APTISI dan Kemendiktisaintek Siapkan Standardisasi Kepemimpinan Kampus Hadapi Pendidikan 2035

21 Oktober 2026 20:30 WIB
Riko Marbun
Photo: APTISI Pusat
Jakarta, Sonora.Co.ID - Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) memperkuat standardisasi dan kompetensi pimpinan perguruan tinggi untuk menghadapi transformasi pendidikan menuju 2035. Upaya ini dilakukan melalui program APTISI Executive Rector Leadership Academy (AERLA), yang dirancang untuk meningkatkan kualitas kepemimpinan, tata kelola, dan daya saing perguruan tinggi di Indonesia.

Ketua Umum APTISI Budi Djatmiko mengatakan, standardisasi menjadi kebutuhan mendesak karena kualitas dan kompetensi tenaga pendidik serta pimpinan pendidikan masih perlu diperkuat secara berkelanjutan. Ia merujuk Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, khususnya Pasal 34, yang menurutnya menjadi salah satu landasan untuk mendorong standardisasi dalam pendidikan.

Budi menjelaskan, APTISI telah memulai upaya tersebut, tetapi pelaksanaannya belum berlangsung secara berkesinambungan. Pada Juni 2025, APTISI bersama Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto kembali menjadikan penguatan kapasitas pimpinan perguruan tinggi sebagai salah satu fokus kerja bersama.

“Ini menjadi fokus pekerjaan Kementerian bersama APTISI. Diprogramkan dengan biaya bersama,” ujar Budi saat menjelaskan program pengembangan kepemimpinan perguruan tinggi dalam rangkaian AERLA di Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Menurut Budi, program tersebut juga diarahkan untuk mewujudkan gagasan penguatan pendidikan tinggi yang telah diperjuangkan APTISI dan, menurutnya, mendapat dukungan Presiden Prabowo Subianto sejak 2014.

APTISI akan melanjutkan program pelatihan berbasis training of trainers (ToT) dengan melibatkan rektor-rektor yang dinilai memiliki pengalaman dan kapasitas kepemimpinan untuk membagikan pengetahuan kepada pimpinan perguruan tinggi lainnya.

Program tersebut ditargetkan menjangkau sekitar 4.200 rektor, sekaligus dekan, ketua program studi, pimpinan perguruan tinggi, hingga pengelola yayasan. APTISI berharap penguatan kapasitas tersebut dapat diteruskan secara berjenjang kepada dosen dan mahasiswa, serta lingkungan pendidikan pada jenjang sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas.

Budi menegaskan, transformasi pendidikan tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang sama seperti sebelumnya. Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), disrupsi teknologi, dan perubahan ekosistem pembelajaran menuntut perguruan tinggi menyiapkan kepemimpinan yang lebih adaptif.

Ia memperkenalkan gagasan Pendidikan 6.0 sebagai perspektif untuk mempersiapkan perguruan tinggi menghadapi perubahan besar yang diperkirakan semakin terasa pada 2035.

“Pendidikan di tahun 2035 itu berbeda sekali. Maka, kami harus mempersiapkan lebih dini para rektor, pimpinan perguruan tinggi untuk menghadapi perubahan,” kata Budi.

Menurutnya, perubahan juga menyangkut model penyelenggaraan pendidikan tinggi. Jika sebelumnya kampus identik dengan bangunan fisik dan pembelajaran yang berpusat pada ruang kelas, perkembangan teknologi kini mendorong munculnya kampus berbasis *cloud* atau komputasi awan.

Karena itu, APTISI akan mendorong pertukaran pengalaman dan gagasan di antara para pimpinan perguruan tinggi. Rektor yang memiliki praktik baik dan pemikiran inovatif diharapkan dapat menginspirasi pimpinan kampus lainnya dalam merancang strategi, desain kelembagaan, serta kurikulum yang relevan dengan kebutuhan masa depan.

Budi menegaskan, rektor dan pimpinan perguruan tinggi memegang posisi penting dalam proses transformasi karena kebijakan di tingkat pimpinan akan memengaruhi arah pengembangan dosen, mahasiswa, dan keseluruhan ekosistem pendidikan.


Kemendiktisaintek Dukung Penguatan Kompetensi Pimpinan Kampus

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendiksaintek Khairul Munadi mengapresiasi inisiatif APTISI dalam memperkuat kapasitas kepemimpinan perguruan tinggi. Menurutnya, kepemimpinan merupakan salah satu kunci utama dalam mendorong kemajuan dan transformasi perguruan tinggi.

