbaik Belum Tentu Jadi Atasan Terbaik, Ini 4 Tandanya
20 Oktober 2026 15:16 WIB
Yudi Samadi
Photo: Coach Yudi Candra dalam sebuah kegiatan pelatihan (sumber: Dokumentasi pribadi Yudi Cabdra)
Ada satu pola promosi yang hampir selalu sama di bisnis yang dipimpin langsung oleh pemiliknya. Sales dengan omzet tertinggi diangkat jadi kepala sales. Admin paling teliti jadi kepala administrasi. Alasannya masuk akal. Dia yang paling paham pekerjaannya, dan dia memang layak dihargai.
Enam bulan kemudian, ceritanya sering berbeda. Omzet tim tidak naik. Tim yang dulu jalan sendiri kini berhenti bergerak, menunggu arahan. Kepala sales yang dulu bersinar terlihat lelah, lebih sering menutup deal sendirian.
Pemilik bisnis lalu menyimpulkan bahwa dia memang tidak cocok memimpin. Atau yang lebih sering terdengar: anak zaman sekarang gampang resign.
Dua kesimpulan itu melewatkan hal yang paling penting.
Satu Kasus dari Jawa Barat
Sekitar beberapa tahun lalu saya mendampingi sebuah perusahaan kopi di Jawa Barat. Sales terbaik mereka baru saja diangkat jadi supervisor. Dari sisi perusahaan, keputusan itu jelas, dia yang paling kuat, terbaik di lapangan.
Yang tidak dibicarakan sebelumnya: dia sendiri tidak menginginkan posisi itu. Tanggung jawabnya jauh lebih besar, dan sekarang dia harus mengurus orang, bukan mengurus pelanggan. Yang paling terasa, penghasilannya justru berkurang. Sebagai sales dia dapat komisi dari setiap penjualan. Sebagai supervisor, komisinya terbagi bagi. Jadi dia dinaikkan jabatannya dan diturunkan penghasilannya, lalu diminta memimpin tim dengan tanggung jawab dan semangat lebih.
Yang terjadi ,Timnya diurus di awal awal saja, lalu pelan-pelan ditinggal karena perhatiannya tersedot ke jualan, ke client dia sendiri. Tim akhirnya seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Masih ada, masih berangkat kerja, tapi tidak tahu harus ikut siapa, tanpa arahan, tanpa pelatihan.
Jebakan Promosi Teknis
Saya menyebutnya jebakan promosi teknis: perusahaan mempromosikan seseorang karena hebat mengerjakan tugas, lalu berharap dia otomatis hebat membuat orang lain mengerjakan tugas.
Dua kemampuan itu berbeda jauh. Sales hebat menang karena dia sendiri yang bergerak. Kepala sales menang karena timnya yang bergerak. Perpindahan dari mengerjakan sendiri ke memastikan orang lain mengerjakan adalah lompatan terbesar dalam karier seseorang, dan hampir selalu dilakukan tanpa persiapan.
Dalam ilmu manajemen ada istilahnya, Peter Principle. Orang terus dipromosikan sampai tiba di posisi yang sudah di luar kemampuannya. Bagian yang jarang dibahas: itu bukan salah orangnya. Itu salah perusahaan yang memindahkan orang ke pekerjaan baru tanpa pernah di training.
Ada lapisan kedua yang lebih sering terlewat. Promosi tidak hanya mengubah pekerjaan, tapi juga mengubah cara orang itu dibayar. Di banyak perusahaan, posisi lapangan punya komisi sementara posisi supervisor tidak, atau terbagi dengan tim yang di pimpinnya. Artinya orang yang naik justru kehilangan bagian penghasilan yang paling dia andalkan.
Kalau sudah begitu, wajar dia diam-diam kembali ke pekerjaan lamanya. Menutup deal sendiri bukan karena dia tidak paham perannya. Di situlah uangnya.
Yang Menanggung Akibatnya adalah Tim
Di perusahaan kecil dan menengah, budaya kerja tidak dibentuk oleh poster visi misi. Budaya dibentuk oleh atasan langsung, setiap hari, lewat cara dia menegur dan cara dia membagi pekerjaan. Karyawan tidak merasakan "perusahaan". Mereka merasakan atasannya.
Ironisnya, lapisan inilah yang paling jarang dikembangkan. Survei PwC Hopes and Fears 2025, yang melibatkan sekitar 800 pekerja Indonesia sebagai bagian dari hampir 50 ribu pekerja di 48 negara, menemukan sekitar 90% pemimpin di Indonesia mempelajari keterampilan baru yang membantu karier mereka dalam setahun terakhir. Di sisi lain, hanya 62% karyawan level staf yang merasa didukung atasannya untuk membangun keterampilan baru. Persepsi dukungan itu bahkan turun 16% dibanding tahun sebelumnya.
Ada satu angka lagi yang lebih tajam. Sebanyak 82% pemimpin di Indonesia memahami tujuan jangka panjang organisasinya, tapi hanya 56% karyawan level staf yang percaya atasan mereka mampu memimpin untuk mencapai tujuan itu. Hampir separuh karyawan bekerja di bawah orang yang mereka ragukan kemampuannya memimpin.
