Aturan Digital untuk Anak dan Bagaimana Membicarakannya di Rumah?
26 September 2026 21:32 WIB
Yudi Samadi
Photo: Mizrens, Astrolog & Birth Chart Strategist Indonesia (sumber: Dok. Mizrens)
SONORA.CO.ID – Pembatasan penggunaan media sosial bagi anak menjadi perhatian banyak orang tua di tengah semakin luasnya aktivitas anak di ruang digital. Namun, penerapan aturan digital di rumah tidak selalu berjalan mudah. Ketika orang tua mengatakan, “Mulai sekarang nggak boleh main media sosial terus, ya,” anak bisa saja memaknainya sebagai pembatasan terhadap aktivitas maupun hubungan pertemanannya.
Jika komunikasi tidak berjalan baik, pembicaraan mengenai ponsel dan media sosial bahkan dapat berujung pada perdebatan. Lantas, bagaimana orang tua dapat menetapkan batasan digital sekaligus menjaga agar anak tetap mau bercerita mengenai pengalaman mereka di dunia maya?
Pemerintah melalui Peraturan Pemerintah (PP) tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP TUNAS telah memperkenalkan sejumlah ketentuan terkait perlindungan anak di ruang digital.
Dalam evaluasi pelaksanaan PP TUNAS yang diumumkan Kementerian Komunikasi dan Digital pada 14 September 2026, disebutkan sebanyak 252 produk, layanan, dan fitur dari 94 penyelenggara sistem elektronik telah menyelesaikan penilaian mandiri hingga 6 September 2026. Dari jumlah tersebut, 60 layanan telah diverifikasi.Angka tersebut tidak berarti seluruh 252 layanan telah terbukti aman bagi anak, melainkan menunjukkan jumlah layanan yang telah menyelesaikan tahapan penilaian mandiri.
Aturan turunan PP TUNAS juga mengatur pembatasan akses akun bagi anak di bawah usia 16 tahun pada platform digital berisiko tinggi.Ketentuan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab penyelenggara platform. Di sisi lain, keluarga tetap memiliki peran penting dalam membantu anak memahami aturan dan menghadapi berbagai pengalaman mereka di ruang digital.
Bagi orang tua, menetapkan batasan penggunaan media sosial merupakan bentuk perhatian. Namun, bagi anak, pembatasan tersebut bisa dirasakan sebagai hilangnya akses terhadap teman, hiburan, maupun ruang untuk berkomunikasi.Karena itu, percakapan dapat dimulai bukan hanya dengan menyampaikan larangan, tetapi juga dengan mendengarkan apa yang dirasakan anak.Misalnya, orang tua dapat mengatakan:
“Akun di platform ini punya batas usia. Aku ingin kita mengikuti aturannya. Bagian mana yang paling berat buat kamu?”Pertanyaan seperti ini tidak berarti orang tua memberikan pengecualian terhadap aturan. Sebaliknya, pendekatan tersebut dapat membantu orang tua memahami kebutuhan yang berada di balik keberatan anak.
Jika anak khawatir kehilangan komunikasi dengan teman sekolah, misalnya, orang tua dapat mendiskusikan alternatif komunikasi yang sesuai dengan usia dan aturan yang berlaku.
Begitu pula jika yang dicari anak adalah hiburan, keluarga dapat mencari kegiatan digital maupun aktivitas di luar layar yang dapat dilakukan bersama.UNICEF Indonesia juga menganjurkan orang tua untuk mendengarkan remaja secara aktif, menunjukkan kepedulian, dan tidak menghakimi, termasuk ketika terdapat perbedaan pendapat.
Mendengarkan bukan berarti menyetujui seluruh permintaan anak. Batas tetap dapat ditetapkan, tetapi anak juga perlu merasa bahwa pengalaman dan kekhawatirannya benar-benar didengar.
Di tengah kebutuhan orang tua untuk memahami dinamika komunikasi dengan anak, Mizrens, Astrolog & Birth Chart Strategist Indonesia menawarkan layanan Report Orang Tua & Anak yang menggunakan pembacaan astrologi sebagai salah satu bahan refleksi.Dalam layanan tersebut, pembacaan dilakukan melalui dua lapisan, yakni chart anak serta interaksi antara chart anak dengan chart salah satu orang tua.
Dalam pendekatan astrologi yang digunakan Mizrens, sejumlah elemen dalam chart digunakan sebagai lensa untuk merefleksikan kebutuhan emosional, cara berkomunikasi, maupun respons ketika menghadapi frustrasi.Misalnya, Bulan digunakan untuk merefleksikan kebutuhan emosional dan rasa aman, sementara Merkurius dikaitkan dengan cara berpikir dan komunikasi. Mars digunakan sebagai salah satu lensa untuk melihat respons ketika menghadapi frustrasi.
