Mangrofest 2026 Dimulai dari IKN, Semangat untuk Replikasi Program Rehabilitasi Mangrove ke Seluruh Nusantara
02 Agustus 2026 16:16 WIB
Yudi Samadi
Photo: Mangrove Harmony Ride bersama Komunitas Motor listrik menandai dimulainya Kick Off Mangrofest 2026 dari IKN
IBU KOTA NUSANTARA (IKN), Sonora.co.id – Pemerintah resmi memulai Kickoff Mangrofest
2026 di Plaza Seremoni, Kompleks Ibukota Nusantara (IKN), Penajam Paser Utara,
Kalimantan Timur, Sabtu (1/8/2026). Kegiatan ini dihadiri Kepala Otorita IKN
Basuki Hadimuljono bersama jajaran Kementerian Kehutanan, pemerintah daerah,
masyarakat, serta komunitas motor listrik yang sebelumnya mengikuti Mangrove
Harmony Ride sebagai kampanye energi bersih dan pelestarian lingkungan.
Direktur Eksekutif Mangrove for Coastal Resilience (M4CR) sekaligus Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) Kementerian Kehutanan RI, M. Zainal Arifin, mengatakan dipilihnya IKN sebagai lokasi pembukaan Mangrofest 2026 bukan tanpa alasan.
Menurutnya, IKN telah menunjukkan komitmen kuat dalam rehabilitasi mangrove sekaligus menjadi simbol pembangunan Indonesia yang berkelanjutan.
"Nama Nusantara memiliki makna yang sangat kuat. Karena itu Mangrofest 2026 bertajuk Mangrove untuk Masa Depan sangat tepat dimulai dari IKN. Dari sinilah semangat rehabilitasi mangrove akan terus berkembang ke seluruh Indonesia," ujarnya.
Ia menjelaskan rehabilitasi mangrove nasional sebelumnya dijalankan oleh Badan Rehabilitasi Gambut dan Mangrove (BRGM). Setelah BRGM menyelesaikan tugasnya, amanah rehabilitasi mangrove kini dilanjutkan Direktorat Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) Kementerian Kehutanan.
Melalui Program Mangrove for Coastal Resilience (M4CR), pemerintah bersama Bank Dunia menargetkan rehabilitasi mangrove seluas 32.634 hektare di empat provinsi, yakni Sumatera Utara, Riau, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. Program tersebut menjadi salah satu proyek rehabilitasi mangrove terbesar di dunia.
Dari total target tersebut, Kalimantan Timur memegang peran strategis dengan target rehabilitasi sekitar 12.000 hektare, atau lebih dari 30 persen dari keseluruhan program.
Namun menurut Zainal, M4CR tidak hanya berfokus pada penanaman mangrove.
Program ini juga membangun Desa Peduli Mangrove, Sekolah Lapang Mangrove, pengembangan mata pencaharian masyarakat pesisir (livelihood), hingga skema pendanaan matching grant bagi kelompok masyarakat yang mengembangkan konservasi, pembibitan, maupun wisata mangrove.
"Basis rehabilitasi mangrove harus melibatkan masyarakat. Tujuannya bukan sekadar menanam pohon, tetapi memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat pesisir," katanya.
Ia menambahkan, pemerintah juga mulai menggandeng influencer dan generasi muda melalui berbagai kampanye agar kepedulian terhadap ekosistem pesisir semakin meningkat.
"Generasi Z harus kembali dekat dengan mangrove. Mereka harus mengenal bahwa mangrove menjaga pesisir, menjadi habitat berbagai satwa, sekaligus menjaga kualitas perairan dari berbagai pencemar," ujarnya.
Ke depan, pemerintah juga membuka peluang mereplikasi program M4CR ke berbagai wilayah lain di Indonesia setelah program di empat provinsi tersebut selesai.
Langkah itu dinilai penting mengingat Indonesia memiliki kawasan mangrove terluas di dunia, mencapai sekitar 3,4 juta hektare, atau hampir 25 persen dari total mangrove dunia.
Direktur Eksekutif Mangrove for Coastal Resilience (M4CR) sekaligus Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) Kementerian Kehutanan RI, M. Zainal Arifin, mengatakan dipilihnya IKN sebagai lokasi pembukaan Mangrofest 2026 bukan tanpa alasan.
Menurutnya, IKN telah menunjukkan komitmen kuat dalam rehabilitasi mangrove sekaligus menjadi simbol pembangunan Indonesia yang berkelanjutan.
"Nama Nusantara memiliki makna yang sangat kuat. Karena itu Mangrofest 2026 bertajuk Mangrove untuk Masa Depan sangat tepat dimulai dari IKN. Dari sinilah semangat rehabilitasi mangrove akan terus berkembang ke seluruh Indonesia," ujarnya.
Ia menjelaskan rehabilitasi mangrove nasional sebelumnya dijalankan oleh Badan Rehabilitasi Gambut dan Mangrove (BRGM). Setelah BRGM menyelesaikan tugasnya, amanah rehabilitasi mangrove kini dilanjutkan Direktorat Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) Kementerian Kehutanan.
Melalui Program Mangrove for Coastal Resilience (M4CR), pemerintah bersama Bank Dunia menargetkan rehabilitasi mangrove seluas 32.634 hektare di empat provinsi, yakni Sumatera Utara, Riau, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. Program tersebut menjadi salah satu proyek rehabilitasi mangrove terbesar di dunia.
Dari total target tersebut, Kalimantan Timur memegang peran strategis dengan target rehabilitasi sekitar 12.000 hektare, atau lebih dari 30 persen dari keseluruhan program.
Namun menurut Zainal, M4CR tidak hanya berfokus pada penanaman mangrove.
Program ini juga membangun Desa Peduli Mangrove, Sekolah Lapang Mangrove, pengembangan mata pencaharian masyarakat pesisir (livelihood), hingga skema pendanaan matching grant bagi kelompok masyarakat yang mengembangkan konservasi, pembibitan, maupun wisata mangrove.
"Basis rehabilitasi mangrove harus melibatkan masyarakat. Tujuannya bukan sekadar menanam pohon, tetapi memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat pesisir," katanya.
Ia menambahkan, pemerintah juga mulai menggandeng influencer dan generasi muda melalui berbagai kampanye agar kepedulian terhadap ekosistem pesisir semakin meningkat.
"Generasi Z harus kembali dekat dengan mangrove. Mereka harus mengenal bahwa mangrove menjaga pesisir, menjadi habitat berbagai satwa, sekaligus menjaga kualitas perairan dari berbagai pencemar," ujarnya.
Ke depan, pemerintah juga membuka peluang mereplikasi program M4CR ke berbagai wilayah lain di Indonesia setelah program di empat provinsi tersebut selesai.
Langkah itu dinilai penting mengingat Indonesia memiliki kawasan mangrove terluas di dunia, mencapai sekitar 3,4 juta hektare, atau hampir 25 persen dari total mangrove dunia.
News
View MoreOur Services
Sonora Education And Talent Management
Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Research Solution
Your Research Solution for Comprehensive Coverage, Reliable Sources, and Diverse Perspectives