Neuroscience di Indonesia Masuki Era Baru, Kolaborasi dan Teknologi Jadi Kunci
19 September 2026 13:30 WIB
Riko Marbun
Photo: Caroline Riady, CEO Siloam International Hospitals/Istimewa
Jakarta, Sonora.Co.ID - Perkembangan ilmu saraf dan bedah saraf di Indonesia memasuki fase baru seiring semakin luasnya penggunaan teknologi medis, kecerdasan buatan (AI), serta kolaborasi lintas disiplin. Pendekatan tersebut dinilai penting untuk meningkatkan ketepatan diagnosis, tindakan medis, hingga pemulihan pasien dengan gangguan neurologis kompleks.
Hal itu menjadi salah satu pembahasan dalam The 2nd Siloam Neuroscience Summit 2026 yang mengangkat tema "Beyond Boundaries: Unlocking a New Era of Neuroscience" di Jakarta, Sabtu (19/9/2026). Forum ilmiah tersebut menghadirkan lebih dari 55 pembicara nasional dan internasional untuk membahas perkembangan ilmu saraf, inovasi teknologi medis, serta kolaborasi dalam penanganan kasus neurologis.
Chief Executive Officer Siloam International Hospitals, Caroline Riady, mengatakan perkembangan layanan neuroscience tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan teknologi, tetapi juga pembangunan kompetensi tenaga medis dan kemampuan membentuk tim multidisiplin.
Menurut Caroline, pengembangan layanan neuroscience telah berlangsung sejak 1996 melalui pembentukan tim yang melibatkan dokter spesialis saraf, bedah saraf, radiologi, dan bidang terkait lainnya. Kolaborasi tersebut kemudian berkembang dengan dukungan para ahli dari berbagai negara serta semakin banyaknya tenaga medis dari berbagai disiplin yang terlibat dalam penanganan pasien.
"Yang menjadi tonggak sejarah adalah kita berhasil mempersatukan dan dengan tim tersebut bisa melakukan banyak hal," ujar Caroline.
Sementara itu, Chairman The 2nd Siloam Neuroscience Summit 2026, Prof. Dr. dr. Yusak Mangara Tua Siahaan, Sp.N, Subs. NNK (K), FIPP, CIPS, menjelaskan bahwa konsep "Beyond Boundaries" menggambarkan perubahan dalam pelayanan neuroscience yang kini tidak lagi terbatas pada neurologi dan bedah saraf.
Menurut Yusak, penanganan pasien membutuhkan keterlibatan berbagai disiplin, termasuk radiologi, neuropatologi, teknologi AI, serta bidang medis lainnya. Kolaborasi tersebut memungkinkan proses diagnosis dan terapi dilakukan dengan tingkat presisi yang semakin tinggi.
"Pelayanan Neuroscience itu sudah tidak bisa lagi tergantung pada dua bidang, yaitu neurologi dan bedah saraf," katanya.
Ia mencontohkan perkembangan teknologi diagnostik dan terapi yang memungkinkan dokter menentukan pendekatan penanganan secara lebih spesifik berdasarkan kondisi pasien. Teknologi seperti MRI, ultrasound, hingga neuromodulasi dapat digunakan untuk mendukung diagnosis maupun terapi pada kondisi tertentu.
Yusak menekankan, kemajuan teknologi dan kolaborasi antarbidang pada akhirnya harus memberikan manfaat langsung kepada pasien. Menurut dia, perkembangan teknologi tidak boleh berhenti pada fasilitas dan kemampuan diagnostik, tetapi harus diterjemahkan menjadi pelayanan yang dapat meningkatkan hasil klinis dan pengalaman pasien.
"Kalau itu tidak sampai kepada pasien, maka dua yang di atas menjadi tidak berguna," ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Chairman The 2nd Siloam Neuroscience Summit 2026, Prof. Dr. dr. Julius July, Sp.BS (K), M.Kes, IFAANS. Ia mengatakan perkembangan teknologi, termasuk AI, robotik, dan sistem navigasi, semakin berperan dalam meningkatkan presisi tindakan bedah saraf.
Menurut Julius, tujuan utama penggunaan teknologi tersebut bukan sekadar menghadirkan peralatan canggih, tetapi menjaga fungsi pasien selama dan setelah tindakan medis. Dalam operasi pada area otak, misalnya, dokter harus mempertimbangkan bagaimana fungsi tubuh pasien tetap terjaga setelah prosedur.
"Yang paling penting bagi kita itu adalah menjaga bagaimana setelah operasi itu orangnya normal, senormal mungkin," kata Julius.
Ia juga menilai pendekatan multidisiplin menjadi semakin penting karena kompleksitas kasus neurologis tidak dapat ditangani secara optimal oleh satu bidang keahlian saja. Pada penanganan tumor di dasar tengkorak yang melibatkan kelenjar pituitari, misalnya, dokter bedah saraf dapat bekerja bersama neuro-radiologi, endokrinologi, dokter mata, dokter THT, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya.
"Ini pekerjaan bukan pekerjaan satu dua orang, ini pekerjaan bersama-sama," ujarnya.
Perkembangan tersebut menjadi semakin relevan di tengah tingginya beban penyakit saraf di Indonesia. Stroke menjadi salah satu kondisi yang membutuhkan penanganan cepat dan tepat karena berisiko menimbulkan kecacatan maupun kematian apabila tidak ditangani dalam waktu yang sesuai.
Dalam penanganan stroke akut, pendekatan terintegrasi diterapkan mulai dari diagnosis, tindakan medis, hingga rehabilitasi. Siloam Hospitals Lippo Village menyebut telah menangani lebih dari 20.000 kasus neuroscience kompleks dengan dukungan 16 dokter spesialis saraf dan 10 dokter spesialis bedah saraf.
Pengembangan layanan neuroscience tersebut juga mencakup neurointervensi, rehabilitasi saraf, neuro-onkologi, penanganan gangguan perilaku dan neurodegeneratif, neurorestorasi, Memory & Aging Clinic, pain management, serta terapi Deep Brain Stimulation (DBS) untuk pasien dengan gangguan pergerakan.
Salah satu prosedur yang telah dikembangkan adalah awake brain surgery, yakni operasi bedah saraf tertentu dengan pasien tetap sadar pada tahap tertentu selama tindakan. Metode tersebut memungkinkan tim medis memantau fungsi saraf yang berkaitan dengan kemampuan berbicara maupun gerak selama prosedur berlangsung.
Pengembangan diagnosis dan tindakan medis juga didukung berbagai teknologi, antara lain Gamma Knife, Brainlab Cirq Robotic Suite, MRI 3T, dan Dual Source CT.
Melalui The 2nd Siloam Neuroscience Summit 2026, perkembangan tersebut dibahas bersama para ahli dari dalam dan luar negeri. Forum ini menjadi ruang pertukaran pengetahuan mengenai perkembangan teknologi, pendekatan multidisiplin, serta tantangan dalam menerjemahkan inovasi neuroscience menjadi layanan yang memberikan manfaat bagi pasien.
Bagi perkembangan layanan neuroscience di Indonesia, kolaborasi antardisiplin, pemanfaatan teknologi, dan orientasi pada hasil klinis menjadi bagian penting dalam menghadapi semakin kompleksnya kebutuhan penanganan penyakit saraf.
Our Services
Sonora Education And Talent Management
Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Research Solution
Your Research Solution for Comprehensive Coverage, Reliable Sources, and Diverse Perspectives