AI Ubah Komunikasi dan Media, Unika Atma Jaya Soroti Tantangan Etika

11 September 2026 15:44 WIB
Riko Marbun
Photo: Humas Unika Atma Jaya
Jakarta, Sonora.Co.ID - Perkembangan Artificial Intelligence (AI) kini tidak lagi sekadar mengubah cara manusia menggunakan teknologi. AI juga mulai memengaruhi cara masyarakat berkomunikasi, mengonsumsi informasi, bekerja, hingga mengambil keputusan.

Perubahan tersebut menjadi perhatian Dewan Profesor Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya dalam Diskusi Panel bertajuk “Artificial Intelligence dan Mediatisasi: Transformasi Komunikasi, Media, dan Masyarakat Digital” yang digelar di Ballroom Gedung Yustinus Lantai 15, Kampus Semanggi, Jakarta, Kamis (10/9/2026).

Diskusi menghadirkan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia Nezar Patria sebagai panelis utama. Forum tersebut juga menghadirkan Wakil Rektor Bidang Inovasi, Penelitian, Kerja Sama dan Alumni Unika Atma Jaya Prof. Rosdiana Sijabat serta Anggota Dewan Profesor Unika Atma Jaya Prof. V. Selvie Sinaga. Diskusi dipandu oleh Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Unika Atma Jaya Dr. Nia Sarinastiti.

Rektor Unika Atma Jaya Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K), menegaskan bahwa perkembangan AI harus tetap berorientasi pada martabat manusia. Menurutnya, kemajuan teknologi tidak boleh membuat manusia kehilangan kemampuan berpikir kritis dan mengambil keputusan secara bijaksana.

“Sebagai Universitas Katolik, dampak teknologi harus kembali kepada satu pusat: martabat manusia. AI harus membuat kita lebih mampu, bukan lebih tergantung. Media harus membuat lebih tercerahkan, bukan lebih mudah dimanipulasi,” ujar Yuda.

Ia menilai AI tidak bisa hanya dilihat sebagai kemajuan teknologi. Kehadiran kecerdasan buatan telah membawa perubahan yang lebih luas terhadap cara manusia memperoleh pengetahuan, bekerja, berkomunikasi, dan menentukan pilihan.

Ketua Dewan Profesor Unika Atma Jaya Prof. Dr. Laura F. N. Sudarnoto mengatakan perkembangan AI perlu menjadi ruang refleksi bersama, terutama bagi perguruan tinggi.

Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya memiliki tugas menghasilkan lulusan yang mampu menggunakan teknologi, tetapi juga membentuk manusia yang mampu memanfaatkan pengetahuan secara kritis, bijaksana, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kesejahteraan bersama.

“AI bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga perlu dipertimbangkan dampaknya pada kehidupan manusia, komunikasi, etika, masyarakat, bahkan kemanusiaan,” ujarnya.

Dalam diskusi tersebut, Nezar Patria menyoroti perubahan besar yang terjadi dalam ekosistem komunikasi dan media akibat perkembangan teknologi digital dan AI.

Peralihan dari media konvensional menuju media digital, media sosial, dan berbagai platform telah mengubah posisi masyarakat. Audiens kini tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga dapat memproduksi dan menyebarkan informasi.

Namun, perkembangan teknologi juga membawa tantangan baru. Algoritma dan machine learning dapat membentuk pola konsumsi informasi masyarakat, termasuk melalui fenomena echo chamber dan filter bubble.

Perubahan tersebut turut memengaruhi industri jurnalistik. AI mulai digunakan dalam berbagai tahapan kerja, mulai dari riset, penulisan, pemeriksaan fakta hingga publikasi. Karena itu, kualitas informasi, keberlanjutan media, dan integritas jurnalistik menjadi tantangan penting yang harus dijaga.

“Perubahan hari ini bersifat struktural: AI tidak lagi sekadar alat produksi, melainkan mulai mengambil alih fungsi murni manusia,” kata Nezar.

