Tantangan Penyakit Hati Global dan Inovasi Penanganannya
24 Januari 2026 09:07 WIB
Riko Marbun
Photo: Asti/Istimewa
Jakarta,
Sonora.co.id - Penyakit hati menjadi salah satu tantangan kesehatan global yang
terus meningkat, termasuk hepatitis virus, sirosis, dan kanker hati. Data
terbaru menunjukkan bahwa kasus kanker hati diperkirakan meningkat dari sekitar
870.000 kasus per tahun saat ini menjadi sekitar 1,52 juta per tahun pada 2050
jika tren risiko tidak dikendalikan, menjadikannya salah satu penyebab utama
kematian akibat kanker di dunia.
Pencegahan dengan deteksi dini serta pengendalian faktor risiko seperti infeksi virus hepatitis, konsumsi alkohol, obesitas, dan penyakit hati berlemak sangat penting untuk mengurangi beban penyakit ini. Beban penyakit hati dimulai dari infeksi virus hepatitis yang banyak terjadi di seluruh dunia.
Menurut laporan WHO, terdapat sekitar 254 juta orang dengan hepatitis B kronis dan sekitar 50 juta orang dengan hepatitis C kronis secara global, yang merupakan penyebab utama kanker hati dan sirosis jika tidak ditangani sejak dini. Di Indonesia, Survei Kesehatan 2023 mencatat sekitar 6,7 juta penduduk terinfeksi hepatitis B dan 2,5 juta terinfeksi hepatitis C. Selain infeksi virus, faktor lain seperti penyakit hati berlemak non‑alkoholik (MASLD) semakin menjadi perhatian kesehatan.
Data epidemiologi menunjukkan bahwa prevalensi MASLD terus meningkat secara global dan menjadi penyebab utama sirosis hati, karena perubahan gaya hidup dan meningkatnya obesitas.
Dalam konferensi ilmiah ini, Dr. C. Rinaldi A. Lesmana, PhD, Sp.PD, KGEH, FACP, FACG, FINASIM, konsultan gastroentero‑hepatologi, menekankan bahwa deteksi dini penyakit hati adalah langkah paling efektif untuk mencegah perkembangan ke penyakit lanjut seperti sirosis dan kanker.
“Deteksi dini melalui skrining virus hepatitis, evaluasi fungsi hati, serta pemeriksaan non‑invasif seperti elastografi atau tes darah dapat meningkatkan peluang pasien mendapatkan perawatan lebih awal dan hasil yang lebih baik.”, ujar Dr. Rinaldi
Dr. Tan Ek Khoon, General Surgeon dari Gleneagles Hospital Singapore, menyoroti peran transplantasi hati donor hidup sebagai terapi penting bagi pasien dengan penyakit hati stadium lanjut yang tidak dapat dikendalikan sepenuhnya oleh terapi medis.
“Perkembangan prosedur transplantasi dan teknik bedah membuat intervensi ini menjadi lebih aman dan memberikan harapan baru bagi pasien,” ujarnya.
Sesi selanjutnya dibawakan oleh dr. Maria Mayasari, Sp.B‑KBD, spesialis bedah digestif dari Medistra Hospital, yang membahas inovasi dalam bedah hati, termasuk teknik yang semakin presisi untuk mengurangi komplikasi dan mempercepat pemulihan. Ia menegaskan bahwa kemajuan teknologi bedah dan kolaborasi multidisiplin sangat penting untuk meningkatkan hasil pasien.
“Dengan kemajuan teknologi dan teknik bedah, tindakan operasi hati kini dapat dilakukan lebih aman dan memberikan hasil yang lebih baik bagi pasien,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Medistra Hospital kembali menegaskan komitmennya dalam meningkatkan mutu layanan kesehatan melalui kolaborasi internasional dengan menyelenggarakan Round Table Discussion (RTD) sekaligus Signing Ceremony, kerja sama strategis bersama IHH Healthcare Singapore.
Direktur Medistra Hospital, dr. Adhitya Wardhana, MARS, menyampaikan bahwa kerja sama ini mencerminkan komitmen jangka panjang rumah sakit dalam menghadirkan layanan kesehatan terbaik.
