Pameran Seni Rupa 100 Tahun Ali Sadikin, Pemprov Jakarta Dorong Taman Ismail Marzuki Terus Jaring Seniman
03 September 2026 12:34 WIB
Lia Muspiroh
Photo: Press Conference TIM Bersama Panitia Pameran Seni Rupa 100 Tahun Ali Sadikin. Sumber: Lia Muspiroh
Sonora.co.id, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendorong Taman Ismail Marzuki (TIM) terus memperkuat perannya sebagai ruang seni yang tidak hanya menghadirkan pertunjukan dan kegiatan kebudayaan, tetapi juga menjadi tempat bertemu, berinteraksi, dan membangun jejaring bagi para seniman dari berbagai daerah hingga mancanegara.
Head of SBU TIM, PT Jakarta Propertindo (Perseroda) atau Jakpro, Anya Aprilia mengatakan ekosistem ini semakin diperkuat dengan kehadiran Paviliun Raden Saleh (PRS) yang menjadi bagian penting dalam mendukung aktivitas dan kebutuhan para seniman yang berkunjung ke TIM.
“PRS dirancang dengan memperhatikan karakteristik TIM sebagai salah satu ruang berkumpulnya para seniman. Kehadiran fasilitas tersebut memungkinkan seniman dari luar Jakarta, bahkan dari luar negeri, mendapatkan tempat yang mendukung selama berkegiatan di kawasan TIM," Ujar Anya kepada wartawan, Rabu (02/09/2026).
Anya merinci, kunjungan ke TIM terus bertambah. Dari tahun 2024 mencapai 1 juta pengunjung, tahun 2025 sebanyak 1,5 juta pengunjung. Sementara tahun 2026, Ia memprediksi sampai akhir tahun akan mencapai 2 juta pengunjung. Untuk mencapai jumlah kunjungan itu, Anya menyebut kolaborasi dengan berbagai komunitas, seniman, dan lainnya terus dilakukan agar kegiatan di TIM tetap hidup.
"Hingga Agustus 2026 sebanyak 900.000 pengunjung, sampai dengan akhir tahun kemungkinan akan mencapai 2 juta kunjungan yang datang ke TIM. Untuk mencapai itu kami berkolaborasi dengan berbagai komunitas, seniman, ada 700 event yang terselenggaran di TIM dalam satu tahun." Jelas Anya.
Salah satu agenda kolaborasi antara Jakpro dan seniman di TIM yaitu penyelenggaraan Pameran Seni Rupa “100 Tahun Ali Sadikin: Memoria dan Utopia Jakarta.” Pameran ini akan berlangsung di Selasar Nashar, Paviliun Raden Saleh, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, mulai 20 November hingga 10 Desember 2026, dan dikuratori oleh Syakieb Sungkar. Mengusung semangat mengenang warisan sekaligus menggagas masa depan Jakarta sebagai kota seni dan kota budaya, pameran ini menghadirkan karya dari 35 seniman partisipan yang datang dari tiga kota, yaitu Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.
Kurator pameran, Hairus Salim, mengatakan pameran seni rupa dalam rangka memperingati 100 tahun Ali Sadikin menjadi momentum untuk mengenang sosok salah satu Gubernur DKI Jakarta yang dikenal terbuka terhadap masukan dari para seniman. Menurut Hairus, semangat Ali Sadikin saat memimpin Jakarta tidak hanya menjadikan Jakarta sebagai kota metropolitan, tetapi juga sebagai kota yang memiliki kehidupan budaya yang kuat.
“Hal penting dari peran Ali Sadikin adalah bagaimana beliau mengembangkan Jakarta sebagai kota kebudayaan,” kata Hairus.
Sementara itu, kurator lainnya, Syakieb Sungkar, mengatakan Pameran Seni Rupa 100 Tahun Ali Sadikin merupakan karya sejarah yang dibangun melalui arsip. Arsip tersebut menjadi pijakan bagi para seniman untuk melihat kembali berbagai peristiwa dan dinamika pembangunan Jakarta pada masa Ali Sadikin.
“Lukisan-lukisan ini menceritakan aspek paradoksal dari pembangunan itu sendiri,” ujar Syakieb.
Karena itu, kata Syakieb, para seniman yang dilibatkan dipilih berdasarkan kemampuan mereka dalam mengolah tema sejarah dan pembangunan melalui pendekatan realis maupun karikaturis. Para seniman tersebut juga merupakan perupa yang telah dikenal luas melalui karya-karya mereka. Pameran ini diharapkan tidak hanya menjadi ruang untuk mengenang sosok Ali Sadikin, tetapi juga mengajak masyarakat melihat kembali perjalanan Jakarta melalui perspektif seni. Dengan pendekatan berbasis arsip, sejarah Jakarta dihadirkan dalam bentuk karya visual yang lebih dekat dan mudah dipahami oleh publik.
