Komitmen Negara Pastikan Pasokan Pangan Warga Terdampak Bencana di NTT
21 Agustus 2026 21:56 WIB
Theresia Olivia Itran
Photo: *dok BNPB
Jakarta, Sonora.co.id - Di tengah duka dan perjuangan warga
Nusa Tenggara Timur (NTT) menata kembali hidup yang sempat luluh lantak akibat
bencana, sebuah pesan tegas nan menenangkan hadir dari pemerintah: tidak
boleh ada satu pun warga yang dibiarkan kelaparan.
Masa pemulihan pascabencana kerap menjadi fase yang paling berat. Saat warga berfokus membenahi rumah yang rusak dan mengumpulkan sisa-sisa harapan, urusan perut tidak boleh sampai menjadi beban tambahan.
Pemerintah memastikan seluruh kebutuhan pokok penyintas bencana di NTT dipenuhi sepenuhnya, tanpa cela. Langkah ini dirancang bukan sekadar sebagai penyaluran bantuan rutin, melainkan wujud kepedulian nyata untuk mendampingi masyarakat hingga benar-benar mandiri kembali.
"Yang jelas, tidak boleh ada yang tidak kebagian bantuan atau kelaparan. Itu tidak boleh. Apa pun caranya, transportasi darat, laut, udara, kita lakukan semua," tegas Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman, Kamis (20/08/2026).
Pesan tersebut disampaikan Amran mengutip arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto, yang meminta seluruh jajaran bergerak cepat tanpa terhalang tembok birokrasi saat masyarakat membutuhkan bantuan mendesak di lapangan.
Menjangkau Lima Kabupaten Terdampak
Fokus perhatian penuh tertuju pada lima kabupaten terdampak gempa, yakni Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Sikka, dan Nagekeo. Di wilayah-wilayah ini, ribuan keluarga tengah berusaha bangkit dari trauma. Guna memastikan pasokan pangan tak terputus, Bapanas mencatat alokasi bantuan pangan reguler dan darurat untuk NTT mencapai 26.440,4 ton.
Khusus untuk lima kabupaten terdampak gempa, sebanyak 6.673,2 ton bantuan pangan telah dan sedang diguyur secara bertahap. Bahkan, demi merespons kebutuhan mendesak warga di Manggarai, sebanyak 15 ton beras langsung diterjunkan dan jumlahnya dipastikan terus bertambah sesuai kebutuhan riil di lapangan.
Menembus Birokrasi demi Perut Warga
Menyadari bahwa rasa lapar tidak bisa menunggu surat keputusan, Bapanas menginstruksikan seluruh tim di daerah untuk memangkas proses administrasi yang berbelit. Jika stok di lapangan menipis atau warga membutuhkan pasokan darurat, distribusi harus segera dilakukan saat itu juga.
"Kapan saja butuh, enggak masalah. Jadi jangan menunggu bulan, tiba-tiba sudah habis. Tim kami 24 jam di posko," ujar Amran.
Saat ini, ketersediaan stok beras di NTT berada di angka aman, yakni sekitar 39.000 ton. Angka ini jauh melebihi estimasi kebutuhan bulanan sekitar 34.600 pengungsi yang berada di kisaran 300 ton per bulan. "Intinya tidak akan kekurangan beras. Kalau beras, tanggung jawab saya," imbuhnya menjamin. Kehadiran logistik dan kepastian pasokan pangan ini diharapkan dapat memberikan ruang bernapas bagi para penyintas.
Dengan jaminan bahwa dapur mereka tetap ngebul, warga terdampak kini bisa mengalihkan energi dan fokus mereka untuk memperbaiki tempat tinggal, memulihkan mata pencaharian, serta merajut kembali masa depan keluarga mereka.
Masa pemulihan pascabencana kerap menjadi fase yang paling berat. Saat warga berfokus membenahi rumah yang rusak dan mengumpulkan sisa-sisa harapan, urusan perut tidak boleh sampai menjadi beban tambahan.
Pemerintah memastikan seluruh kebutuhan pokok penyintas bencana di NTT dipenuhi sepenuhnya, tanpa cela. Langkah ini dirancang bukan sekadar sebagai penyaluran bantuan rutin, melainkan wujud kepedulian nyata untuk mendampingi masyarakat hingga benar-benar mandiri kembali.
"Yang jelas, tidak boleh ada yang tidak kebagian bantuan atau kelaparan. Itu tidak boleh. Apa pun caranya, transportasi darat, laut, udara, kita lakukan semua," tegas Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman, Kamis (20/08/2026).
Pesan tersebut disampaikan Amran mengutip arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto, yang meminta seluruh jajaran bergerak cepat tanpa terhalang tembok birokrasi saat masyarakat membutuhkan bantuan mendesak di lapangan.
Menjangkau Lima Kabupaten Terdampak
Fokus perhatian penuh tertuju pada lima kabupaten terdampak gempa, yakni Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Sikka, dan Nagekeo. Di wilayah-wilayah ini, ribuan keluarga tengah berusaha bangkit dari trauma. Guna memastikan pasokan pangan tak terputus, Bapanas mencatat alokasi bantuan pangan reguler dan darurat untuk NTT mencapai 26.440,4 ton.
Khusus untuk lima kabupaten terdampak gempa, sebanyak 6.673,2 ton bantuan pangan telah dan sedang diguyur secara bertahap. Bahkan, demi merespons kebutuhan mendesak warga di Manggarai, sebanyak 15 ton beras langsung diterjunkan dan jumlahnya dipastikan terus bertambah sesuai kebutuhan riil di lapangan.
Menembus Birokrasi demi Perut Warga
Menyadari bahwa rasa lapar tidak bisa menunggu surat keputusan, Bapanas menginstruksikan seluruh tim di daerah untuk memangkas proses administrasi yang berbelit. Jika stok di lapangan menipis atau warga membutuhkan pasokan darurat, distribusi harus segera dilakukan saat itu juga.
"Kapan saja butuh, enggak masalah. Jadi jangan menunggu bulan, tiba-tiba sudah habis. Tim kami 24 jam di posko," ujar Amran.
Saat ini, ketersediaan stok beras di NTT berada di angka aman, yakni sekitar 39.000 ton. Angka ini jauh melebihi estimasi kebutuhan bulanan sekitar 34.600 pengungsi yang berada di kisaran 300 ton per bulan. "Intinya tidak akan kekurangan beras. Kalau beras, tanggung jawab saya," imbuhnya menjamin. Kehadiran logistik dan kepastian pasokan pangan ini diharapkan dapat memberikan ruang bernapas bagi para penyintas.
Dengan jaminan bahwa dapur mereka tetap ngebul, warga terdampak kini bisa mengalihkan energi dan fokus mereka untuk memperbaiki tempat tinggal, memulihkan mata pencaharian, serta merajut kembali masa depan keluarga mereka.
Our Services
Sonora Education And Talent Management
Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Research Solution
Your Research Solution for Comprehensive Coverage, Reliable Sources, and Diverse Perspectives