MPR Dorong Pemanfaatan AI untuk Cegah Karhutla Berulang
16 Oktober 2026 15:31 WIB
liliek
Photo: istimewa
Jakarta, Sonora.co.id – Wakil Ketua MPR RI Edi Suparno menilai penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tengah berlangsung menunjukkan upaya serius pemerintah. Namun, menurutnya, langkah yang lebih penting ke depan adalah memperkuat sistem pencegahan agar bencana serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau.
Edi mengapresiasi pengerahan puluhan ribu personel untuk memadamkan kebakaran di berbagai wilayah terdampak. Di tengah kondisi cuaca ekstrem yang dipengaruhi fenomena El Nino, ia menilai kolaborasi lintas sektor dan dukungan dari negara-negara tetangga menjadi faktor penting dalam mempercepat pengendalian kebakaran.
“Sekarang kita sudah melihat sekitar 60 ribu personel diturunkan untuk melakukan penanganan. Memang tahun ini karhutla lebih luar biasa akibat dampak super El Nino yang kita rasakan. Dengan terbukanya kerja sama dengan negara-negara tetangga, saya kira ini merupakan satu upaya untuk mempercepat penyelesaian pemadaman karhutla yang ada,” kata Edi.
Ia juga berharap kondisi di lapangan dapat segera terkendali seiring dukungan berbagai pihak dan perubahan cuaca yang mulai menguntungkan. Menurutnya, turunnya hujan di sejumlah daerah dapat membantu mempercepat proses pemadaman titik-titik api yang masih aktif.
“Saya berharap kondisi di lapangan bisa segera tertangani dengan lebih baik lagi dengan adanya dukungan dan bantuan. Di daerah-daerah tertentu juga sudah turun hujan, sehingga ini bisa mempercepat prosesnya,” ujarnya.
Meski demikian, Edi mengingatkan bahwa fokus pemerintah tidak boleh berhenti pada upaya pemadaman. Ia menekankan pentingnya membangun sistem mitigasi dan pencegahan yang lebih kuat, terutama karena siklus musim kering sebenarnya dapat diprediksi jauh hari.
Menurut Edi, perkembangan teknologi saat ini telah memberikan berbagai instrumen yang memungkinkan pemerintah melakukan deteksi dini secara lebih akurat. Karena itu, ia meminta pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), dioptimalkan guna memetakan risiko karhutla sebelum meluas.
Yang paling penting selain penanganan adalah bagaimana kita melakukan pencegahan. Jangan sampai tahun depan kita mengalami hal yang sama, padahal kita sudah tahu kapan musim kering terjadi dan itu bisa dideteksi lebih dini melalui teknologi,” tegasnya.
Edi menjelaskan, teknologi modern tidak hanya mampu memantau kemunculan titik panas, tetapi juga memprediksi arah pergerakan angin serta kawasan yang berpotensi mengalami penyebaran api lebih cepat dibanding wilayah lainnya. Informasi tersebut dinilai sangat penting untuk menentukan prioritas pengawasan dan pengerahan sumber daya di lapangan.
“Teknologi yang kita miliki sekarang, termasuk AI, bisa memperkirakan arah angin, memetakan titik-titik yang berpotensi berkembang lebih cepat, sehingga langkah antisipasi dapat dilakukan sebelum kebakaran membesar,” katanya.
Karena itu, Edi mendorong pemerintah pusat dan daerah untuk menjadikan pemanfaatan teknologi sebagai bagian utama dari strategi penanggulangan karhutla. Ia menegaskan bahwa keberhasilan menghadapi ancaman kebakaran hutan tidak hanya diukur dari cepatnya proses pemadaman, tetapi juga dari kemampuan mencegah munculnya bencana sejak tahap awal.
Dengan ancaman perubahan iklim yang semakin nyata dan risiko musim kering ekstrem yang berpotensi kembali terjadi, Edi menilai transformasi menuju sistem pencegahan berbasis data dan teknologi menjadi kebutuhan mendesak agar Indonesia tidak terus-menerus menghadapi siklus karhutla yang sama setiap tahun.
News
View MoreOur Services
Sonora Education And Talent Management
Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Research Solution
Your Research Solution for Comprehensive Coverage, Reliable Sources, and Diverse Perspectives