Sebagian pembaca tulisan ini mungkin bukan pemilik bisnis, melainkan supervisor yang baru naik dan sedang kewalahan. Kalau timnya terasa berat, itu bukan bukti Anda salah orang. Itu tanda Anda dipindahkan ke pekerjaan baru tanpa dibekali.
Empat Tanda Supervisor Belum Siap Memimpin
Gejalanya biasanya muncul dalam tiga sampai enam bulan pertama.
Masih mengerjakan sendiri pekerjaan tim. Alasannya selalu sama, lebih cepat kalau dia yang kerjakan. Ini tanda dia belum pindah dari peran pelaku ke peran pemimpin.
Timnya menunggu dia untuk keputusan kecil. Kalau semua hal harus lewat dia, dia sudah jadi bottleneck. Tim berhenti berpikir sendiri.
Menegur tanpa memberi arah perbaikan. Standarnya tinggi dan dia tahu persis apa yang salah. Tapi dia belum bisa menerjemahkan standar itu jadi arahan yang bisa diikuti orang lain. Survei PwC mencatat hanya 1 dari 2 karyawan Gen Z merasa bisa bicara terbuka dengan atasannya.
Target pribadinya tercapai, target timnya tidak. Ini tanda paling jelas. Dia masih mengukur keberhasilan dari dirinya sendiri.
Kalau dua tanda muncul bersamaan, masalahnya hampir pasti bukan niat. Dia hanya belum pernah dipersiapkan, atau tidak pernah benar-benar menginginkan posisi itu.
Blindspot Pemilik Bisnis
Ada satu hal yang tidak nyaman untuk diakui.
Supervisor meniru gaya pemimpin yang dia lihat setiap hari, yaitu pemilik bisnisnya sendiri. Kalau pemilik terbiasa turun tangan mengerjakan semuanya, supervisor akan melakukan hal yang persis sama.
Banyak pemilik bisnis juga tidak pernah dilatih memimpin. Dia berhasil karena kerja keras dan insting. Lalu tanpa sadar dia mempromosikan orang yang paling mirip dirinya, dan berharap hasilnya sama.
Akhir Cerita yang Tadi
Sales dari perusahaan kopi itu akhirnya bicara terus terang dalam sesi coaching. Dia minta kembali jadi sales.
Alasannya jelas. Dia merasa memang bagus di penjualan, dan di sana penghasilannya dia sendiri yang mengatur. Sebagai supervisor dia tidak bisa fokus jualan, sementara waktunya habis mengurus orang.
Perusahaan sempat ragu. Mengembalikan orang ke posisi lama terasa seperti mengakui kegagalan. Padahal yang terjadi sebaliknya. Mereka mendapat kembali sales terbaiknya, dan berhenti memaksa seseorang menjalani pekerjaan yang tidak dia inginkan.
Yang Bisa Diubah
Buka jalur karier untuk spesialis. Tidak semua orang hebat harus jadi atasan, dan tidak semua orang ingin. Sales terbaik bisa tumbuh jadi senior sales dengan penghasilan lebih tinggi tanpa memimpin tim. Pastikan juga struktur gajinya tidak menghukum orang yang naik jabatan.
Tanyakan dulu, jangan langsung umumkan. Promosi sering disampaikan sebagai kabar baik yang tidak bisa ditolak. Padahal pertanyaan sederhana, apakah dia memang ingin memimpin, bisa menyelamatkan dua orang sekaligus.
Latih sebelum promosi, bukan sesudah. Beri calon supervisor tanggung jawab memimpin dalam skala kecil, misalnya satu proyek atau dua orang junior, sambil dibekali cara memberi arahan dan menegur tanpa merusak hubungan kerja. Investasinya terbayar: PwC mencatat pekerja yang merasa didukung mengembangkan keterampilan 73% lebih termotivasi.
Ukur supervisor dari timnya. Pantau turnover, kecepatan keputusan, dan berapa banyak pekerjaan yang jalan tanpa dia.
Kalau di perusahaan Anda ada supervisor yang sedang kesulitan, ada dua pertanyaan yang perlu dijawab sebelum menyimpulkan dia salah orang. Siapa yang pernah mengajarinya memimpin? Dan apakah dia memang menginginkannya?
======
Artikel ditulis oleh: Coach Yudi Candra adalah Business Blindspot Strategist yang mendampingi pemilik bisnis Indonesia sejak 2012. Ia menjalankan program in-house training kepemimpinan, manajemen perubahan, dan penyelarasan nilai untuk perusahaan swasta dan BUMN. Selama 2019 hingga 2025 ia menjadi narasumber tetap acara Business Insight Sonora. Informasi program: https://coachyudicandra.com/in-house-training
======
Artikel ditulis oleh: Coach Yudi Candra adalah Business Blindspot Strategist yang mendampingi pemilik bisnis Indonesia sejak 2012. Ia menjalankan program in-house training kepemimpinan, manajemen perubahan, dan penyelarasan nilai untuk perusahaan swasta dan BUMN. Selama 2019 hingga 2025 ia menjadi narasumber tetap acara Business Insight Sonora. Informasi program: https://coachyudicandra.com/in-house-training
News
View MoreOur Services
Sonora Education And Talent Management
Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Research Solution
Your Research Solution for Comprehensive Coverage, Reliable Sources, and Diverse Perspectives