AI Bantu Tenaga Kesehatan Layani Lebih Banyak Pasien, Pelatihan Masih Jadi Kendala

14 September 2026 13:28 WIB
Riko Marbun
Photo: Ati/Istimewa
Jakarta, Sonora.Co.ID - Pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI mulai berdampak pada cara kerja tenaga kesehatan di Indonesia. Namun, peningkatan penggunaan teknologi tersebut belum sepenuhnya diikuti kesiapan pelatihan, integrasi sistem, pemantauan, dan tata kelola.

Temuan tersebut berdasarkan Future Health Index 2026 edisi Indonesia. Survei mencatat 69 persen tenaga kesehatan di Indonesia menyatakan penggunaan perangkat berbasis AI meningkatkan kapasitas mereka untuk melayani lebih banyak pasien. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 50 persen.

Selain meningkatkan kapasitas pelayanan, 88 persen tenaga kesehatan menyebut AI membantu meningkatkan efisiensi alur kerja. Sebanyak 87 persen mengatakan teknologi tersebut mempercepat akses terhadap hasil diagnosis, sementara 82 persen merasakan adanya percepatan dalam pengambilan keputusan terkait diagnosis. 

Presiden Direktur Philips Indonesia, Astri Ramayanti Dharmawan, mengatakan pemanfaatan AI di layanan kesehatan kini mulai bergeser dari pembahasan mengenai potensi teknologi menuju penerapan dalam praktik.

Menurut Astri, tantangan berikutnya adalah memastikan pemanfaatan AI dapat terintegrasi dengan alur kerja klinis dan data kesehatan, sekaligus tetap menempatkan penilaian serta akuntabilitas manusia dalam pelayanan kesehatan. 

Penggunaan AI juga disebut memberikan dampak terhadap waktu kerja. Sebanyak 59 persen tenaga kesehatan melaporkan penghematan waktu rata-rata sedikitnya 88 jam dalam setahun. Sementara itu, 67 persen mengatakan penggunaan AI membantu meningkatkan keseimbangan kehidupan dan pekerjaan serta mengurangi tingkat stres. 

Meski demikian, peningkatan pemanfaatan AI menghadirkan persoalan baru. Sebanyak 58 persen tenaga kesehatan mengaku menggunakan perangkat AI pribadi ketika teknologi yang tersedia di tempat kerja belum memenuhi kebutuhan mereka.

Kondisi tersebut dapat menimbulkan risiko apabila perangkat yang digunakan belum tervalidasi secara klinis, belum terintegrasi dengan sistem secara aman, atau belum memenuhi standar privasi dan akuntabilitas. 

Persoalan lain adalah akses terhadap pelatihan. Sebanyak 55 persen tenaga kesehatan mengatakan pelatihan untuk penggunaan AI masih sulit diperoleh, terbatas, atau belum merata.

Kebutuhan pelatihan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengoperasikan teknologi. Tenaga kesehatan juga perlu memahami perlindungan data pasien, tanggung jawab hukum, serta cara memeriksa akurasi rekomendasi yang dihasilkan AI. 

Dalam kesempatan yang sama, Presiden Direktur Siloam International Hospitals, David Utama, mengatakan pemanfaatan AI perlu ditempatkan sebagai teknologi yang mendukung pekerjaan tenaga kesehatan, bukan menggantikan peran mereka dalam mengambil keputusan.

Menurut David, penerapan AI membutuhkan data yang tepercaya dan saling terhubung, tata kelola yang jelas, serta kepemimpinan klinis agar penggunaannya tetap berorientasi pada hasil pelayanan bagi pasien. 

Dari sisi pengawasan, 62 persen responden menyebut belum tersedianya proses yang jelas untuk memantau penggunaan perangkat AI. Kondisi ini menunjukkan perlunya mekanisme validasi, audit, pelacakan, dan evaluasi secara berkala seiring meningkatnya penggunaan AI di fasilitas kesehatan. 

Survei juga menunjukkan tenaga kesehatan masih menempatkan manusia sebagai pengambil keputusan utama. Sebanyak 94 persen responden menilai keterlibatan manusia tetap penting dalam penggunaan AI, sedangkan 91 persen meyakini hasil yang diberikan AI harus berada di bawah pengawasan manusia. 

Aspek hubungan antara tenaga kesehatan dan pasien juga dinilai tidak dapat sepenuhnya digantikan teknologi. Sebanyak 90 persen tenaga kesehatan mengatakan AI tidak akan menggantikan hubungan yang dibangun dengan pasien.

Di sisi lain, penggunaan AI oleh masyarakat untuk mencari informasi kesehatan juga semakin meningkat. Sebanyak 57 persen pasien yang disurvei mengaku menggunakan AI generatif untuk mencari informasi kesehatan secara daring. Namun, 80 persen tenaga kesehatan mengatakan mereka pernah harus meluruskan informasi keliru yang dibawa pasien dari hasil penggunaan AI. 

Temuan tersebut menunjukkan bahwa tantangan pemanfaatan AI di sektor kesehatan bukan hanya seberapa cepat teknologi digunakan, tetapi juga bagaimana memastikan teknologi diterapkan secara aman, terintegrasi, dan tetap berada dalam pengawasan tenaga kesehatan.

Survei Future Health Index 2026 di Indonesia melibatkan 201 tenaga kesehatan dan 2.011 pasien. Riset dilakukan secara daring pada Februari hingga April 2026 oleh lembaga riset independen Vitreous World sebagai bagian dari survei di 10 negara. 

Sonora Network

Our Services

Sonora Education And Talent Management

Sonora Education And Talent Management

Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Research Solution

Research Solution

Your Research Solution for Comprehensive Coverage, Reliable Sources, and Diverse Perspectives
Management Services

Management Services

Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Event Management

Event Management

Step into Syandana, we deliver exceptional tailored event solutions

We'll reach out to you to talk about what we can do to keep leading, together.

Let’s Collaborate!

Our Satisfied Partners

Kementrian Pajak
Kementrian PUPR
Kementerian Dinas Perhubungan
Kementrian Kominfo
Kementrian Agama
Kementrian Hukum dan HAM
Telkomsek
ASDP
Nuvo Family
Pertamina
Bear Brand
Sarirasa Group
Gopek House
Counterpain
PLN
Kementrian Pelni
Ayaxx
Wincos