Mutlak! Reformasi Kelembagaan BGN dan Tata Kelola Program MBG

04 Juni 2026 20:37 WIB
Yudi Samadi
Photo: Didik J. Rachbini dalam sebuah kesempatan acara diskusi di Kampus Paramadina Jakarta (sumber: Faisal Rahman/CBNC Indonesia)
Sonora.co.id, JAKARTA – Ekonom Senior Indef, Prof. Didik J. Rachbini, menilai pergantian pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) harus menjadi momentum penting untuk melakukan reformasi kelembagaan dan tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Menurut Didik, langkah Presiden yang mengambil tindakan tegas terhadap dugaan penyimpangan di tubuh BGN patut diapresiasi. Ia menilai tindakan tersebut menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga integritas program yang memiliki tujuan mulia untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat.

"Presiden mendengar kritik dan menerima laporan adanya penyimpangan di BGN, sehingga tindakan hukum segera dilakukan. Langkah ini patut dihargai agar program MBG menjadi jauh lebih baik ke depan," ujar Rektor Universitas Paramadina tersebut.

Meski demikian, Didik menegaskan bahwa penindakan hukum saja tidak cukup. Menurutnya, perbaikan harus dilanjutkan melalui reformasi kelembagaan dan tata kelola yang lebih mendasar. Ia menilai kritik publik selama ini bukan ditujukan pada tujuan program MBG, melainkan pada desain kelembagaan, sistem pengadaan, pengawasan, serta kapasitas implementasinya.

"Program sebesar MBG yang menyentuh jutaan penerima manfaat dan melibatkan rantai pasok pangan yang kompleks sangat rentan mengalami kegagalan tata kelola. Karena itu reformasi kelembagaan dan tata kelola menjadi suatu keharusan," katanya.

Didik mengusulkan agar ke depan BGN lebih difokuskan sebagai regulator, bukan operator utama program. Menurutnya, BGN seharusnya berperan dalam penyusunan standar gizi, standar operasional, pengelolaan data nasional, serta evaluasi program. Sementara pelaksanaan operasional dapat dilakukan oleh pemerintah daerah, sekolah, koperasi, dan UMKM pangan lokal.

"Kita harus membangun model kelembagaan yang lebih kuat. Negara mengarahkan, bukan mengerjakan semuanya," ujarnya.Selain itu, Didik menekankan pentingnya membentuk dewan pengawas independen yang terdiri atas berbagai unsur, seperti ahli gizi, akademisi, BPKP, organisasi profesi, dan perwakilan masyarakat sipil. Dewan tersebut bertugas melakukan audit kualitas, audit anggaran, dan audit kepatuhan terhadap pelaksanaan program.

Ia juga mendorong penerapan transparansi digital secara menyeluruh mengingat besarnya anggaran yang dikelola program MBG. Menurutnya, pemanfaatan teknologi dapat memperkuat transparansi, meningkatkan akuntabilitas publik, sekaligus menjadi instrumen pengawasan yang lebih efektif.

"Sudah saatnya seluruh proses dapat dipantau publik. Transparansi digital akan menjadi bagian penting dari demokratisasi program pemerintah dan memperkuat pertanggungjawaban kepada masyarakat," katanya.

Dalam pandangan Didik, reformasi lain yang tidak kalah penting adalah desentralisasi pelaksanaan program. Ia menilai pemerintah daerah harus menjadi ujung tombak implementasi MBG di lapangan, sekaligus menghubungkan program tersebut dengan petani, peternak, koperasi, dan UMKM lokal.Menurutnya, pendekatan yang terlalu tersentralisasi selama ini membuat rentang kendali pengawasan menjadi sangat luas dan sulit dikontrol secara efektif.

 Akibatnya, potensi pemborosan logistik, inefisiensi anggaran, dan moral hazard menjadi semakin besar."Semakin besar anggaran yang dikelola, semakin besar pula peluang terjadinya perburuan rente. Saya yakin kasus korupsi yang terungkap saat ini hanya puncak gunung es, sementara di bawahnya masih terdapat banyak potensi moral hazard yang perlu dibenahi," tegasnya.

Didik menambahkan, apabila reformasi kelembagaan dan tata kelola berhasil dilakukan, Program Makan Bergizi Gratis dapat berkembang menjadi instrumen pembangunan sumber daya manusia sekaligus penggerak ekonomi lokal, sebagaimana yang telah diterapkan di sejumlah negara seperti Brasil dan Jepang.

Sebaliknya, tanpa reformasi yang memadai, program tersebut berisiko terus menghadapi persoalan pemborosan anggaran, ketidakefisienan, serta praktik penyimpangan yang dapat menghambat pencapaian tujuan utamanya. (YDS)
Sonora Network

Our Services

Sonora Education And Talent Management

Sonora Education And Talent Management

Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Research Solution

Research Solution

Your Research Solution for Comprehensive Coverage, Reliable Sources, and Diverse Perspectives
Management Services

Management Services

Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Event Management

Event Management

Step into Syandana, we deliver exceptional tailored event solutions

We'll reach out to you to talk about what we can do to keep leading, together.

Let’s Collaborate!

Our Satisfied Partners

Kementrian Pajak
Kementrian PUPR
Kementerian Dinas Perhubungan
Kementrian Kominfo
Kementrian Agama
Kementrian Hukum dan HAM
Telkomsek
ASDP
Nuvo Family
Pertamina
Bear Brand
Sarirasa Group
Gopek House
Counterpain
PLN
Kementrian Pelni
Ayaxx
Wincos