Pendapatan Negara Tembus Rp2.341 Triliun, Tumbuh 25 Persen dan Berada di Jalur Target APBN 2026
09 Oktober 2026 17:46 WIB
Liliek
Photo: Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI
Jakarta, Sonora.co.id – Kinerja pendapatan negara hingga akhir September 2026 menunjukkan tren yang solid. Kementerian Keuangan mencatat realisasi pendapatan negara mencapai Rp2.341,5 triliun, atau tumbuh 25,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp1.865,9 triliun. Dengan capaian tersebut, pemerintah optimistis target pendapatan dalam APBN 2026 dapat tercapai.
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan realisasi pendapatan negara hingga triwulan III telah mencapai 74,2 persen dari target APBN 2026 sebesar Rp3.153,6 triliun. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan bahwa pengumpulan penerimaan negara berada pada jalur yang tepat mengingat periode Januari-September mewakili sekitar tiga perempat perjalanan tahun anggaran.
“Kalau akhir September berarti sekitar 75 persen perjalanan tahun sudah berlalu. Pendapatan negara yang sudah terkumpul 74 persen menunjukkan posisi yang on track untuk mencapai target,” ujar Suahasil dalam konferensi pers APBN Kita, Jumat (9/10).
Pertumbuhan pendapatan negara terutama ditopang oleh kinerja penerimaan perpajakan yang tetap menjadi tulang punggung APBN. Hingga September 2026, penerimaan pajak mencapai Rp1.607,6 triliun, atau berkontribusi sekitar 68,6 persen terhadap total pendapatan negara. Angka tersebut tumbuh 24,1 persen secara tahunan, mencerminkan pemulihan dan ekspansi aktivitas ekonomi yang terus berlangsung.
Kontributor terbesar penerimaan pajak berasal dari Pajak Penghasilan (PPh) nonmigas yang mencapai Rp809,3 triliun. Sementara itu, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) menyumbang Rp683,3 triliun. Pemerintah menilai peningkatan penerimaan tersebut tidak hanya dipengaruhi pertumbuhan ekonomi, tetapi juga hasil penguatan administrasi perpajakan serta peningkatan kepatuhan wajib pajak.
“Kinerja penerimaan pajak didorong oleh penguatan administrasi perpajakan dan meningkatnya transaksi ekonomi. Kami berharap tren ini terus menguat hingga akhir tahun,” kata Suahasil.
Selain perpajakan, sumber penerimaan negara yang menunjukkan pertumbuhan signifikan adalah Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Hingga September 2026, PNBP mencapai Rp492,3 triliun, naik 41,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian tersebut menyumbang sekitar 21 persen terhadap total pendapatan negara, meski masih berada di bawah target APBN yang ditetapkan sebesar Rp549,2 triliun.
Struktur PNBP didominasi oleh penerimaan dari sektor sumber daya alam. Pendapatan sumber daya mineral tercatat sebesar Rp223,1 triliun, diikuti pendapatan kekayaan negara yang dipisahkan sebesar Rp58 triliun, PNBP lainnya Rp117,3 triliun, serta pendapatan badan layanan umum sebesar Rp93,9 triliun.
Pemerintah mencatat sejumlah faktor yang mendorong lonjakan PNBP tahun ini. Salah satunya adalah setoran Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) yang mencapai Rp38,65 triliun selama periode 2025 hingga 2026. Selain itu, kenaikan harga komoditas global, khususnya minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) dan batu bara, turut mendongkrak penerimaan negara dari sektor sumber daya alam.
Kementerian Keuangan mencatat penerimaan SDA migas tumbuh 19,4 persen, sementara SDA nonmigas meningkat 30,1 persen secara tahunan. Kenaikan tersebut memberikan ruang fiskal yang lebih kuat bagi pemerintah untuk membiayai berbagai program prioritas nasional.
Meski demikian, pemerintah mengingatkan bahwa tantangan pengelolaan APBN masih cukup besar hingga akhir tahun. Kenaikan harga minyak dunia berpotensi meningkatkan kebutuhan belanja negara, terutama untuk pembayaran subsidi energi. Karena itu, pemerintah akan terus berupaya mengoptimalkan penerimaan negara guna menjaga keseimbangan fiskal.
Suahasil menegaskan bahwa strategi pengelolaan APBN ke depan akan difokuskan pada upaya menjaga momentum penerimaan sekaligus mengantisipasi kenaikan kebutuhan belanja. Menurutnya, keberhasilan menjaga keseimbangan antara penerimaan dan pengeluaran menjadi kunci untuk memastikan APBN tetap sehat dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi.
Dengan capaian pendapatan yang sudah mendekati tiga perempat target tahunan serta ditopang pertumbuhan perpajakan dan PNBP yang kuat, pemerintah meyakini APBN 2026 berada dalam kondisi yang terjaga. Tantangan global dan dinamika harga komoditas masih akan memengaruhi kinerja fiskal hingga akhir tahun, namun sejauh ini pendapatan negara menunjukkan fondasi yang cukup kokoh untuk mencapai target yang telah ditetapkan.
News
View MoreOur Services
Sonora Education And Talent Management
Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Research Solution
Your Research Solution for Comprehensive Coverage, Reliable Sources, and Diverse Perspectives