Mentrans Iftitah: Talenta Bangsa Jadi Kunci Indonesia Menuju Negara Maju
29 Juli 2026 20:45 WIB
Riko Marbun
Photo: Tim Kementerian Transmigrasi RI
Bogor. Sonora.Co.ID - Kemajuan sebuah negara tidak lagi hanya bergantung pada kekayaan sumber daya alam, tetapi juga pada kemampuan mengelola sumber daya manusia unggul. Negara yang mampu menemukan, mengembangkan, dan memberikan ruang bagi talenta terbaiknya akan lebih siap menciptakan inovasi, menghasilkan nilai tambah, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara saat menutup Pembekalan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 di Bogor, Jawa Barat, Senin (27/7). Ia menegaskan, persaingan global saat ini tidak hanya berkaitan dengan penguasaan sumber daya alam, tetapi juga bagaimana sebuah bangsa mampu mengembangkan manusia yang memiliki kemampuan menciptakan solusi dan inovasi.
“Kita sekarang sedang menuju Indonesia Maju. Kaya bukan hanya kaya uang, tetapi juga kaya pengetahuan, kaya ilmu, kaya hati, dan kaya dalam segala hal. Persoalannya adalah bagaimana kita mengelola talenta bangsa,” ujar Menteri Iftitah.
Menurutnya, keberhasilan program hilirisasi, industrialisasi, hingga pembangunan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru sangat bergantung pada kualitas talenta yang dimiliki Indonesia. Pengelolaan talenta yang baik akan membuka peluang lahirnya inovasi, menciptakan lapangan kerja berkualitas, meningkatkan daya saing daerah, serta memberikan ruang lebih besar bagi generasi muda untuk berkontribusi di dalam negeri.
Menteri Iftitah menilai talenta unggul tidak hanya diukur dari kemampuan akademik, tetapi juga dari karakter, semangat belajar, kemampuan berkolaborasi, serta orientasi untuk menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Ia menjelaskan, sejumlah negara maju telah memiliki strategi masing-masing dalam mengembangkan sumber daya manusia. Jepang, misalnya, menerapkan pendekatan Brain Train dengan fokus mencetak dan mengembangkan talenta dalam negeri untuk memperkuat inovasi serta industrialisasi nasional.
Sementara Australia mengembangkan strategi Brain Gain dengan menarik talenta terbaik dari berbagai negara untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan penguasaan teknologi.
Adapun Tiongkok menjalankan strategi Brain Circulation dengan mengirim banyak mahasiswa belajar ke luar negeri, kemudian mendorong mereka kembali untuk membangun industri nasional.
“Tiongkok telah mengirim jutaan mahasiswanya belajar ke Eropa dan Amerika. Ketika mereka kembali, mereka membangun industri nasional. Dari sanalah lahir perusahaan-perusahaan besar seperti Huawei, BYD, dan berbagai inovasi lainnya,” kata Menteri Iftitah.
Selain itu, India mengembangkan pendekatan Brain Linkage dengan membangun jaringan global sehingga talenta yang berada di luar negeri tetap dapat berkontribusi melalui investasi, pengembangan teknologi, maupun pembangunan ekonomi nasional.
Namun, Menteri Iftitah menegaskan Indonesia tidak perlu meniru secara penuh strategi negara lain. Menurutnya, Indonesia harus membangun ekosistem sendiri yang mampu menemukan talenta, meningkatkan kapasitas mereka, menyediakan ruang berkarya, serta memastikan hasil inovasi tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Dalam konteks pembangunan nasional, Kementerian Transmigrasi mendorong perubahan paradigma kawasan transmigrasi. Kawasan tersebut tidak lagi hanya dipandang sebagai tempat perpindahan penduduk, melainkan sebagai ruang pengembangan potensi daerah dan wadah bagi talenta muda dari berbagai disiplin ilmu untuk menghadirkan inovasi.
“Kementerian Transmigrasi bukan lagi sekadar memindahkan penduduk. Kita membangun peradaban dan memindahkan kehidupan. Karena itu, kita membutuhkan orang-orang yang mampu mengelola keberagaman dan menjawab persoalan di lapangan,” tegasnya.
Menteri Iftitah juga membagikan pengalaman terkait pentingnya pembinaan talenta melalui kisahnya saat memimpin penyelenggaraan Kejuaraan Nasional Taekwondo pada 2010. Menurutnya, tim kecil yang dibangun saat itu terus berkembang dan melahirkan berbagai individu yang kini berkiprah sebagai akademisi, profesional, hingga pemimpin Tim Ekspedisi Patriot.
Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi inspirasi bagi peserta Tim Ekspedisi Patriot 2026 untuk terus mengembangkan kemampuan, membangun jejaring, menjaga integritas, serta memberikan kontribusi terbaik bagi pembangunan Indonesia.
“Bila kita mampu mengelola talenta bangsa dengan baik, saya yakin Indonesia akan menjadi negara maju yang dibangun oleh putra-putri terbaiknya sendiri,” pungkas Menteri Iftitah.
Tim Ekspedisi Patriot 2026 sendiri terdiri atas 1.476 peserta yang terbagi dalam 246 tim dan akan bertugas di 53 kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia. Para peserta akan melakukan pemetaan potensi wilayah, mengidentifikasi tantangan pembangunan, serta menyusun rekomendasi berbasis ilmu pengetahuan untuk mempercepat pengembangan kawasan transmigrasi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.
News
View MoreOur Services
Sonora Education And Talent Management
Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Research Solution
Your Research Solution for Comprehensive Coverage, Reliable Sources, and Diverse Perspectives