Beasiswa SCG Dorong Generasi Muda Jadi Talenta yang Berdampak bagi Masyarakat

11 Agustus 2026 13:28 WIB
Riko Marbun
Photo: rin/istimewa
Jakarta, Sonora.Co.ID - Beasiswa bagi generasi muda dinilai perlu melampaui dukungan biaya pendidikan. Pengalaman praktis, pengembangan keterampilan, pendampingan, hingga kesempatan terlibat dalam proyek sosial menjadi bagian penting untuk membentuk talenta muda yang mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Pendekatan tersebut diterapkan dalam program SCG Sharing the Dream, yang telah berjalan selama 14 tahun di Indonesia. Program ini tidak hanya memberikan bantuan pendidikan, tetapi juga membangun ekosistem yang melibatkan pelajar, sekolah, guru, komunitas, hingga dunia industri.

President Director PT SCG Indonesia Pattaraphon Charttongkum mengatakan Indonesia menjadi salah satu fokus program karena memiliki populasi generasi muda yang besar dan potensi sumber daya manusia yang kuat.

“Yang kami lihat dapat kami dukung adalah bagaimana kita mengembangkan modal manusia. Jadi kami tidak hanya mendukung pendidikan, tetapi juga bagaimana mengembangkannya menjadi generasi yang siap berkontribusi bagi negara,” ujar Pattaraphon dalam Media Briefing SCG Sharing the Dream 2026 Awarding Ceremony di Jakarta, Selasa (11/8/2026).

Menurut Pattaraphon, dukungan terhadap generasi muda perlu diberikan secara lebih menyeluruh. Selain akses pendidikan, penerima beasiswa perlu mendapatkan pengalaman yang dapat meningkatkan keterampilan serta kesiapan menghadapi kebutuhan industri dan berbagai persoalan di lingkungan sekitarnya.

Karena itu, SCG Sharing the Dream menggabungkan dukungan finansial dengan pengalaman mengerjakan proyek komunitas dan pengembangan kapasitas guru.

Selama 14 tahun pelaksanaannya di Indonesia, program tersebut telah memberikan dukungan kepada lebih dari 5.200 pelajar dengan total bantuan finansial sekitar Rp22 miliar.

Program beasiswa itu juga mendorong penerima manfaat terlibat langsung dalam proyek komunitas. Hingga kini tercatat 12 proyek komunitas telah dijalankan para penerima beasiswa dan memberikan manfaat kepada sekitar 7.600 anggota masyarakat.

“Ini bukan hanya untuk mendukung SCG, tetapi juga untuk mendukung diri kita sendiri. Kami memiliki tujuan untuk berkembang secara inklusif,” kata Pattaraphon.

Konsep inklusif dalam SCG Sharing the Dream diwujudkan melalui kolaborasi dengan sekolah, pelajar, guru, dan komunitas. Program tersebut juga memasukkan aspek lingkungan atau green untuk meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap keberlanjutan dan prinsip environmental, social, and governance (ESG).

Budaya juga menjadi bagian dari pendekatan program. SCG menilai pertumbuhan bisnis perlu berjalan seiring dengan perkembangan komunitas di sekitarnya.

“Bagaimana kita bisa tumbuh? Kita tidak bisa tumbuh hanya dengan bisnis. Kita harus berkembang bersama komunitas,” ujar Pattaraphon.

Vice President Corporate Administration SCG Paramate Nisnagornsen mengatakan nama Sharing the Dream dipilih untuk menegaskan bahwa program tersebut bukan sekadar bantuan biaya sekolah.

Menurutnya, pendidikan formal hanya menjadi salah satu bagian dari proses. Generasi muda juga membutuhkan kesempatan untuk terus belajar, mengembangkan kemampuan, dan menghasilkan dampak bagi lingkungan sekitarnya.

“Ini bukan sekadar tentang pergi ke sekolah. Ini tentang belajar menjadi warga negara yang baik, menjadi warga yang aktif, dan memberikan dampak kepada keluarga, komunitas lokal, serta bangsa,” katanya.

