Paramadina-PPEKRAF Latih Santri Jadi Produsen Halal
28 Juli 2026 17:21 WIB
Liliek
Photo: istimewa
JAKARTA-– Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi pemain utama dalam industri halal global. Namun, potensi tersebut hanya dapat diwujudkan apabila semakin banyak generasi muda, khususnya santri, berani membangun usaha yang inovatif, berbasis teknologi, dan berdaya saing internasional. Semangat tersebut menjadi fokus Seminar dan Workshop Santripreneur Global yang diselenggarakan Universitas Paramadina dan Pegiat Pendidikan Ekonomi Kreatif (PPEKRAF) di Pondok Pesantren Al-Ikhwaniyah, Tangerang Selatan.
Ketua Umum Pegiat Pendidikan Ekonomi Kreatif (PPEKRAF), Tengku Hj. Nurliyana Habsjah Sapuan, mengatakan industri halal saat ini merupakan salah satu sektor ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di dunia. "Besarnya jumlah penduduk muslim Indonesia menjadi modal yang sangat kuat untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi barang dan jasa halal," katanya, Minggu (26/7/2026)
Menurut Liya-sapaan akrab Tengku Hj. Nurliyana Habsjah Sapuannya, Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar bagi produk halal dari negara lain, tetapi harus mampu menjadi produsen yang melahirkan wirausaha-wirausaha baru dengan daya saing global. “Potensi industri halal sangat besar dan akan terus berkembang. Indonesia tidak boleh hanya menjadi konsumen, tetapi harus menjadi produsen yang melahirkan banyak entrepreneur muda," ujarnya lagi.
Liya menyampaikan, pesantren merupakan tempat yang sangat strategis untuk mencetak generasi wirausaha yang memiliki karakter, integritas, serta mampu menghasilkan produk halal yang berkualitas dan berdaya saing internasasional.
Ketua Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) ini menjelaskan, konsep Santripreneur Global merupakan upaya membangun ekosistem kewirausahaan yang memadukan nilai-nilai keislaman dengan inovasi, kreativitas, teknologi, serta kemampuan membaca peluang pasar.
Liya menambahkan, santri memiliki modal karakter yang kuat, seperti kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan etos kerja tinggi.
Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun bisnis yang berkelanjutan. “Ke depan, santri tidak hanya diharapkan menjadi pendakwah dan pemimpin umat, tetapi juga mampu menjadi pelaku usaha yang menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memperkuat perekonomian nasional melalui industri halal,” jelasnya.
Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun bisnis yang berkelanjutan. “Ke depan, santri tidak hanya diharapkan menjadi pendakwah dan pemimpin umat, tetapi juga mampu menjadi pelaku usaha yang menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memperkuat perekonomian nasional melalui industri halal,” jelasnya.
Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ikhwaniyah, Ustaz Nur Muhammad Rifqi, menyambut baik kolaborasi antara PPEKRAF dan Universitas Paramadina dalam membangun budaya kewirausahaan di lingkungan pesantren.
Menurutnya, pesantren saat ini harus mampu menjawab perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman yang menjadi identitasnya. Karena itu, pendidikan kewirausahaan menjadi bagian penting dalam menyiapkan santri menghadapi tantangan ekonomi masa depan.
“Pesantren tidak hanya mencetak generasi yang memahami ilmu agama, tetapi juga harus melahirkan generasi yang mandiri secara ekonomi. Santri harus memiliki kemampuan membaca peluang usaha, mengembangkan inovasi, serta mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ujar Rifqi.
“Pesantren tidak hanya mencetak generasi yang memahami ilmu agama, tetapi juga harus melahirkan generasi yang mandiri secara ekonomi. Santri harus memiliki kemampuan membaca peluang usaha, mengembangkan inovasi, serta mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ujar Rifqi.
Ia berharap kegiatan seperti Seminar Santripreneur Global dapat berlangsung secara berkelanjutan sehingga semakin banyak santri yang terdorong membangun usaha sejak masih menempuh pendidikan di pesantren.
ditempat yang sama, Dosen Universitas Paramadina Hardiamsyah mengatakan perkembangan ekonomi digital telah membuka peluang yang semakin luas bagi generasi muda untuk memasuki dunia usaha.
Menurut Hardi-sapaan akrabnya, santri memiliki kesempatan besar memanfaatkan teknologi digital dalam mengembangkan produk halal, mulai dari sektor makanan dan minuman, fesyen muslim, kosmetik halal, hingga ekonomi kreatif berbasis digital. “Saat ini membangun usaha tidak lagi membutuhkan modal yang sangat besar. Dengan pemanfaatan teknologi digital, media sosial, dan platform perdagangan elektronik, santri dapat memasarkan produk ke seluruh Indonesia bahkan ke pasar internasional,” paparnya
Lebih jauh Hardi menambahkan, tantangan utama bukan lagi sekadar menghasilkan produk, melainkan membangun inovasi, kualitas, merek, dan kepercayaan konsumen. Oleh karena itu, kemampuan berpikir kreatif, memahami kebutuhan pasar, serta memanfaatkan teknologi menjadi kompetensi yang harus dimiliki para santri. Dalam workshop tersebut, peserta juga memperoleh pembekalan mengenai pengembangan model bisnis, pemasaran digital, strategi membangun merek, serta pentingnya sertifikasi halal sebagai nilai tambah produk Indonesia di pasar global.
Melalui kolaborasi antara PPEKRAF, Universitas Paramadina, dan Pondok Pesantren Al-Ikhwaniyah, diharapkan lahir semakin banyak santripreneur yang mampu menjadi motor penggerak ekonomi umat. Kehadiran wirausaha muda dari kalangan pesantren diyakini tidak hanya memperkuat daya saing industri halal nasional, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat industri halal dunia
News
View MoreOur Services
Sonora Education And Talent Management
Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Research Solution
Your Research Solution for Comprehensive Coverage, Reliable Sources, and Diverse Perspectives