Petani Pala Papua Barat Belajar Bahasa Inggris untuk Bidik Pasar Ekspor

11 September 2026 15:49 WIB
Riko Marbun
Photo: Tim Kementerian Transmigrasi
Jakarta, Sonora.Co.ID - Puluhan petani pala di Werianggi-Werabur, Papua Barat, mengikuti pelatihan Bahasa Inggris untuk meningkatkan kemampuan komunikasi sekaligus membuka peluang memperkenalkan produk lokal ke pasar yang lebih luas, termasuk pasar ekspor.

Sebanyak 34 petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Perempuan Ayawata atau UMKM Ayawata mengikuti pembelajaran Bahasa Inggris dasar melalui program Sekolah Pesisir yang diinisiasi Tim 3 Universitas Indonesia (UI).

Dalam kegiatan yang berlangsung rutin setiap pekan tersebut, para petani diperkenalkan dengan kosakata, percakapan dasar, hingga berbagai ungkapan yang dapat digunakan untuk memperkenalkan diri, wilayah, komoditas pala, dan produk lokal.

Pembelajaran Bahasa Inggris tersebut diarahkan untuk membangun kemampuan sekaligus kepercayaan diri masyarakat agar dapat berkomunikasi dengan pihak dari luar daerah maupun mancanegara.

Salah seorang peserta, Darles Bokayu, mengatakan kemampuan Bahasa Inggris dapat membuka peluang yang lebih luas bagi masyarakat di wilayah tersebut.

“Dengan berbahasa Inggris, saya bisa berkomunikasi dan berbicara dengan teman-teman. Ketika ada turis atau orang yang tidak sama bahasa dengan saya, saya berbicara bahasa Inggris. Banyak peluang terbuka bagi warga di sini,” kata Darles, Selasa (8/9/2026).

Kelompok Tani Perempuan Ayawata sendiri berfokus pada pengolahan buah pala menjadi sejumlah produk, seperti permen, sirup, dan sari pala. Karena itu, pelatihan Bahasa Inggris tidak hanya dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi sehari-hari. Sejumlah peserta juga memiliki harapan untuk memperkenalkan dan memasarkan produk olahan pala ke pasar yang lebih luas.

Bahkan, sebagian anggota kelompok memiliki cita-cita membangun kerja sama dengan pihak dari luar negeri untuk mengembangkan produk lokal yang mereka hasilkan.

Darles berharap pembelajaran tersebut dapat terus dilanjutkan karena masyarakat membutuhkan akses terhadap pengetahuan dan keterampilan baru untuk mendukung perkembangan kawasan.

“Mari kita lanjutkan hingga tahun-tahun ke depan. Ilmu yang kami miliki di sini memang masih kurang, tapi ilmu yang datang dari luar akan menjadi bagian dari perkembangan kami ke depan,” ujarnya.

Pengembangan kemampuan Bahasa Inggris bagi masyarakat di kawasan transmigrasi tersebut juga sejalan dengan dorongan pemerintah untuk meningkatkan daya saing sumber daya manusia Indonesia di tingkat global.

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menekankan pentingnya penguasaan bahasa asing agar masyarakat Indonesia mampu bersaing dalam perkembangan global.

“Bahasa asing mutlak harus kita kuasai,” ujar Presiden Prabowo dalam Sidang Tahunan MPR RI, Jumat (14/8/2026).

Sementara itu, Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menjelaskan paradigma pembangunan kawasan transmigrasi kini diarahkan untuk memperkuat pemberdayaan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi lokal.

Menurutnya, keberhasilan program transmigrasi tidak lagi hanya diukur berdasarkan jumlah penduduk yang dipindahkan ke suatu wilayah.

“Ukuran kesuksesan transmigrasi sekarang adalah menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat setempat,” ungkap Menteri Iftitah.

Pemerintah, kata dia, kini menempatkan kemandirian ekonomi masyarakat sebagai salah satu indikator penting dalam pembangunan kawasan transmigrasi.

Pengembangan keterampilan masyarakat, termasuk kemampuan berkomunikasi dan memperkenalkan potensi produk lokal, menjadi bagian yang dapat mendukung terbukanya akses terhadap pasar dan peluang kerja sama yang lebih luas.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono juga menekankan bahwa pengembangan kawasan transmigrasi harus diarahkan pada keberlanjutan ekonomi dan peningkatan daya tarik investasi.

Menurutnya, transmigrasi kini tidak lagi semata-mata dipandang sebagai program pemindahan penduduk dari satu wilayah ke wilayah lain.

“Yang dulu paradigmanya adalah memindahkan penduduk ke luar Jawa, kini paradigmanya menjadi bagaimana membangun kawasan-kawasan tersebut sehingga menjadi daya tarik investasi, dan juga pembangunan atau pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujarnya.

Pelatihan Bahasa Inggris bagi petani pala di Werianggi-Werabur menjadi salah satu upaya untuk memperkuat kapasitas masyarakat lokal dalam mengembangkan potensi ekonomi yang dimiliki.

Dengan keterampilan komunikasi yang lebih baik, masyarakat diharapkan semakin percaya diri memperkenalkan komoditas dan produk olahan pala Papua Barat kepada pasar yang lebih luas serta membuka peluang kerja sama hingga tingkat internasional.

Sonora Network

Our Services

Sonora Education And Talent Management

Sonora Education And Talent Management

Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Research Solution

Research Solution

Your Research Solution for Comprehensive Coverage, Reliable Sources, and Diverse Perspectives
Management Services

Management Services

Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Event Management

Event Management

Step into Syandana, we deliver exceptional tailored event solutions

We'll reach out to you to talk about what we can do to keep leading, together.

Let’s Collaborate!

Our Satisfied Partners

Kementrian Pajak
Kementrian PUPR
Kementerian Dinas Perhubungan
Kementrian Kominfo
Kementrian Agama
Kementrian Hukum dan HAM
Telkomsek
ASDP
Nuvo Family
Pertamina
Bear Brand
Sarirasa Group
Gopek House
Counterpain
PLN
Kementrian Pelni
Ayaxx
Wincos