Rahasia Sukses Rehabilitasi Mangrove: Bukan Hanya Menanam, tapi Bangun Ekonomi Warga
02 Agustus 2026 16:27 WIB
Yudi Samadi
Photo: Seremoni Kick off Mangrofest 2026 dimulai dari IKN dilakukan oleh Kepala badan Otorita IKN, Direktur Eksekutif M4CR dan Sejumlah Tokoh lainnya.
IBU KOTA NUSANTARA, Sonora.co.id – Rehabilitasi mangrove di Indonesia
kini tidak lagi hanya berfokus pada penanaman pohon. Pemerintah mengembangkan
pendekatan yang lebih menyeluruh dengan melibatkan masyarakat, memperkuat
kelembagaan desa, hingga menciptakan peluang ekonomi agar kawasan mangrove
tetap lestari.
Strategi tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Media Gathering M4CR dan Kick Off Mangrofest 2026 yang berlangsung di Plaza Seremoni, Ibu Kota Nusantara (IKN), Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Sabtu (1/8/2026).
Sustainable Mangrove Management Coordinator M4CR, Suwignya Utama, yang mewakili Direktur Rehabilitasi Mangrove Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) Kementerian Kehutanan, mengatakan rehabilitasi mangrove saat ini dijalankan melalui pendekatan terintegrasi yang dikenal dengan konsep 3M, yaitu Memperbaiki, Mempertahankan, dan Meningkatkan kualitas ekosistem mangrove.
Menurut Suwignya, pendekatan pertama adalah rehabilitasi ekologis melalui penanaman mangrove sesuai karakteristik kawasan
ehingga mampu memulihkan fungsi alami pesisir.
Namun, keberhasilan rehabilitasi tidak cukup hanya mengandalkan penanaman.
"Pendekatan sosial menjadi sangat penting dengan melibatkan masyarakat sekitar secara sukarela sebagai bagian dari upaya menjaga kawasan mangrove," ujarnya.
Selain itu, masyarakat juga didorong memperoleh manfaat ekonomi melalui pendekatan livelihood, yakni pemberian dukungan usaha produktif agar mereka memiliki sumber penghasilan sekaligus terdorong menjaga kawasan mangrove yang telah direhabilitasi.
Tak kalah penting, lanjut Suwignya, adalah penguatan kelembagaan melalui pembentukan Desa Peduli Mangrove. Melalui skema tersebut, masyarakat didorong menyusun aturan bersama dalam pengelolaan dan perlindungan ekosistem mangrove di wilayahnya.
"Harapannya rehabilitasi mangrove tidak hanya menghasilkan kawasan yang kembali hijau, tetapi juga mewujudkan kelestarian ekosistem, meningkatkan ketahanan wilayah pesisir, dan menghadirkan masyarakat yang lebih sejahtera," katanya.
Ia menegaskan, keberhasilan rehabilitasi mangrove hanya dapat dicapai melalui kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, kelompok masyarakat, komunitas lingkungan, sektor swasta, hingga generasi muda atau Gen Z.
Menurutnya, keterlibatan Gen Z menjadi penting agar kepedulian terhadap mangrove terus tumbuh dan berlanjut di masa mendatang.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Timur, Joko Istanto, menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dalam mendukung pembangunan berkelanjutan melalui rehabilitasi kawasan mangrove.
Ia menyebut, pada 26 Juli 2026, Pemprov Kalimantan Timur bersama berbagai pihak telah menanam 12.000 bibit mangrove jenis Rhizophora di Pantai Lamaru, Balikpapan.
Selain itu, melalui Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Mahakam Berau, rehabilitasi mangrove pada 2026 juga mencakup kawasan seluas 1.176 hektare. Secara keseluruhan, rehabilitasi mangrove di Kalimantan Timur tersebar di tujuh kabupaten/kota dengan luasan sekitar 240 hektare yang dikelola melalui berbagai program kolaboratif.
Menurut Joko, indikator keberhasilan rehabilitasi mangrove bukan hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga bagaimana kawasan tersebut dipelihara dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
"Yang paling penting adalah memastikan mangrove tetap hidup, dirawat, dan dimanfaatkan secara berkelanjutan sehingga manfaat ekologis maupun ekonominya benar-benar dirasakan masyarakat," ujarnya.
Joko juga menilai keberhasilan rehabilitasi mangrove membutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah, akademisi, komunitas lingkungan, dunia usaha, dan media massa.
