Industri Garmen Indonesia Berpeluang Tambah Ekspor hingga US$2 Miliar lewat Operational Excellence
07 Agustus 2026 05:58 WIB
Riko Marbun
Photo: Istimewa
Jakarta, Sonora.Co.ID - Industri garmen Indonesia memiliki peluang
meningkatkan nilai ekspor hingga US$2 miliar melalui penguatan operational
excellence di sektor manufaktur. Potensi tersebut terungkap dalam laporan
terbaru Vector Consulting Group yang disusun bersama Asosiasi Garment dan
Textile Indonesia (AGTI).
Laporan bertajuk Unlocking the $2 Billion Opportunity: How Operational Execution Can Revive Indonesia's Garment Industry diluncurkan dalam ajang Indo Garment & Textile (IGT) Expo di Jakarta. Studi tersebut menawarkan perspektif baru mengenai strategi peningkatan daya saing industri garmen nasional dengan menekankan pentingnya operational execution di tingkat produksi atau shop floor, bukan semata-mata mengandalkan biaya tenaga kerja yang rendah.
Data dalam laporan menunjukkan bahwa nilai ekspor garmen Indonesia masih stagnan di kisaran US$8–9 miliar selama hampir satu dekade terakhir. Sementara itu, negara-negara pesaing seperti Vietnam, Bangladesh, dan Kamboja terus memperluas pangsa pasar mereka dalam ekspor apparel global. Riset tersebut mengidentifikasi ketidakstabilan eksekusi operasional sebagai salah satu faktor utama yang menghambat peningkatan produktivitas pabrik. Selain itu, laporan juga menemukan bahwa ketidakpastian dalam pelepasan fabric purchase orders menjadi salah satu penyebab melemahnya daya saing industri garmen Indonesia.
Ketua Umum Asosiasi Garment dan Textile Indonesia (AGTI), Anne Patricia Sutanto, mengatakan industri garmen nasional kini memasuki fase penting yang menuntut peningkatan daya saing melalui penguatan operational excellence. Menurut Anne, laporan tersebut memberikan wawasan praktis mengenai tantangan operasional yang memengaruhi produktivitas sekaligus kinerja ekspor. Ia menyambut baik kolaborasi antara AGTI dan Vector Consulting Group serta berharap pengalaman dan keahlian yang dimiliki perusahaan konsultan tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi pelaku industri garmen di Indonesia.
Senior Partner Vector Consulting Group, P. Senthilkumar, menjelaskan bahwa selama bertahun-tahun pembahasan mengenai daya saing industri garmen lebih banyak berfokus pada biaya tenaga kerja. Namun, hasil riset menunjukkan peluang peningkatan kinerja justru lebih besar melalui perbaikan operational execution.
Ia mengungkapkan produsen yang mampu membangun stabilitas operasional melalui penerapan disiplin kerja di shop floor berpotensi meningkatkan efisiensi lini jahit (sewing-line efficiency) sebesar 20–30 persen, mencapai tingkat On-Time In-Full (OTIF) hingga 90 persen, memangkas customer lead time sebesar 20–30 persen, meningkatkan laba operasional sekitar 20 persen, serta mengurangi modal kerja yang tertahan dalam persediaan sebesar 20–30 persen.
"Laporan ini menawarkan roadmap praktis yang dapat membantu produsen garmen Indonesia membuka peluang pertumbuhan yang lebih besar di masa depan," ujar Senthilkumar.
Sementara itu, Country Head Indonesia Vector Consulting Group, Rajesh Inamdar, menegaskan laporan tersebut disusun berdasarkan kondisi operasional nyata yang dihadapi industri tekstil dan garmen Indonesia setiap hari. Menurutnya, berbagai tantangan yang dihadapi produsen, pemasok kain, eksportir, hingga para pemimpin industri mulai dari proses perencanaan, produksi, pengiriman, hingga profitabilitas menjadi dasar penyusunan laporan tersebut. Karena itu, pelaku industri diyakini akan mudah mengenali berbagai persoalan yang dipaparkan karena sesuai dengan kondisi yang mereka alami.
Rajesh menambahkan, laporan tersebut tidak hanya mengidentifikasi berbagai hambatan operasional, tetapi juga menawarkan pendekatan implementatif yang dapat membantu memperkuat daya saing industri garmen Indonesia di pasar global. Sebagai rekomendasi, laporan tersebut mengusulkan empat langkah prioritas untuk meningkatkan kinerja operasional industri garmen, yakni memperkuat kolaborasi lintas fungsi agar pelepasan fabric purchase orders dilakukan tepat waktu, menerapkan style-level capacity planning, meningkatkan pengawasan di tingkat supervisor, serta melakukan rekonfigurasi rantai pasok bahan baku kain guna meningkatkan responsivitas.