Sementara itu, Prof. Rosdiana Sijabat menjelaskan bahwa AI kini telah berkembang dari sekadar alat bantu menjadi bagian dari logika sosial yang memengaruhi cara manusia bekerja dan berinteraksi dengan informasi.

Perubahan tersebut berlangsung melalui datafikasi, kurasi algoritmik, produksi generatif, serta adaptasi institusi terhadap logika platform. Dalam kondisi tersebut, AI tidak hanya membantu manusia mengolah informasi, tetapi juga dapat memengaruhi informasi apa yang terlihat, membentuk preferensi, hingga memengaruhi pilihan dan keputusan pengguna.

“Mediasi: AI membantu kita bekerja. Mediatisasi: kita mulai bekerja menurut logika AI,” ujar Rosdiana.

Perkembangan AI juga memunculkan persoalan baru dalam bidang hukum, terutama terkait hak cipta dan kepemilikan karya.

Prof. V. Selvie Sinaga menyoroti munculnya pertanyaan mengenai perlindungan terhadap karya yang dihasilkan dengan bantuan teknologi AI. Menurutnya, Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta belum secara khusus mengatur karya yang diciptakan menggunakan AI. Kondisi tersebut menjadi tantangan seiring meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan dalam proses kreatif.

Perdebatan mengenai gugatan hak cipta terhadap sejumlah perusahaan AI di berbagai negara serta penerapan konsep fair use menunjukkan bahwa perkembangan teknologi membutuhkan kerangka hukum yang mampu mengikuti perubahan.

Diskusi tersebut juga menyoroti sejumlah tantangan lain, mulai dari konten sintetis, deepfake, bias algoritmik, hingga persoalan menentukan informasi yang dapat dipercaya di tengah banjir konten digital.

Dalam konteks Indonesia, penguatan literasi digital dan kemampuan berpikir kritis masyarakat menjadi semakin penting. Selain itu, diperlukan mekanisme verifikasi informasi, kemampuan mendeteksi disinformasi, serta tata kelola AI yang mampu melindungi kepentingan publik.

Penguatan regulasi dan etika AI juga dinilai penting, termasuk dalam menjaga perkembangan ekosistem pers nasional tanpa mengorbankan independensi editorial.

Melalui diskusi panel tersebut, Unika Atma Jaya menegaskan peran perguruan tinggi sebagai ruang akademik untuk mengkritisi sekaligus mengarahkan perkembangan AI agar tetap memberikan manfaat bagi masyarakat.

Forum ini diharapkan dapat memperkuat literasi AI dan komunikasi digital, mendorong riset interdisipliner, serta menghasilkan gagasan dan rekomendasi berbasis riset bagi pengembangan kebijakan komunikasi digital yang responsif, etis, dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, tantangan terbesar AI bukan hanya tentang seberapa canggih teknologi berkembang, tetapi bagaimana manusia mampu tetap mengendalikan dan menggunakannya secara kritis, bijaksana, dan bertanggung jawab.


Sonora Network

Our Services

Sonora Education And Talent Management

Sonora Education And Talent Management

Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Research Solution

Research Solution

Your Research Solution for Comprehensive Coverage, Reliable Sources, and Diverse Perspectives
Management Services

Management Services

Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Event Management

Event Management

Step into Syandana, we deliver exceptional tailored event solutions

We'll reach out to you to talk about what we can do to keep leading, together.

Let’s Collaborate!

Our Satisfied Partners

Kementrian Pajak
Kementrian PUPR
Kementerian Dinas Perhubungan
Kementrian Kominfo
Kementrian Agama
Kementrian Hukum dan HAM
Telkomsek
ASDP
Nuvo Family
Pertamina
Bear Brand
Sarirasa Group
Gopek House
Counterpain
PLN
Kementrian Pelni
Ayaxx
Wincos