Paramate menilai generasi muda ASEAN memiliki modal penting untuk menghadapi berbagai tantangan masa depan. Mereka dinilai memiliki kepedulian terhadap lingkungan, perubahan iklim, serta isu keberlanjutan.

Melalui program tersebut, SCG berupaya membuka kesempatan bagi generasi muda dari berbagai latar belakang agar kemampuan dan energi mereka dapat diarahkan untuk membangun lingkungan yang lebih baik dan inklusif.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Pusat Prestasi Nasional Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Maria Veronica Irene Herdjiono mengapresiasi pendekatan SCG yang tidak berhenti pada pemberian beasiswa.

Berdasarkan riset Pusat Prestasi Nasional, kata Irene, pelajar bertalenta membutuhkan dukungan pembiayaan pendidikan sekaligus pengembangan diri.

“Jadi mereka tidak hanya ingin sampai pada pencapaian prestasi, pada medali, tetapi ingin terus mengembangkan diri. Dan itu yang diberikan oleh SCG. Mereka tidak hanya memberikan beasiswa, tetapi juga pelatihan,” ujarnya.

Irene mengatakan talenta muda Indonesia memiliki resiliensi dan kemampuan belajar yang kuat. Namun, kemampuan tersebut perlu diperkuat dengan keterampilan beradaptasi dan berpikir kritis sehingga gagasan yang dimiliki dapat diwujudkan menjadi aksi.

Pada 2026, sebanyak delapan siswa berprestasi menerima beasiswa SCG Sharing the Dream.

Dalam konteks manajemen talenta nasional, Irene menilai kontribusi program tersebut terutama terlihat pada tahap kapitalisasi talenta. Pengetahuan dan kemampuan penerima beasiswa tidak hanya diarahkan untuk pencapaian individu, tetapi juga digunakan untuk membantu menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat.

“Pengetahuan dan kemampuan apabila tidak diimplementasikan tidak akan menjawab permasalahan di lapangan,” ujarnya.

Dampak program juga terlihat dari pengalaman alumni SCG Sharing the Dream 2025, Lulita Sauman, yang mengembangkan proyek Wanoja di kampung halamannya.

Lulita melihat banyak anak muda di daerahnya kehilangan akses untuk mengembangkan keterampilan dan kepercayaan diri dalam membangun masa depan. Kondisi tersebut juga berkaitan dengan sejumlah persoalan sosial, termasuk pernikahan di usia muda.

Melalui Wanoja Green Academy, Lulita memberdayakan 50 anak muda untuk belajar bahasa Inggris sekaligus mengembangkan potensi ekowisata desa.

Program tersebut juga mengajak masyarakat mengolah sampah plastik menjadi suvenir serta mendorong pengembangan desa wisata. Hingga kini, program itu telah membantu menghadirkan 20 wisatawan internasional dari 12 negara, dengan anak-anak muda setempat berperan sebagai pemandu wisata berbahasa Inggris.

Bagi Lulita, pengalaman sebagai penerima beasiswa turut mengubah cara pandangnya mengenai kepemimpinan. Ia belajar bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya memberikan instruksi, tetapi harus memahami kebutuhan masyarakat dan menjadikan masyarakat sebagai mitra.

“Dampaknya bukan hanya menjadi milik saya, tetapi juga menjadi milik mereka,” pungkasnya.

Sonora Network

Our Services

Sonora Education And Talent Management

Sonora Education And Talent Management

Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Research Solution

Research Solution

Your Research Solution for Comprehensive Coverage, Reliable Sources, and Diverse Perspectives
Management Services

Management Services

Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Event Management

Event Management

Step into Syandana, we deliver exceptional tailored event solutions

We'll reach out to you to talk about what we can do to keep leading, together.

Let’s Collaborate!

Our Satisfied Partners

Kementrian Pajak
Kementrian PUPR
Kementerian Dinas Perhubungan
Kementrian Kominfo
Kementrian Agama
Kementrian Hukum dan HAM
Telkomsek
ASDP
Nuvo Family
Pertamina
Bear Brand
Sarirasa Group
Gopek House
Counterpain
PLN
Kementrian Pelni
Ayaxx
Wincos