Melalui penerapan operational excellence, laporan Vector Consulting Group menyimpulkan produsen garmen Indonesia tidak hanya dapat meningkatkan efisiensi biaya produksi, tetapi juga memperkuat keandalan dalam memenuhi jadwal pengiriman, sehingga mampu meningkatkan daya saing ekspor di pasar global.
Laporan bertajuk Unlocking the $2 Billion Opportunity: How Operational Execution Can Revive Indonesia's Garment Industry diluncurkan dalam ajang Indo Garment & Textile (IGT) Expo di Jakarta. Studi tersebut menawarkan perspektif baru mengenai strategi peningkatan daya saing industri garmen nasional dengan menekankan pentingnya operational execution di tingkat produksi atau shop floor, bukan semata-mata mengandalkan biaya tenaga kerja yang rendah.
Data dalam laporan menunjukkan bahwa nilai ekspor garmen Indonesia masih stagnan di kisaran US$8–9 miliar selama hampir satu dekade terakhir. Sementara itu, negara-negara pesaing seperti Vietnam, Bangladesh, dan Kamboja terus memperluas pangsa pasar mereka dalam ekspor apparel global. Riset tersebut mengidentifikasi ketidakstabilan eksekusi operasional sebagai salah satu faktor utama yang menghambat peningkatan produktivitas pabrik. Selain itu, laporan juga menemukan bahwa ketidakpastian dalam pelepasan fabric purchase orders menjadi salah satu penyebab melemahnya daya saing industri garmen Indonesia.
Ketua Umum Asosiasi Garment dan Textile Indonesia (AGTI), Anne Patricia Sutanto, mengatakan industri garmen nasional kini memasuki fase penting yang menuntut peningkatan daya saing melalui penguatan operational excellence. Menurut Anne, laporan tersebut memberikan wawasan praktis mengenai tantangan operasional yang memengaruhi produktivitas sekaligus kinerja ekspor. Ia menyambut baik kolaborasi antara AGTI dan Vector Consulting Group serta berharap pengalaman dan keahlian yang dimiliki perusahaan konsultan tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi pelaku industri garmen di Indonesia.
Senior Partner Vector Consulting Group, P. Senthilkumar, menjelaskan bahwa selama bertahun-tahun pembahasan mengenai daya saing industri garmen lebih banyak berfokus pada biaya tenaga kerja. Namun, hasil riset menunjukkan peluang peningkatan kinerja justru lebih besar melalui perbaikan operational execution.
Ia mengungkapkan produsen yang mampu membangun stabilitas operasional melalui penerapan disiplin kerja di shop floor berpotensi meningkatkan efisiensi lini jahit (sewing-line efficiency) sebesar 20–30 persen, mencapai tingkat On-Time In-Full (OTIF) hingga 90 persen, memangkas customer lead time sebesar 20–30 persen, meningkatkan laba operasional sekitar 20 persen, serta mengurangi modal kerja yang tertahan dalam persediaan sebesar 20–30 persen.
"Laporan ini menawarkan roadmap praktis yang dapat membantu produsen garmen Indonesia membuka peluang pertumbuhan yang lebih besar di masa depan," ujar Senthilkumar.
Sementara itu, Country Head Indonesia Vector Consulting Group, Rajesh Inamdar, menegaskan laporan tersebut disusun berdasarkan kondisi operasional nyata yang dihadapi industri tekstil dan garmen Indonesia setiap hari. Menurutnya, berbagai tantangan yang dihadapi produsen, pemasok kain, eksportir, hingga para pemimpin industri mulai dari proses perencanaan, produksi, pengiriman, hingga profitabilitas menjadi dasar penyusunan laporan tersebut. Karena itu, pelaku industri diyakini akan mudah mengenali berbagai persoalan yang dipaparkan karena sesuai dengan kondisi yang mereka alami.
Rajesh menambahkan, laporan tersebut tidak hanya mengidentifikasi berbagai hambatan operasional, tetapi juga menawarkan pendekatan implementatif yang dapat membantu memperkuat daya saing industri garmen Indonesia di pasar global. Sebagai rekomendasi, laporan tersebut mengusulkan empat langkah prioritas untuk meningkatkan kinerja operasional industri garmen, yakni memperkuat kolaborasi lintas fungsi agar pelepasan fabric purchase orders dilakukan tepat waktu, menerapkan style-level capacity planning, meningkatkan pengawasan di tingkat supervisor, serta melakukan rekonfigurasi rantai pasok bahan baku kain guna meningkatkan responsivitas.
Melalui penerapan operational excellence, laporan Vector Consulting Group menyimpulkan produsen garmen Indonesia tidak hanya dapat meningkatkan efisiensi biaya produksi, tetapi juga memperkuat keandalan dalam memenuhi jadwal pengiriman, sehingga mampu meningkatkan daya saing ekspor di pasar global.
News
View MoreOur Services
Sonora Education And Talent Management
Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Research Solution
Your Research Solution for Comprehensive Coverage, Reliable Sources, and Diverse Perspectives