Head of SBU TIM, PT Jakarta Propertindo (Perseroda) atau Jakpro, Anya Aprilia mengatakan ekosistem ini semakin diperkuat dengan kehadiran Paviliun Raden Saleh (PRS) yang menjadi bagian penting dalam mendukung aktivitas dan kebutuhan para seniman yang berkunjung ke TIM.
“PRS dirancang dengan memperhatikan karakteristik TIM sebagai salah satu ruang berkumpulnya para seniman. Kehadiran fasilitas tersebut memungkinkan seniman dari luar Jakarta, bahkan dari luar negeri, mendapatkan tempat yang mendukung selama berkegiatan di kawasan TIM," Ujar Anya kepada wartawan, Rabu (02/09/2026).
Anya merinci, kunjungan ke TIM terus bertambah. Dari tahun 2024 mencapai 1 juta pengunjung, tahun 2025 sebanyak 1,5 juta pengunjung. Sementara tahun 2026, Ia memprediksi sampai akhir tahun akan mencapai 2 juta pengunjung. Untuk mencapai jumlah kunjungan itu, Anya menyebut kolaborasi dengan berbagai komunitas, seniman, dan lainnya terus dilakukan agar kegiatan di TIM tetap hidup.
"Hingga Agustus 2026 sebanyak 900.000 pengunjung, sampai dengan akhir tahun kemungkinan akan mencapai 2 juta kunjungan yang datang ke TIM. Untuk mencapai itu kami berkolaborasi dengan berbagai komunitas, seniman, ada 700 event yang terselenggaran di TIM dalam satu tahun." Jelas Anya.
Salah satu agenda kolaborasi antara Jakpro dan seniman di TIM yaitu penyelenggaraan Pameran Seni Rupa “100 Tahun Ali Sadikin: Memoria dan Utopia Jakarta.” Pameran ini akan berlangsung di Selasar Nashar, Paviliun Raden Saleh, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, mulai 20 November hingga 10 Desember 2026, dan dikuratori oleh Syakieb Sungkar. Mengusung semangat mengenang warisan sekaligus menggagas masa depan Jakarta sebagai kota seni dan kota budaya, pameran ini menghadirkan karya dari 35 seniman partisipan yang datang dari tiga kota, yaitu Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.
Kurator pameran, Hairus Salim, mengatakan pameran seni rupa dalam rangka memperingati 100 tahun Ali Sadikin menjadi momentum untuk mengenang sosok salah satu Gubernur DKI Jakarta yang dikenal terbuka terhadap masukan dari para seniman. Menurut Hairus, semangat Ali Sadikin saat memimpin Jakarta tidak hanya menjadikan Jakarta sebagai kota metropolitan, tetapi juga sebagai kota yang memiliki kehidupan budaya yang kuat.
“Hal penting dari peran Ali Sadikin adalah bagaimana beliau mengembangkan Jakarta sebagai kota kebudayaan,” kata Hairus.
Sementara itu, kurator lainnya, Syakieb Sungkar, mengatakan Pameran Seni Rupa 100 Tahun Ali Sadikin merupakan karya sejarah yang dibangun melalui arsip. Arsip tersebut menjadi pijakan bagi para seniman untuk melihat kembali berbagai peristiwa dan dinamika pembangunan Jakarta pada masa Ali Sadikin.
“Lukisan-lukisan ini menceritakan aspek paradoksal dari pembangunan itu sendiri,” ujar Syakieb.
Karena itu, kata Syakieb, para seniman yang dilibatkan dipilih berdasarkan kemampuan mereka dalam mengolah tema sejarah dan pembangunan melalui pendekatan realis maupun karikaturis. Para seniman tersebut juga merupakan perupa yang telah dikenal luas melalui karya-karya mereka. Pameran ini diharapkan tidak hanya menjadi ruang untuk mengenang sosok Ali Sadikin, tetapi juga mengajak masyarakat melihat kembali perjalanan Jakarta melalui perspektif seni. Dengan pendekatan berbasis arsip, sejarah Jakarta dihadirkan dalam bentuk karya visual yang lebih dekat dan mudah dipahami oleh publik.
News
View MoreOur Services
Sonora Education And Talent Management
Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Research Solution
Your Research Solution for Comprehensive Coverage, Reliable Sources, and Diverse Perspectives