Lungsuran dan Recycle, Tetap Modis Tetap Ekologis
30 Oktober 2026 22:39 WIB
Lia Muspiroh
Photo: Foto dirilis Minggu (16/2/2020), memperlihatkan pekerja memilah limbah sisa kain di tempat pengepul limbah tekstil, Jakarta. Sumber: ANTARA Foto/Muhammad Adimaja
Sonora.co.id, Pernahkah kamu menyusuri jejak pakaian kita berakhir di mana? Atau bagaimana akhir dari semua pakaian yang sudah tidak kita pakai? Atau, berapa banyak pakaian yang dipakai dalam satu hari? dalam satu tahun?
Dunia fashion amat lekat dengan perubahan, mode baru yang terus bermunculan, dinamika gaya, hingga ekspresi diri, produksi fast fashion makin bervariatif. Hal itu bisa dilihat dari semakin mudahnya membeli dan berganti pakaian dalam satu waktu yang sama.
Meski jauh dari riuhnya Ibu Kota, keluarga Winda di Padang Sumatera Barat tetap berupaya menjaga keberlangsungan lingkungan melalui pakaian. Winda menyumbangkan pakaian yang sudah tak bisa dipakainya pada keluarga atau orang terdekat.
"Kalau sudah tidak dipakai, aku kasih ke saudara, jadi turun temurun. Kalaupun gak ke saudara bisa ke tetangga atau sekitar rumah. Kalau masih layak pakai, didonasikan. Jadi gak dibuang." Ucap Winda pada Sonora, Jumat (30/10/2026).
Selain melungsurkan pakaiannya, Winda dan keluarganya juga melakukan recycle. Baik baju, celana, atau bahan kain yang masih bisa dipadukan untuk digunakan kembali.
"Ada beberapa yang di-recycle, terutama karena orangtua punya mesin jahit. Misalnya ada celana yang udah robek bagian apanya, bagian pahanya misalnya, sama orangtuaku dijahit. Digabungin sama bahan-bahan lain tapi sama pattern warna atau bahannya yang nyambung, jadi masih tetep oke dan bagus. Dipadukan sama daster, misalnya." Jelas Winda.
Meski demikian, Winda masih bisa berganti pakaian sebanyak tiga kali dalam sehari. Berganti dengan pakaian yang sudah ada dan masih bisa dikenakan, meski usia pakaiannya sudah bertahun-tahun.
"Sehari bisa dua sampai tiga kali ganti pakaian. Pagi pakai baju kerja, pulang ganti pakai baju rumah bisa kaos yang nyaman. Tapi kalau hari itu padat banget, gerah banget, itu bisa tiga kali ganti pakaian. Satu baju bisa dipakai lama banget. Baju dari mamaku zaman dulu juga masih aku pakai. Baju SMA ku aja masih ada sampai sekarang, dilungsurin." Paparnya.
"Dalam setahun bisa aja beli baju baru dua sampai tiga pakaian, itu pun banyaknya baju kerja. Justru lebaran yang tidak selalu beli baju baru" Tambahnya.
Hak itu bisa turut membantu mengurangi sampah fashion di Indonesia. Data sampah nasional Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2025 menunjukkan 2,59% total sampah di Indonesia merupakan sampah tekstil. Secara global, sekitar 92 juta ton sampah tekstil dihasilkan setiap tahun atau setara dengan 1 truk setiap detik. Sementara itu, di Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta juga memiliki catatan sampah fashion. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencatatkan komposisi sampah kain sebesar 0,9%.
"Ini adalah efek banyaknya tren outfit yang instan. Makanya, pakaian bisa lebih cepat jadi sampah dan berbahaya bagi lingkungan" tulis @dkijakarta melalui instagramnya.
Dunia fashion amat lekat dengan perubahan, mode baru yang terus bermunculan, dinamika gaya, hingga ekspresi diri, produksi fast fashion makin bervariatif. Hal itu bisa dilihat dari semakin mudahnya membeli dan berganti pakaian dalam satu waktu yang sama.
Meski jauh dari riuhnya Ibu Kota, keluarga Winda di Padang Sumatera Barat tetap berupaya menjaga keberlangsungan lingkungan melalui pakaian. Winda menyumbangkan pakaian yang sudah tak bisa dipakainya pada keluarga atau orang terdekat.
"Kalau sudah tidak dipakai, aku kasih ke saudara, jadi turun temurun. Kalaupun gak ke saudara bisa ke tetangga atau sekitar rumah. Kalau masih layak pakai, didonasikan. Jadi gak dibuang." Ucap Winda pada Sonora, Jumat (30/10/2026).
Selain melungsurkan pakaiannya, Winda dan keluarganya juga melakukan recycle. Baik baju, celana, atau bahan kain yang masih bisa dipadukan untuk digunakan kembali.
"Ada beberapa yang di-recycle, terutama karena orangtua punya mesin jahit. Misalnya ada celana yang udah robek bagian apanya, bagian pahanya misalnya, sama orangtuaku dijahit. Digabungin sama bahan-bahan lain tapi sama pattern warna atau bahannya yang nyambung, jadi masih tetep oke dan bagus. Dipadukan sama daster, misalnya." Jelas Winda.
Meski demikian, Winda masih bisa berganti pakaian sebanyak tiga kali dalam sehari. Berganti dengan pakaian yang sudah ada dan masih bisa dikenakan, meski usia pakaiannya sudah bertahun-tahun.
"Sehari bisa dua sampai tiga kali ganti pakaian. Pagi pakai baju kerja, pulang ganti pakai baju rumah bisa kaos yang nyaman. Tapi kalau hari itu padat banget, gerah banget, itu bisa tiga kali ganti pakaian. Satu baju bisa dipakai lama banget. Baju dari mamaku zaman dulu juga masih aku pakai. Baju SMA ku aja masih ada sampai sekarang, dilungsurin." Paparnya.
"Dalam setahun bisa aja beli baju baru dua sampai tiga pakaian, itu pun banyaknya baju kerja. Justru lebaran yang tidak selalu beli baju baru" Tambahnya.
Hak itu bisa turut membantu mengurangi sampah fashion di Indonesia. Data sampah nasional Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2025 menunjukkan 2,59% total sampah di Indonesia merupakan sampah tekstil. Secara global, sekitar 92 juta ton sampah tekstil dihasilkan setiap tahun atau setara dengan 1 truk setiap detik. Sementara itu, di Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta juga memiliki catatan sampah fashion. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencatatkan komposisi sampah kain sebesar 0,9%.
"Ini adalah efek banyaknya tren outfit yang instan. Makanya, pakaian bisa lebih cepat jadi sampah dan berbahaya bagi lingkungan" tulis @dkijakarta melalui instagramnya.
News
View MoreOur Services
Sonora Education And Talent Management
Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Research Solution
Your Research Solution for Comprehensive Coverage, Reliable Sources, and Diverse Perspectives