Jaga dan Rawat Mata Anda dari gangguan Refraksi dan Katarak

30 Juli 2026 17:13 WIB
Liliek
Photo: JEC

Jakarta - Gangguan refraksi dan katarak menjadi dua penyebab utama gangguan penglihatan dan kebutaan secara global. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mencatat sedikitnya 2,2 miliar orang di dunia mengalami gangguan penglihatan jarak dekat atau jauh. Sedikitnya 1 miliar dari kasus tersebut sebenarnya dapat dicegah atau belum mendapatkan penanganan.  

Kacamata bekerja dengan membelokkan cahaya dari luar mata agar penglihatan menjadi lebih jelas, tetapi tidak mengubah maupun memperkuat struktur kornea.   Dr. Sharita R. Siregar, SpM(K), Dokter Spesialis Mata JEC Eye Hospitals and Clinics sekaligus Head of Lions Eye Bank Jakarta (LEBJ), menjelaskan, “Perubahan bentuk atau kelengkungan kornea dapat menyebabkan kelainan refraksi, seperti miopia atau rabun jauh, hipermetropia atau rabun dekat, serta astigmatisme atau mata silinder.”  

Ia menambahakan, pada astigmatisme reguler, kelengkungan kornea masih berpola teratur dan umumnya dapat dikoreksi dengan kacamata. Sementara pada astigmatisme tidak teratur, cahaya dapat tersebar ke beberapa titik sehingga menimbulkan pandangan berbayang, distorsi, silau, dan halo.  

Pada gangguan refraksi yang stabil, kacamata tetap menjadi pilihan koreksi yang aman dan efektif. Namun, jika terdapat penyakit kornea progresif, mengganti kacamata berulang kali tidak akan menghentikan perubahan struktur yang sedang berlangsung.  

Kemajuan teknologi menyediakan beragam pilihan koreksi dan penanganan, tetapi tidak ada satu prosedur yang sesuai untuk semua mata. Pemilihan tindakan perlu didasarkan pada jenis gangguan refraksi, ketebalan dan bentuk kornea, stabilitas ukuran kacamata, kesehatan permukaan mata, serta anatomi mata secara keseluruhan.  

LASIK
bekerja dengan membentuk lapisan tipis atau flap pada kornea menggunakan laser femtosecond. Flap tersebut dibuka untuk memberikan akses ke lapisan stroma. Selanjutnya, laser excimer membentuk ulang kornea berdasarkan ukuran minus, plus, atau silinder pasien. Setelah koreksi selesai, flap dikembalikan ke posisi semula dan dapat menempel tanpa jahitan.


Sementara itu, SMILE® Pro merupakan prosedur flapless yang tidak membutuhkan pembentukan flap kornea seperti pada LASIK. Laser femtosecond membentuk lapisan jaringan sangat tipis atau lenticule di dalam kornea. Lenticule tersebut kemudian dikeluarkan melalui sayatan mikro sekitar 2–4 milimeter untuk mengubah kelengkungan kornea sesuai kebutuhan koreksi pasien. 

SMILE® Pro menggunakan teknologi ZEISS VISUMAX 800 dengan paparan laser sekitar 8–10 detik per mata. Karena menggunakan sayatan yang lebih kecil dan tidak membentuk flap, struktur permukaan kornea dapat lebih terjaga dan risiko gangguan terkait flap dapat diminimalkan. Prosedur ini juga dapat membantu meminimalkan keluhan mata kering, meskipun hasil dan proses pemulihan dapat berbeda pada setiap pasien.
Selain LASIK konvensional, JEC Eye Hospitals and Clinics juga menghadirkan LASIK Xtra, layanan yang saat ini hanya tersedia di jaringan JEC Eye Hospitals and Clinics di Indonesia. LASIK Xtra mengombinasikan koreksi LASIK dengan corneal cross-linking dalam satu rangkaian tindakan.  

Angka minus dan silinder bukan satu-satunya penentu pilihan tindakan. Sebelum bedah refraktif, pasien perlu menjalani pemeriksaan untuk memetakan kondisi mata secara menyeluruh. Pemeriksaan refraksi mengukur besarnya minus dan silinder, sementara topografi atau tomografi kornea memetakan kelengkungan serta bentuk permukaan depan dan belakang kornea. Dokter juga menilai ketebalan kornea, lapisan air mata, tekanan bola mata, ukuran pupil, retina, dan kesehatan mata secara keseluruhan.  

LASIK Xtra dapat dipertimbangkan bagi pasien terpilih yang membutuhkan dukungan tambahan terhadap stabilitas kornea, misalnya pasien dengan kornea borderline tetapi masih berada dalam parameter aman untuk LASIK, memiliki ukuran minus atau silinder tinggi, berusia relatif muda, atau dinilai memiliki risiko regresi refraksi setelah tindakan. Keputusan tetap ditentukan oleh dokter berdasarkan hasil pemeriksaan menyeluruh.
 

“Secara umum, kandidat Laser Vision Correction harus berusia minimal 18 tahun, memiliki ukuran minus atau silinder yang stabil setidaknya selama 12 bulan, tidak sedang hamil atau menyusui, serta memiliki kondisi dan ketebalan kornea yang memenuhi parameter keamanan. Pengguna lensa kontak juga perlu melepas lensa untuk jangka waktu tertentu sebelum pemeriksaan agar hasil pemetaan kornea lebih akurat, sesuai arahan dokter,” jelas Dr. Sharita.
 

Dengan pengalaman lebih dari 150.000 tindakan Laser Vision Correction, termasuk LASIK, LASIK Xtra, SMILE®, dan SMILE® Pro, JEC Eye Hospitals and Clinics menghadirkan layanan yang ditopang oleh dokter spesialis mata, teknologi diagnostik untuk pemetaan kornea, pemeriksaan pra-tindakan, serta pemantauan pasca tindakan yang terintegrasi.  

Saat ini, layanan LASIK dan SMILE® Pro tersedia di JEC @ Menteng, JEC @ Kedoya, JEC CANDI @ Semarang, JEC JAVA @ Surabaya, JEC ORBITA @ Makassar, serta JEC BALI @ Denpasar. JEC Eye Hospitals and Clinics kini memiliki 16 cabang dan terus memperluas akses layanan kesehatan mata berkualitas bagi masyarakat Indonesia.
Sonora Network

Our Services

Sonora Education And Talent Management

Sonora Education And Talent Management

Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Research Solution

Research Solution

Your Research Solution for Comprehensive Coverage, Reliable Sources, and Diverse Perspectives
Management Services

Management Services

Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Event Management

Event Management

Step into Syandana, we deliver exceptional tailored event solutions

We'll reach out to you to talk about what we can do to keep leading, together.

Let’s Collaborate!

Our Satisfied Partners

Kementrian Pajak
Kementrian PUPR
Kementerian Dinas Perhubungan
Kementrian Kominfo
Kementrian Agama
Kementrian Hukum dan HAM
Telkomsek
ASDP
Nuvo Family
Pertamina
Bear Brand
Sarirasa Group
Gopek House
Counterpain
PLN
Kementrian Pelni
Ayaxx
Wincos