Pada lapisan hubungan, interaksi Bulan, Venus, dan Merkurius digunakan untuk membahas pola kedekatan dan komunikasi. Sementara itu, interaksi Bulan, Mars, dan Saturnus menjadi salah satu lensa untuk melihat kemungkinan perbedaan kebutuhan atau ritme antara orang tua dan anak.Pendekatan tersebut dapat digunakan sebagai bahan untuk memunculkan pertanyaan reflektif.
Ketika orang tua merasa sudah memberikan penjelasan panjang tetapi anak justru semakin diam, misalnya, pertanyaannya dapat bergeser dari “Mengapa anak saya membangkang?” menjadi “Apakah saya sudah mendengarkan bagian yang membuat anak keberatan?”
Dengan demikian, chart ditempatkan sebagai lensa tambahan untuk merefleksikan dinamika orang tua dan anak, bukan sebagai penentu perilaku maupun kondisi anak.
Setelah percakapan berlangsung, orang tua dan anak dapat membuat kesepakatan yang konkret.Mulai dari platform mana yang dapat digunakan sesuai aturan dan usia, aktivitas digital yang diperbolehkan, waktu penggunaan ponsel, hingga siapa yang dapat dihubungi anak ketika menemukan konten atau komunikasi yang membuatnya tidak nyaman.
Kesepakatan tersebut juga dapat dievaluasi kembali setelah beberapa hari. Orang tua dapat menanyakan apakah aturan yang dibuat sudah dipahami dan apakah ada persoalan yang belum sempat disampaikan anak.Jika anak menghadapi perundungan, ancaman, eksploitasi, atau bahaya daring lainnya, keselamatan anak harus menjadi prioritas. Orang tua dapat menyimpan informasi yang diperlukan untuk pelaporan serta mencari bantuan dari sekolah, platform terkait, atau pihak yang berwenang.
Pembacaan astrologi tidak dapat digunakan untuk mendeteksi risiko tersebut dan bukan pengganti pendampingan orang tua maupun intervensi yang telah diuji untuk meningkatkan keamanan digital anak.Pada akhirnya, aturan dapat menentukan batas penggunaan sebuah akun atau platform. Namun, agar anak tetap berani bercerita ketika menghadapi persoalan di dunia digital, orang tua tetap perlu hadir dalam percakapan setelah batas tersebut ditetapkan.
Mizrens, Astrolog & Birth Chart Strategist Indonesia
Instagram, tiktok, Youtube @mizrens
www.mizrens.com
.
Jika komunikasi tidak berjalan baik, pembicaraan mengenai ponsel dan media sosial bahkan dapat berujung pada perdebatan. Lantas, bagaimana orang tua dapat menetapkan batasan digital sekaligus menjaga agar anak tetap mau bercerita mengenai pengalaman mereka di dunia maya?
Perubahan Aturan Digital Anak
Pemerintah melalui Peraturan Pemerintah (PP) tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP TUNAS telah memperkenalkan sejumlah ketentuan terkait perlindungan anak di ruang digital.
Dalam evaluasi pelaksanaan PP TUNAS yang diumumkan Kementerian Komunikasi dan Digital pada 14 September 2026, disebutkan sebanyak 252 produk, layanan, dan fitur dari 94 penyelenggara sistem elektronik telah menyelesaikan penilaian mandiri hingga 6 September 2026. Dari jumlah tersebut, 60 layanan telah diverifikasi.Angka tersebut tidak berarti seluruh 252 layanan telah terbukti aman bagi anak, melainkan menunjukkan jumlah layanan yang telah menyelesaikan tahapan penilaian mandiri.
Aturan turunan PP TUNAS juga mengatur pembatasan akses akun bagi anak di bawah usia 16 tahun pada platform digital berisiko tinggi.Ketentuan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab penyelenggara platform. Di sisi lain, keluarga tetap memiliki peran penting dalam membantu anak memahami aturan dan menghadapi berbagai pengalaman mereka di ruang digital.
Ketika Aturan Membuat Anak Makin Diam
Bagi orang tua, menetapkan batasan penggunaan media sosial merupakan bentuk perhatian. Namun, bagi anak, pembatasan tersebut bisa dirasakan sebagai hilangnya akses terhadap teman, hiburan, maupun ruang untuk berkomunikasi.Karena itu, percakapan dapat dimulai bukan hanya dengan menyampaikan larangan, tetapi juga dengan mendengarkan apa yang dirasakan anak.Misalnya, orang tua dapat mengatakan:
“Akun di platform ini punya batas usia. Aku ingin kita mengikuti aturannya. Bagian mana yang paling berat buat kamu?”Pertanyaan seperti ini tidak berarti orang tua memberikan pengecualian terhadap aturan. Sebaliknya, pendekatan tersebut dapat membantu orang tua memahami kebutuhan yang berada di balik keberatan anak.
