Kemenkes Mobilisasi 848 Tenaga Kesehatan Hadapi Dampak Karhutla
29 Agustus 2026 18:42 WIB
Riko Marbun
Photo: Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes
Jakarta, Sonora.Co.ID - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI memperkuat kesiapsiagaan menghadapi dampak kesehatan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Indonesia. Sebanyak 848 tenaga kesehatan telah dimobilisasi untuk memastikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak tetap berjalan.
Wakil Menteri Kesehatan RI Prof. Dante Saksono Harbuwono menyampaikan perkembangan penanganan dampak kesehatan karhutla dalam media briefing di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Jumat (28/8/2026).
Berdasarkan Situation Report Kemenkes per 27 Agustus 2026, karhutla berdampak pada tujuh provinsi, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan.
Total penduduk yang terdampak mencapai 10.674.201 orang. Dari jumlah tersebut, tercatat 123 orang mengalami luka berat atau menjalani rawat inap, sementara dua orang mengalami luka ringan atau menjalani rawat jalan. Hingga laporan diperbarui, belum tercatat korban meninggal dunia maupun pengungsi.
“Karhutla tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, terutama akibat paparan asap dan partikulat. Karena itu, kita perlu memastikan masyarakat terlindungi dan pelayanan kesehatan tetap siap,” ujar Dante.
Kasus ISPA Capai 13.449 Kasus
Gangguan kesehatan yang paling banyak ditemukan akibat paparan asap karhutla adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Kemenkes mencatat terdapat 4.082 kasus ISPA pada 27 Agustus 2026, dengan jumlah kumulatif mencapai 13.449 kasus. Kasus tersebut tersebar di 63 kabupaten/kota pada tujuh provinsi yang terdampak karhutla.
Selain ISPA, paparan asap karhutla dapat memicu batuk, sesak napas, radang tenggorokan, asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), serta iritasi pada mata dan kulit. Paparan asap juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke, terutama pada kelompok rentan.
“Kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma atau PPOK, serta pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan,” kata Dante.
Kualitas Udara Sejumlah Wilayah Masuk Kategori Berbahaya
Kondisi kualitas udara di sejumlah daerah terdampak karhutla juga menjadi perhatian pemerintah. Berdasarkan pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pada 27 Agustus 2026 pukul 16.26 WIB, beberapa wilayah berada dalam kategori "sangat tidak sehat hingga berbahaya", dengan PM2.5 menjadi parameter kritis.
Pontianak, Kalimantan Barat, mencatat nilai ISPU 328 atau masuk kategori berbahaya. Sementara itu, Kabupaten Tebo di Jambi memiliki nilai 287, Barito Selatan di Kalimantan Tengah 274, Katingan 258, dan Kabupaten Pali di Sumatera Selatan 255. Keempat wilayah tersebut masuk kategori sangat tidak sehat.
Untuk memperkuat pelayanan kesehatan, pemerintah daerah bersama Kemenkes telah memobilisasi 848 tenaga kesehatan di tujuh provinsi terdampak. Tenaga kesehatan yang dikerahkan mencakup dokter, perawat, bidan, tenaga kesehatan masyarakat, analis, tenaga farmasi, epidemiolog, sanitarian, hingga tenaga pendukung lainnya.
Dukungan logistik kesehatan juga disalurkan ke daerah terdampak. Pemerintah daerah telah memobilisasi 394.385 masker, 56 unit oksigen konsentrator, 1.000 pasang sarung tangan, 103 tabung Oxycan, 40 dus makanan tambahan (PMT), 36 face shield, dan delapan APD.
Sementara itu, Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes telah mendistribusikan 432.000 masker, 169 unit oksigen konsentrator, 40.000 pasang sarung tangan, 4.900 APD, serta tiga unit air purifier ke sejumlah wilayah terdampak.
Kemenkes juga menyiapkan 1.691 Puskesmas, 360 rumah sakit rujukan, dan 87 Labkesmas untuk mendukung penanganan dampak kesehatan karhutla. Kesiapsiagaan juga diperkuat melalui Public Safety Center (PSC) 119 dan Tenaga Cadangan Kesehatan di kabupaten/kota.
Riau Catat 3.293 Kasus ISPA
Di Provinsi Riau, dampak kesehatan akibat karhutla hingga 27 Agustus 2026 telah meluas ke 12 kabupaten/kota.
Dinas Kesehatan Provinsi Riau mencatat sekitar 3.293 kasus ISPA. Kasus terbanyak dilaporkan di Kota Pekanbaru dengan sekitar 900 kasus, disusul Kabupaten Pelalawan sekitar 600 kasus dan Kabupaten Kampar.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau Zulkifli mengatakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak terus diperkuat melalui fasilitas kesehatan yang tersedia.
Dinkes Riau juga telah mengaktifkan Emergency Medical Team (EMT) di 244 Puskesmas serta menyiagakan dukungan oksigen di wilayah terdampak.
“Untuk tindakan preventif, kami sudah membagikan sekitar 69.000 masker di 12 kabupaten/kota, khususnya di Pelalawan kami sudah dropping 28.000 masker,” ujar Zulkifli.
Selain masker, Dinkes Riau memberikan makanan tambahan bagi kelompok rentan, seperti ibu hamil, bayi, dan balita.
Masyarakat, khususnya kelompok rentan, juga diimbau mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara memburuk.
Kemenkes Imbau Masyarakat Pantau Kualitas Udara
Kemenkes mengimbau masyarakat di wilayah terdampak karhutla untuk memantau kualitas udara dan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara tidak sehat.
Jika harus beraktivitas di luar ruangan, masyarakat dianjurkan menggunakan masker dan pelindung mata. Masyarakat juga diminta menjaga kecukupan cairan dengan minum air yang cukup serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Masyarakat yang mengalami keluhan seperti batuk, sesak napas, atau iritasi mata juga diminta segera mengakses fasilitas pelayanan kesehatan.
Kemenkes bersama pemerintah daerah akan terus memantau kualitas udara, melakukan surveilans penyakit, memperkuat pelayanan kesehatan, memberikan edukasi kepada masyarakat, serta memastikan ketersediaan obat-obatan, oksigen, masker, dan logistik kesehatan di wilayah terdampak karhutla.
News
View MoreOur Services
Sonora Education And Talent Management
Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Research Solution
Your Research Solution for Comprehensive Coverage, Reliable Sources, and Diverse Perspectives