BUMD Jakarta Perkuat Tata Kelola dan Perluas Layanan UMKM
30 Oktober 2026 16:47 WIB
Lia Muspiroh
Photo: Istimewa
Sonora.co.id, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Jakarta berupaya memperkuat tata kelola dan memperluas layanan Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM). Salah satunya adalah Bank Jakarta yang memperluas akses layanan perbankan bagi UMKM. Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H Widodo mengatakan langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di Ibu Kota.
“Bisnis bank itu adalah bisnis kepercayaan. Supaya bank ini bisa dipercaya, tata kelola sudah menjadi hal yang wajib dan itu terus-menerus kita bangun,” kata Agus usai diskusi bersama Lintas Generasi Aktivis (LIGA) Pro Jakarta di Jakarta Pusat, Kamis (29/10/2026).
Dalam diskusi tersebut, Agus menjelaskan, penguatan tata kelola dilakukan melalui sejumlah langkah, mulai dari peningkatan kepatuhan, pengelolaan risiko, hingga penguatan sistem pengendalian internal. Menurutnya, seluruh aspek tersebut harus berjalan secara konsisten agar operasional perbankan tetap sehat, transparan, dan akuntabel.
Agus menyebutkan, terdapat lima prinsip utama yang menjadi landasan tata kelola perusahaan, yakni transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, integritas, dan kewajaran.
“Kelima prinsip ini harus terus dijaga dan diterapkan secara konsisten untuk memperkuat kepercayaan nasabah serta memastikan keberlangsungan bisnis Bank Jakarta,” ujarnya.
Selain membenahi tata kelola, Bank Jakarta juga berupaya memperluas jangkauan layanan bagi pelaku UMKM melalui pengembangan sentra mikro dan sentra UMKM. Strategi tersebut ditujukan agar layanan perbankan dan pembiayaan semakin mudah diakses sesuai kebutuhan masing-masing kelompok usaha.
Agus menjelaskan, pengembangan sentra mikro membutuhkan pendekatan berbeda dibandingkan sentra UMKM. Pelaku usaha mikro umumnya memerlukan layanan yang dekat dengan lokasi usaha dan pasar tempat mereka beraktivitas.
“Kalau sentra UKM tidak perlu terlalu banyak karena bisa dipusatkan di sentra-sentra tertentu, kemudian pelaku usahanya yang bergerak. Namun, kalau mikro harus dekat dengan pasarnya,” jelasnya.
Dengan menempatkan layanan lebih dekat ke pusat aktivitas ekonomi masyarakat, Bank Jakarta berharap akses pelaku usaha mikro terhadap layanan keuangan semakin terbuka. Kemudahan tersebut diharapkan dapat mendukung kebutuhan transaksi maupun pembiayaan untuk mengembangkan usaha.
Agus mengungkapkan, jumlah nasabah Bank Jakarta saat ini mencapai sekitar empat juta orang. Jumlah tersebut menjadi salah satu gambaran jangkauan layanan yang terus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Melalui penguatan tata kelola, peningkatan manajemen risiko, serta perluasan akses layanan bagi UMKM, Bank Jakarta berupaya menjaga kepercayaan nasabah sekaligus memperkuat perannya dalam mendukung aktivitas ekonomi masyarakat Jakarta,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Agus juga mengapresiasi LIGA Pro Jakarta yang telah menggelar diskusi dan memberikan masukan untuk kemajuan Bank Jakarta. Menurutnya, kritik yang konstruktif diperlukan sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan kinerja perusahaan. “Kami tentu tidak anti terhadap kritik membangun. Sebab, kritik diperlukan sebagai sarana evaluasi agar semakin baik lagi,” imbuhnya.
Sementara itu, Presidium LIGA Pro Jakarta, Syafti Hidayat berharap Bank Jakarta terus meningkatkan kualitas layanan sehingga mampu bersaing dengan bank-bank milik negara yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) maupun perbankan swasta.