Jika anak khawatir kehilangan komunikasi dengan teman sekolah, misalnya, orang tua dapat mendiskusikan alternatif komunikasi yang sesuai dengan usia dan aturan yang berlaku.
Begitu pula jika yang dicari anak adalah hiburan, keluarga dapat mencari kegiatan digital maupun aktivitas di luar layar yang dapat dilakukan bersama.UNICEF Indonesia juga menganjurkan orang tua untuk mendengarkan remaja secara aktif, menunjukkan kepedulian, dan tidak menghakimi, termasuk ketika terdapat perbedaan pendapat.
Mendengarkan bukan berarti menyetujui seluruh permintaan anak. Batas tetap dapat ditetapkan, tetapi anak juga perlu merasa bahwa pengalaman dan kekhawatirannya benar-benar didengar.
Pendekatan Astrologi sebagai Bahan Refleksi
Di tengah kebutuhan orang tua untuk memahami dinamika komunikasi dengan anak, Mizrens, Astrolog & Birth Chart Strategist Indonesia menawarkan layanan Report Orang Tua & Anak yang menggunakan pembacaan astrologi sebagai salah satu bahan refleksi.Dalam layanan tersebut, pembacaan dilakukan melalui dua lapisan, yakni chart anak serta interaksi antara chart anak dengan chart salah satu orang tua.
Dalam pendekatan astrologi yang digunakan Mizrens, sejumlah elemen dalam chart digunakan sebagai lensa untuk merefleksikan kebutuhan emosional, cara berkomunikasi, maupun respons ketika menghadapi frustrasi.Misalnya, Bulan digunakan untuk merefleksikan kebutuhan emosional dan rasa aman, sementara Merkurius dikaitkan dengan cara berpikir dan komunikasi. Mars digunakan sebagai salah satu lensa untuk melihat respons ketika menghadapi frustrasi.
Pada lapisan hubungan, interaksi Bulan, Venus, dan Merkurius digunakan untuk membahas pola kedekatan dan komunikasi. Sementara itu, interaksi Bulan, Mars, dan Saturnus menjadi salah satu lensa untuk melihat kemungkinan perbedaan kebutuhan atau ritme antara orang tua dan anak.Pendekatan tersebut dapat digunakan sebagai bahan untuk memunculkan pertanyaan reflektif.
Ketika orang tua merasa sudah memberikan penjelasan panjang tetapi anak justru semakin diam, misalnya, pertanyaannya dapat bergeser dari “Mengapa anak saya membangkang?” menjadi “Apakah saya sudah mendengarkan bagian yang membuat anak keberatan?”
Dengan demikian, chart ditempatkan sebagai lensa tambahan untuk merefleksikan dinamika orang tua dan anak, bukan sebagai penentu perilaku maupun kondisi anak.
Apa yang Bisa Disepakati Orang Tua dan Anak?
Setelah percakapan berlangsung, orang tua dan anak dapat membuat kesepakatan yang konkret.Mulai dari platform mana yang dapat digunakan sesuai aturan dan usia, aktivitas digital yang diperbolehkan, waktu penggunaan ponsel, hingga siapa yang dapat dihubungi anak ketika menemukan konten atau komunikasi yang membuatnya tidak nyaman.
Kesepakatan tersebut juga dapat dievaluasi kembali setelah beberapa hari. Orang tua dapat menanyakan apakah aturan yang dibuat sudah dipahami dan apakah ada persoalan yang belum sempat disampaikan anak.Jika anak menghadapi perundungan, ancaman, eksploitasi, atau bahaya daring lainnya, keselamatan anak harus menjadi prioritas. Orang tua dapat menyimpan informasi yang diperlukan untuk pelaporan serta mencari bantuan dari sekolah, platform terkait, atau pihak yang berwenang.
Pembacaan astrologi tidak dapat digunakan untuk mendeteksi risiko tersebut dan bukan pengganti pendampingan orang tua maupun intervensi yang telah diuji untuk meningkatkan keamanan digital anak.Pada akhirnya, aturan dapat menentukan batas penggunaan sebuah akun atau platform. Namun, agar anak tetap berani bercerita ketika menghadapi persoalan di dunia digital, orang tua tetap perlu hadir dalam percakapan setelah batas tersebut ditetapkan.
Mizrens, Astrolog & Birth Chart Strategist Indonesia
Instagram, tiktok, Youtube @mizrens
www.mizrens.com
.
Our Services
Sonora Education And Talent Management
Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Research Solution
Your Research Solution for Comprehensive Coverage, Reliable Sources, and Diverse Perspectives