Pemkab Sigi dan Konsorsium KOLABORASI Luncurkan Program Adaptasi Perubahan Iklim hingga 2028
19 Mei 2026 12:28 WIB
Yudi Samadi
Photo: PemKab Sigi bersama Konsorsium KOLABORASI meluncurkan Program Adaptasi Perubahan Iklim Kabupaten Sigi 2026–2028 (sumber: Konsorsium KOLABORASI)
Sonora.co.id, SIGI, Aceh – Pemerintah Kabupaten Sigi bersama Konsorsium KOLABORASI resmi meluncurkan Program Adaptasi Perubahan Iklim Kabupaten Sigi 2026–2028 guna memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi dampak perubahan iklim.Peluncuran program yang digelar pada Minggu (18/5/2026) itu dihadiri langsung Bupati Sigi Mohamad Rizal Intjenae serta sejumlah perwakilan organisasi dan pemerintah pusat, termasuk Direktur Eksekutif Koaksi Indonesia Aria Nagasastra dan Direktur Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup Franky Zamzani yang hadir secara daring.
Program tersebut dijalankan oleh Konsorsium KOLABORASI yang terdiri dari Koaksi Indonesia, Lingkar Temu Kabupaten Lestari, Water Stewardship Indonesia, dan Earth Innovation Institute.Program ini difokuskan untuk meningkatkan ketahanan masyarakat, khususnya kelompok rentan dan komunitas petani, melalui penerapan aksi adaptasi perubahan iklim berbasis masyarakat.
Terdapat tiga fokus utama dalam program tersebut, yakni penguatan kebijakan adaptasi perubahan iklim di tingkat daerah, penerapan pendekatan Water-Energy-Food (WEF) Nexus di tingkat desa, serta pengembangan pusat pembelajaran adaptasi perubahan iklim di tingkat kabupaten.
Program ini ditargetkan menjangkau lebih dari 1.500 penerima manfaat di enam desa, yakni Desa Bangga, Desa Pandere, Desa Pakuli Utara, Desa Sambo, Desa Simoro, dan Desa Wisolo.Bupati Sigi, Mohamad Rizal Intjenae, menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pihak yang terlibat dalam program tersebut. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi langkah penting untuk menghadapi tantangan perubahan iklim di daerah.
“Di tengah keterbatasan fiskal daerah saat ini, program Adaptasi Perubahan Iklim menjadi oase bagi pemerintah untuk tetap mendorong kinerja dan kebijakan iklim di Kabupaten Sigi,” ujar Rizal dalam sambutannya.Ia menambahkan, program tersebut menjadi bukti bahwa kerja sama antara pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, serta mitra nasional dan internasional mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama juga dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Kabupaten Sigi dengan Koaksi Indonesia sebagai lead consortium untuk memastikan keberlanjutan program hingga 2028.Direktur Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup, Franky Zamzani, menilai program di Kabupaten Sigi dapat menjadi contoh penerapan adaptasi iklim berbasis kebutuhan masyarakat lokal.“Program di Sigi ini adalah contoh bagaimana kolaborasi lintas sektor dapat menghadirkan solusi yang konkret dan terukur,” katanya.
Sementara itu, Program Manager Environment and Sustainable Governance Kemitraan untuk Pembaruan Tata Kelola, Willy Wicaksono, menilai program tersebut menunjukkan bahwa pendanaan iklim internasional dapat tepat sasaran dan menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
Direktur Eksekutif Koaksi Indonesia, Aria Nagasastra, mengatakan pendekatan WEF Nexus menjadi langkah konkret dalam menjaga ketahanan air, energi, dan pangan secara berkelanjutan.“Pendekatan WEF Nexus di Sigi adalah langkah konkret untuk memastikan ketahanan air, energi, dan pangan berjalan beriringan,” ujarnya.
Program Adaptasi Perubahan Iklim Kabupaten Sigi dijadwalkan berlangsung hingga April 2028 dan diharapkan menjadi fondasi penguatan kolaborasi menuju Kabupaten Sigi yang tangguh menghadapi perubahan iklim. (YDS)
Program tersebut dijalankan oleh Konsorsium KOLABORASI yang terdiri dari Koaksi Indonesia, Lingkar Temu Kabupaten Lestari, Water Stewardship Indonesia, dan Earth Innovation Institute.Program ini difokuskan untuk meningkatkan ketahanan masyarakat, khususnya kelompok rentan dan komunitas petani, melalui penerapan aksi adaptasi perubahan iklim berbasis masyarakat.
Terdapat tiga fokus utama dalam program tersebut, yakni penguatan kebijakan adaptasi perubahan iklim di tingkat daerah, penerapan pendekatan Water-Energy-Food (WEF) Nexus di tingkat desa, serta pengembangan pusat pembelajaran adaptasi perubahan iklim di tingkat kabupaten.
Program ini ditargetkan menjangkau lebih dari 1.500 penerima manfaat di enam desa, yakni Desa Bangga, Desa Pandere, Desa Pakuli Utara, Desa Sambo, Desa Simoro, dan Desa Wisolo.Bupati Sigi, Mohamad Rizal Intjenae, menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pihak yang terlibat dalam program tersebut. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi langkah penting untuk menghadapi tantangan perubahan iklim di daerah.
“Di tengah keterbatasan fiskal daerah saat ini, program Adaptasi Perubahan Iklim menjadi oase bagi pemerintah untuk tetap mendorong kinerja dan kebijakan iklim di Kabupaten Sigi,” ujar Rizal dalam sambutannya.Ia menambahkan, program tersebut menjadi bukti bahwa kerja sama antara pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, serta mitra nasional dan internasional mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama juga dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Kabupaten Sigi dengan Koaksi Indonesia sebagai lead consortium untuk memastikan keberlanjutan program hingga 2028.Direktur Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup, Franky Zamzani, menilai program di Kabupaten Sigi dapat menjadi contoh penerapan adaptasi iklim berbasis kebutuhan masyarakat lokal.“Program di Sigi ini adalah contoh bagaimana kolaborasi lintas sektor dapat menghadirkan solusi yang konkret dan terukur,” katanya.
Sementara itu, Program Manager Environment and Sustainable Governance Kemitraan untuk Pembaruan Tata Kelola, Willy Wicaksono, menilai program tersebut menunjukkan bahwa pendanaan iklim internasional dapat tepat sasaran dan menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
Direktur Eksekutif Koaksi Indonesia, Aria Nagasastra, mengatakan pendekatan WEF Nexus menjadi langkah konkret dalam menjaga ketahanan air, energi, dan pangan secara berkelanjutan.“Pendekatan WEF Nexus di Sigi adalah langkah konkret untuk memastikan ketahanan air, energi, dan pangan berjalan beriringan,” ujarnya.
Program Adaptasi Perubahan Iklim Kabupaten Sigi dijadwalkan berlangsung hingga April 2028 dan diharapkan menjadi fondasi penguatan kolaborasi menuju Kabupaten Sigi yang tangguh menghadapi perubahan iklim. (YDS)
News
View MoreOur Services
Sonora Education And Talent Management
Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Research Solution
Your Research Solution for Comprehensive Coverage, Reliable Sources, and Diverse Perspectives