“Semoga layanan Bank Jakarta dapat terus ditingkatkan dan bisa mengungguli bank-bank Himbara maupun swasta,” pungkasnya.
“Bisnis bank itu adalah bisnis kepercayaan. Supaya bank ini bisa dipercaya, tata kelola sudah menjadi hal yang wajib dan itu terus-menerus kita bangun,” kata Agus usai diskusi bersama Lintas Generasi Aktivis (LIGA) Pro Jakarta di Jakarta Pusat, Kamis (29/10/2026).
Dalam diskusi tersebut, Agus menjelaskan, penguatan tata kelola dilakukan melalui sejumlah langkah, mulai dari peningkatan kepatuhan, pengelolaan risiko, hingga penguatan sistem pengendalian internal. Menurutnya, seluruh aspek tersebut harus berjalan secara konsisten agar operasional perbankan tetap sehat, transparan, dan akuntabel.
Agus menyebutkan, terdapat lima prinsip utama yang menjadi landasan tata kelola perusahaan, yakni transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, integritas, dan kewajaran.
“Kelima prinsip ini harus terus dijaga dan diterapkan secara konsisten untuk memperkuat kepercayaan nasabah serta memastikan keberlangsungan bisnis Bank Jakarta,” ujarnya.
Selain membenahi tata kelola, Bank Jakarta juga berupaya memperluas jangkauan layanan bagi pelaku UMKM melalui pengembangan sentra mikro dan sentra UMKM. Strategi tersebut ditujukan agar layanan perbankan dan pembiayaan semakin mudah diakses sesuai kebutuhan masing-masing kelompok usaha.
Agus menjelaskan, pengembangan sentra mikro membutuhkan pendekatan berbeda dibandingkan sentra UMKM. Pelaku usaha mikro umumnya memerlukan layanan yang dekat dengan lokasi usaha dan pasar tempat mereka beraktivitas.
“Kalau sentra UKM tidak perlu terlalu banyak karena bisa dipusatkan di sentra-sentra tertentu, kemudian pelaku usahanya yang bergerak. Namun, kalau mikro harus dekat dengan pasarnya,” jelasnya.
Dengan menempatkan layanan lebih dekat ke pusat aktivitas ekonomi masyarakat, Bank Jakarta berharap akses pelaku usaha mikro terhadap layanan keuangan semakin terbuka. Kemudahan tersebut diharapkan dapat mendukung kebutuhan transaksi maupun pembiayaan untuk mengembangkan usaha.
Agus mengungkapkan, jumlah nasabah Bank Jakarta saat ini mencapai sekitar empat juta orang. Jumlah tersebut menjadi salah satu gambaran jangkauan layanan yang terus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Melalui penguatan tata kelola, peningkatan manajemen risiko, serta perluasan akses layanan bagi UMKM, Bank Jakarta berupaya menjaga kepercayaan nasabah sekaligus memperkuat perannya dalam mendukung aktivitas ekonomi masyarakat Jakarta,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Agus juga mengapresiasi LIGA Pro Jakarta yang telah menggelar diskusi dan memberikan masukan untuk kemajuan Bank Jakarta. Menurutnya, kritik yang konstruktif diperlukan sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan kinerja perusahaan. “Kami tentu tidak anti terhadap kritik membangun. Sebab, kritik diperlukan sebagai sarana evaluasi agar semakin baik lagi,” imbuhnya.
Sementara itu, Presidium LIGA Pro Jakarta, Syafti Hidayat berharap Bank Jakarta terus meningkatkan kualitas layanan sehingga mampu bersaing dengan bank-bank milik negara yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) maupun perbankan swasta.
“Semoga layanan Bank Jakarta dapat terus ditingkatkan dan bisa mengungguli bank-bank Himbara maupun swasta,” pungkasnya.
News
View MoreOur Services
Sonora Education And Talent Management
Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Research Solution
Your Research Solution for Comprehensive Coverage, Reliable Sources, and Diverse Perspectives