Petani Cirebon Rasakan Manfaat Program Prabowo
11 September 2026 16:27 WIB
Liliek
Photo: Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI
Cirebon, 11 September 2026 — Musim kemarau panjang membuat sejumlah sumber air menyusut dan lahan pertanian di berbagai daerah menghadapi ancaman kekeringan. Kondisi serupa dialami para petani di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Namun ancaman tersebut perlahan teratasi setelah Kementerian Pertanian menyalurkan bantuan mesin pompa hibrida melalui Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) yang diinisiasi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Pompanisasi ini mampu mengalirkan air ke ratusan hektare sawah yang sebelumnya kesulitan pasokan. Di Kecamatan Arjawinangun dan Susukan, sekitar 390 hektare lahan sempat terancam gagal panen pada musim tanam kedua. Selama ini, petani mengandalkan air dari Sungai Rentang di Majalengka yang berjarak 1.500 meter dari sawah, sehingga biaya pengairan cukup besar. Kondisi makin sulit karena embung yang menjadi sumber air mengalami kebocoran.
Pompa bantuan pemerintah memadukan dua sumber energi: panel surya di siang hari dan listrik di malam hari. Teknologi ini membuat operasional lebih efisien sekaligus menekan biaya petani. Mashudi, salah seorang petani, menyebut pompa hibrida menjadi solusi atas persoalan air yang selama ini membebani musim tanam kedua.
“Sekarang, dengan adanya bantuan dari pemerintah pusat, pompanisasi hybrid ini alhamdulillah bisa menghasilkan air yang begitu deras,” ujarnya.
Pompa tersebut mampu menghasilkan debit air sekitar 36 ribu liter per jam, cukup untuk menjaga pasokan air ke lahan pertanian selama kemarau. Manfaat lain dirasakan dari sisi biaya, karena rencana petani memasang pompa swadaya akhirnya batal setelah adanya bantuan. Mashudi optimistis pompanisasi akan berdampak pada peningkatan hasil panen.
Hal senada disampaikan Kepala Desa Susukan, Saefudin Adriansyah. Ia menjelaskan lahan pertanian di Blok Kayen seluas 309 hektare hampir dua tahun terakhir mengalami kekeringan dan gagal panen pada musim tanam kedua. Dengan adanya pompanisasi, ia berharap pasokan air lebih terjamin sehingga petani bisa menjalankan musim tanam tanpa khawatir. “Insyaallah baik masa tanam satu maupun tanam dua, air terpenuhi,” katanya.
Bagi para petani, pompanisasi PHTC bukan sekadar mesin pengairan, melainkan penopang keberlangsungan produksi pertanian di tengah musim kemarau. Program ini membantu mengurangi biaya operasional, menjaga lahan tetap produktif, dan memastikan ketahanan pangan tetap terjaga.
Pompanisasi ini mampu mengalirkan air ke ratusan hektare sawah yang sebelumnya kesulitan pasokan. Di Kecamatan Arjawinangun dan Susukan, sekitar 390 hektare lahan sempat terancam gagal panen pada musim tanam kedua. Selama ini, petani mengandalkan air dari Sungai Rentang di Majalengka yang berjarak 1.500 meter dari sawah, sehingga biaya pengairan cukup besar. Kondisi makin sulit karena embung yang menjadi sumber air mengalami kebocoran.
Pompa bantuan pemerintah memadukan dua sumber energi: panel surya di siang hari dan listrik di malam hari. Teknologi ini membuat operasional lebih efisien sekaligus menekan biaya petani. Mashudi, salah seorang petani, menyebut pompa hibrida menjadi solusi atas persoalan air yang selama ini membebani musim tanam kedua.
“Sekarang, dengan adanya bantuan dari pemerintah pusat, pompanisasi hybrid ini alhamdulillah bisa menghasilkan air yang begitu deras,” ujarnya.
Pompa tersebut mampu menghasilkan debit air sekitar 36 ribu liter per jam, cukup untuk menjaga pasokan air ke lahan pertanian selama kemarau. Manfaat lain dirasakan dari sisi biaya, karena rencana petani memasang pompa swadaya akhirnya batal setelah adanya bantuan. Mashudi optimistis pompanisasi akan berdampak pada peningkatan hasil panen.
Hal senada disampaikan Kepala Desa Susukan, Saefudin Adriansyah. Ia menjelaskan lahan pertanian di Blok Kayen seluas 309 hektare hampir dua tahun terakhir mengalami kekeringan dan gagal panen pada musim tanam kedua. Dengan adanya pompanisasi, ia berharap pasokan air lebih terjamin sehingga petani bisa menjalankan musim tanam tanpa khawatir. “Insyaallah baik masa tanam satu maupun tanam dua, air terpenuhi,” katanya.
Bagi para petani, pompanisasi PHTC bukan sekadar mesin pengairan, melainkan penopang keberlangsungan produksi pertanian di tengah musim kemarau. Program ini membantu mengurangi biaya operasional, menjaga lahan tetap produktif, dan memastikan ketahanan pangan tetap terjaga.
News
View MoreOur Services
Sonora Education And Talent Management
Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Research Solution
Your Research Solution for Comprehensive Coverage, Reliable Sources, and Diverse Perspectives