Menurutnya, media memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran publik mengenai pentingnya menjaga ekosistem mangrove sekaligus menjadi mitra pemerintah dalam menyampaikan berbagai program pelestarian lingkungan.
"Media tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun pemahaman masyarakat serta membuka ruang dialog antara pemerintah, akademisi, komunitas, dan publik agar kepedulian terhadap mangrove semakin kuat," pungkasnya.
Strategi tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Media Gathering M4CR dan Kick Off Mangrofest 2026 yang berlangsung di Plaza Seremoni, Ibu Kota Nusantara (IKN), Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Sabtu (1/8/2026).
Sustainable Mangrove Management Coordinator M4CR, Suwignya Utama, yang mewakili Direktur Rehabilitasi Mangrove Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) Kementerian Kehutanan, mengatakan rehabilitasi mangrove saat ini dijalankan melalui pendekatan terintegrasi yang dikenal dengan konsep 3M, yaitu Memperbaiki, Mempertahankan, dan Meningkatkan kualitas ekosistem mangrove.
Menurut Suwignya, pendekatan pertama adalah rehabilitasi ekologis melalui penanaman mangrove sesuai karakteristik kawasan
ehingga mampu memulihkan fungsi alami pesisir.
Namun, keberhasilan rehabilitasi tidak cukup hanya mengandalkan penanaman.
"Pendekatan sosial menjadi sangat penting dengan melibatkan masyarakat sekitar secara sukarela sebagai bagian dari upaya menjaga kawasan mangrove," ujarnya.
Selain itu, masyarakat juga didorong memperoleh manfaat ekonomi melalui pendekatan livelihood, yakni pemberian dukungan usaha produktif agar mereka memiliki sumber penghasilan sekaligus terdorong menjaga kawasan mangrove yang telah direhabilitasi.
Tak kalah penting, lanjut Suwignya, adalah penguatan kelembagaan melalui pembentukan Desa Peduli Mangrove. Melalui skema tersebut, masyarakat didorong menyusun aturan bersama dalam pengelolaan dan perlindungan ekosistem mangrove di wilayahnya.
"Harapannya rehabilitasi mangrove tidak hanya menghasilkan kawasan yang kembali hijau, tetapi juga mewujudkan kelestarian ekosistem, meningkatkan ketahanan wilayah pesisir, dan menghadirkan masyarakat yang lebih sejahtera," katanya.
Ia menegaskan, keberhasilan rehabilitasi mangrove hanya dapat dicapai melalui kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, kelompok masyarakat, komunitas lingkungan, sektor swasta, hingga generasi muda atau Gen Z.
Menurutnya, keterlibatan Gen Z menjadi penting agar kepedulian terhadap mangrove terus tumbuh dan berlanjut di masa mendatang.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Timur, Joko Istanto, menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dalam mendukung pembangunan berkelanjutan melalui rehabilitasi kawasan mangrove.
Ia menyebut, pada 26 Juli 2026, Pemprov Kalimantan Timur bersama berbagai pihak telah menanam 12.000 bibit mangrove jenis Rhizophora di Pantai Lamaru, Balikpapan.
Selain itu, melalui Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Mahakam Berau, rehabilitasi mangrove pada 2026 juga mencakup kawasan seluas 1.176 hektare. Secara keseluruhan, rehabilitasi mangrove di Kalimantan Timur tersebar di tujuh kabupaten/kota dengan luasan sekitar 240 hektare yang dikelola melalui berbagai program kolaboratif.
Menurut Joko, indikator keberhasilan rehabilitasi mangrove bukan hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga bagaimana kawasan tersebut dipelihara dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
"Yang paling penting adalah memastikan mangrove tetap hidup, dirawat, dan dimanfaatkan secara berkelanjutan sehingga manfaat ekologis maupun ekonominya benar-benar dirasakan masyarakat," ujarnya.
Joko juga menilai keberhasilan rehabilitasi mangrove membutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah, akademisi, komunitas lingkungan, dunia usaha, dan media massa.
Menurutnya, media memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran publik mengenai pentingnya menjaga ekosistem mangrove sekaligus menjadi mitra pemerintah dalam menyampaikan berbagai program pelestarian lingkungan.
"Media tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun pemahaman masyarakat serta membuka ruang dialog antara pemerintah, akademisi, komunitas, dan publik agar kepedulian terhadap mangrove semakin kuat," pungkasnya.
News
View MoreOur Services
Sonora Education And Talent Management
Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Research Solution
Your Research Solution for Comprehensive Coverage, Reliable Sources, and Diverse Perspectives