Konsumsi Susu Nasional Masih Rendah, Distribusi & Gizi Jadi Tantangan dalam Program MBG
21 Januari 2026 18:47 WIB
Riko Marbun
Photo: Sicil/Istimewa
Serang, Sonora.co.id - Tingkat konsumsi susu masyarakat
Indonesia masih tergolong rendah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat
konsumsi susu nasional hanya sekitar 16,3 kg per kapita per tahun, jauh di
bawah beberapa negara Asia Tenggara. Kondisi ini menjadi bagian dari tantangan
lebih luas terkait pemenuhan gizi anak dan percepatan penurunan stunting di
Indonesia.
Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang dirilis Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa prevalensi stunting nasional turun menjadi 19,8 %, tetapi masih jauh dari target penurunan lebih lanjut sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Penanganan masalah stunting dinilai membutuhkan intervensi gizi optimal sejak 1.000 hari pertama kehidupan. Kementerian Kesehatan RI juga menekankan pentingnya asupan protein hewani, termasuk susu dan produk olahannya, untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Protein hewani mengandung asam amino esensial, vitamin, dan mineral yang penting dalam pencegahan stunting dan peningkatan status gizi anak.
Studi Kemenkes menunjukkan adanya hubungan kuat antara konsumsi pangan hewani termasuk susu dengan penurunan risiko stunting pada balita usia 6–23 bulan. Namun berdasarkan data Susenas 2022, meskipun konsumsi protein per kapita secara keseluruhan berada di atas standar nasional, konsumsi protein hewani seperti telur dan susu masih sangat rendah. Rata-rata konsumsi susu dan telur hanya sekitar 3,37 gram per hari per kapita, jauh dari rekomendasi ideal untuk pemenuhan kebutuhan protein hewani bagi pertumbuhan optimal anak. Rendahnya konsumsi susu juga terkait dengan tantangan distribusi di wilayah kepulauan dan daerah terpencil. Produk bernutrisi tinggi seperti susu memerlukan dukungan sistem logistik yang mampu menjaga kualitas hingga sampai ke konsumen, sementara keterbatasan infrastruktur rantai dingin sering menjadi kendala di berbagai daerah.
Direktur Utama PT Lami Packaging Indonesia, Hongbiao Li, mengatakan susu memiliki peran penting dalam mendukung pemenuhan gizi anak. Ia menilai keberhasilan program gizi nasional tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan produk, tetapi juga oleh kemampuan menjaga kualitas nutrisi selama proses distribusi ke wilayah jauh. Sejalan dengan persoalan tersebut, digelar Anugerah Jurnalistik 2026 yang mendorong peran media dalam mengawal kebijakan pemenuhan gizi nasional, khususnya integrasi susu dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kompetisi ini terbuka bagi jurnalis media cetak, daring, dan televisi dengan kategori Hard News dan Feature, serta dinilai oleh dewan juri dari kalangan praktisi media dan akademisi komunikasi. Melalui karya jurnalistik yang informatif dan berimbang, pers diharapkan dapat berkontribusi dalam membangun diskursus publik terkait gizi dan keamanan pangan menuju Indonesia Emas 2045.
Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang dirilis Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa prevalensi stunting nasional turun menjadi 19,8 %, tetapi masih jauh dari target penurunan lebih lanjut sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Penanganan masalah stunting dinilai membutuhkan intervensi gizi optimal sejak 1.000 hari pertama kehidupan. Kementerian Kesehatan RI juga menekankan pentingnya asupan protein hewani, termasuk susu dan produk olahannya, untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Protein hewani mengandung asam amino esensial, vitamin, dan mineral yang penting dalam pencegahan stunting dan peningkatan status gizi anak.
Studi Kemenkes menunjukkan adanya hubungan kuat antara konsumsi pangan hewani termasuk susu dengan penurunan risiko stunting pada balita usia 6–23 bulan. Namun berdasarkan data Susenas 2022, meskipun konsumsi protein per kapita secara keseluruhan berada di atas standar nasional, konsumsi protein hewani seperti telur dan susu masih sangat rendah. Rata-rata konsumsi susu dan telur hanya sekitar 3,37 gram per hari per kapita, jauh dari rekomendasi ideal untuk pemenuhan kebutuhan protein hewani bagi pertumbuhan optimal anak. Rendahnya konsumsi susu juga terkait dengan tantangan distribusi di wilayah kepulauan dan daerah terpencil. Produk bernutrisi tinggi seperti susu memerlukan dukungan sistem logistik yang mampu menjaga kualitas hingga sampai ke konsumen, sementara keterbatasan infrastruktur rantai dingin sering menjadi kendala di berbagai daerah.
Direktur Utama PT Lami Packaging Indonesia, Hongbiao Li, mengatakan susu memiliki peran penting dalam mendukung pemenuhan gizi anak. Ia menilai keberhasilan program gizi nasional tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan produk, tetapi juga oleh kemampuan menjaga kualitas nutrisi selama proses distribusi ke wilayah jauh. Sejalan dengan persoalan tersebut, digelar Anugerah Jurnalistik 2026 yang mendorong peran media dalam mengawal kebijakan pemenuhan gizi nasional, khususnya integrasi susu dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kompetisi ini terbuka bagi jurnalis media cetak, daring, dan televisi dengan kategori Hard News dan Feature, serta dinilai oleh dewan juri dari kalangan praktisi media dan akademisi komunikasi. Melalui karya jurnalistik yang informatif dan berimbang, pers diharapkan dapat berkontribusi dalam membangun diskursus publik terkait gizi dan keamanan pangan menuju Indonesia Emas 2045.
News
View MoreOur Services
Sonora Education And Talent Management
Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Research Solution
Your Research Solution for Comprehensive Coverage, Reliable Sources, and Diverse Perspectives