“Kerja sama ini merupakan langkah Medistra Hospital dalam memperkuat layanan kesehatan berstandar internasional. Melalui kolaborasi dengan IHH SG, kami berharap dapat menghadirkan layanan yang semakin aman, berkualitas, dan berorientasi pada kebutuhan pasien, khususnya dalam pengembangan layanan penyakit hati.” tegasnya
Pencegahan dengan deteksi dini serta pengendalian faktor risiko seperti infeksi virus hepatitis, konsumsi alkohol, obesitas, dan penyakit hati berlemak sangat penting untuk mengurangi beban penyakit ini. Beban penyakit hati dimulai dari infeksi virus hepatitis yang banyak terjadi di seluruh dunia.
Menurut laporan WHO, terdapat sekitar 254 juta orang dengan hepatitis B kronis dan sekitar 50 juta orang dengan hepatitis C kronis secara global, yang merupakan penyebab utama kanker hati dan sirosis jika tidak ditangani sejak dini. Di Indonesia, Survei Kesehatan 2023 mencatat sekitar 6,7 juta penduduk terinfeksi hepatitis B dan 2,5 juta terinfeksi hepatitis C. Selain infeksi virus, faktor lain seperti penyakit hati berlemak non‑alkoholik (MASLD) semakin menjadi perhatian kesehatan.
Data epidemiologi menunjukkan bahwa prevalensi MASLD terus meningkat secara global dan menjadi penyebab utama sirosis hati, karena perubahan gaya hidup dan meningkatnya obesitas.
Dalam konferensi ilmiah ini, Dr. C. Rinaldi A. Lesmana, PhD, Sp.PD, KGEH, FACP, FACG, FINASIM, konsultan gastroentero‑hepatologi, menekankan bahwa deteksi dini penyakit hati adalah langkah paling efektif untuk mencegah perkembangan ke penyakit lanjut seperti sirosis dan kanker.
“Deteksi dini melalui skrining virus hepatitis, evaluasi fungsi hati, serta pemeriksaan non‑invasif seperti elastografi atau tes darah dapat meningkatkan peluang pasien mendapatkan perawatan lebih awal dan hasil yang lebih baik.”, ujar Dr. Rinaldi
Dr. Tan Ek Khoon, General Surgeon dari Gleneagles Hospital Singapore, menyoroti peran transplantasi hati donor hidup sebagai terapi penting bagi pasien dengan penyakit hati stadium lanjut yang tidak dapat dikendalikan sepenuhnya oleh terapi medis.
“Perkembangan prosedur transplantasi dan teknik bedah membuat intervensi ini menjadi lebih aman dan memberikan harapan baru bagi pasien,” ujarnya.
Sesi selanjutnya dibawakan oleh dr. Maria Mayasari, Sp.B‑KBD, spesialis bedah digestif dari Medistra Hospital, yang membahas inovasi dalam bedah hati, termasuk teknik yang semakin presisi untuk mengurangi komplikasi dan mempercepat pemulihan. Ia menegaskan bahwa kemajuan teknologi bedah dan kolaborasi multidisiplin sangat penting untuk meningkatkan hasil pasien.
“Dengan kemajuan teknologi dan teknik bedah, tindakan operasi hati kini dapat dilakukan lebih aman dan memberikan hasil yang lebih baik bagi pasien,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Medistra Hospital kembali menegaskan komitmennya dalam meningkatkan mutu layanan kesehatan melalui kolaborasi internasional dengan menyelenggarakan Round Table Discussion (RTD) sekaligus Signing Ceremony, kerja sama strategis bersama IHH Healthcare Singapore.
Direktur Medistra Hospital, dr. Adhitya Wardhana, MARS, menyampaikan bahwa kerja sama ini mencerminkan komitmen jangka panjang rumah sakit dalam menghadirkan layanan kesehatan terbaik.
“Kerja sama ini merupakan langkah Medistra Hospital dalam memperkuat layanan kesehatan berstandar internasional. Melalui kolaborasi dengan IHH SG, kami berharap dapat menghadirkan layanan yang semakin aman, berkualitas, dan berorientasi pada kebutuhan pasien, khususnya dalam pengembangan layanan penyakit hati.” tegasnya
News
View MoreOur Services
Sonora Education And Talent Management
Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Research Solution
Your Research Solution for Comprehensive Coverage, Reliable Sources, and Diverse Perspectives