Khairul menilai, program AERLA sejalan dengan upaya Kemendiktisaintek dalam mewujudkan pendidikan tinggi, sains, dan teknologi yang berdampak bagi masyarakat.

Ia menjelaskan, kementerian juga menjalankan program pengembangan kepemimpinan bagi pimpinan perguruan tinggi negeri serta calon pemimpin masa depan melalui program future leaders.

Menurut Khairul, inisiatif APTISI dan program kementerian dapat saling melengkapi untuk mempercepat peningkatan kompetensi pimpinan perguruan tinggi, baik perguruan tinggi negeri (PTN) maupun perguruan tinggi swasta (PTS).

“Dengan inisiatif dari APTISI, kita bisa mempercepat untuk bisa memberikan ataupun meningkatkan kompetensi para pemimpin di perguruan tinggi, baik PTN atau PTS. Bayangkan kalau ini dilakukan sendiri tentu akan lama dengan jumlah yang begitu besar,” ujar Khairul.

Ia menambahkan, keterlibatan APTISI dalam merancang dan melaksanakan program memungkinkan peningkatan kapasitas pimpinan kampus dilakukan secara lebih luas dan dalam waktu yang bersamaan.

Kementerian, lanjut Khairul, akan menelaah lebih lanjut implementasi program melalui unit terkait. Evaluasi tersebut diperlukan agar pelaksanaan kegiatan dapat terus diperbaiki dan memberikan dampak terhadap peningkatan kualitas ekosistem pendidikan tinggi di Indonesia.

Khairul juga menyebutkan bahwa Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto telah memberikan motivasi dan perspektif mengenai transformasi, tidak hanya dalam konteks perguruan tinggi, tetapi juga dalam cakupan transformasi bangsa.


AERLA Perkuat Tata Kelola dan Daya Saing Perguruan Tinggi

Program AERLA merupakan akademi kepemimpinan eksekutif yang dirancang untuk membekali rektor, ketua, dan direktur perguruan tinggi swasta dengan kemampuan kepemimpinan modern, pengembangan kemitraan strategis, serta transformasi digital.

Dalam siaran pers APTISI, program ini diproyeksikan menjadi program strategis jangka panjang untuk mempercepat peningkatan mutu dan tata kelola bagi sekitar 70.000 pimpinan PTS di Indonesia.

Pada angkatan pertama, sebanyak 40 rektor dari perguruan tinggi swasta bereputasi unggul mengikuti rangkaian pengembangan kepemimpinan, kolaborasi riset, dan penguatan kemitraan industri pada 21–23 Oktober 2026.

Sesi lanjutan AERLA diselenggarakan di Auditorium Kemendiktisaintek, Jakarta, dengan menghadirkan Menteri Brian Yuliarto, Utusan Khusus Presiden Hashim S. Djojohadikusumo, jajaran pimpinan kementerian, pengurus pusat APTISI, serta para rektor perguruan tinggi swasta dari berbagai daerah.

Ketua Umum APTISI Budi Djatmiko sebelumnya menegaskan, AERLA dirancang sebagai ruang berbagi praktik baik, pertukaran pengalaman, dan perumusan solusi atas tantangan pendidikan tinggi di tingkat global.

Melalui program tersebut, APTISI dan Kemendiktisaintek berharap kepemimpinan perguruan tinggi semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi, mampu memperkuat kolaborasi riset dan industri, serta meningkatkan kualitas tata kelola kampus.

Penguatan kapasitas pimpinan perguruan tinggi diharapkan menjadi langkah awal transformasi yang menjangkau seluruh ekosistem pendidikan, sehingga perguruan tinggi Indonesia lebih siap menghadapi perubahan pada 2035 dan berkontribusi terhadap pencapaian Indonesia Emas 2045.
Sonora Network

Our Services

Sonora Education And Talent Management

Sonora Education And Talent Management

Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Research Solution

Research Solution

Your Research Solution for Comprehensive Coverage, Reliable Sources, and Diverse Perspectives
Management Services

Management Services

Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Event Management

Event Management

Step into Syandana, we deliver exceptional tailored event solutions

We'll reach out to you to talk about what we can do to keep leading, together.

Let’s Collaborate!

Our Satisfied Partners

Kementrian Pajak
Kementrian PUPR
Kementerian Dinas Perhubungan
Kementrian Kominfo
Kementrian Agama
Kementrian Hukum dan HAM
Telkomsek
ASDP
Nuvo Family
Pertamina
Bear Brand
Sarirasa Group
Gopek House
Counterpain
PLN
Kementrian Pelni
Ayaxx
Wincos