Gerakan hebat dari Rumah: Ketika Perempuan Bangkit Lewat Wastra Sashiko

04 Mei 2026 10:12 WIB
Yudi Samadi
Photo: Wastra Sashiko di Bogor menjadi Sarana Pemberdayaan Perempuan (sumber: Retno Suminar)
Sonora.co.id – Bogor,  Suasana hangat terlihat di sebuah ruang dari sebuah rumah di bilangan Cibinong, Bogor, Jawa Barat. Sejumlah perempuan duduk melingkar, tangan mereka terlihat asyik menyulam kain dengan penuh ketelitian. Di tengah aktivitas itu, sesekali terdengar obrolan ringan, diselingi tawa kecil. Namun di balik suasana santai tersebut, tersimpan semangat besar: kemandirian.Kegiatan ini merupakan bagian dari program pemberdayaan yang digagas oleh Retno Suminar, seorang artisan sulam yang telah lama berkecimpung dalam pengembangan wastra berbasis teknik sashiko.Teknik sashiko sendiri dikenal sebagai metode sulam tradisional dari Jepang. Namun di tangan Retno, teknik ini diolah kembali dengan sentuhan lokal melalui penggunaan kain wastra Indonesia, seperti lurik, tenun, hingga batik.

“Selama ini banyak yang menganggap sashiko itu harus pakai bahan dari Jepang. Padahal kita punya kekayaan tekstil yang luar biasa. Tinggal bagaimana kita mengolahnya,” ujar Retno.Lebih dari sekedar menciptakan karya busana yang indah, Sashiko mengajarkan bahwa pakaian yang dikenakan sehari-hari tetap bisa memberikan penghargaan dan berkontribusi secara nyata terhadap pelestarian kekayaan kain nusantara.

“Pola-pola yang digunakan dalam teknik Sashiko yang digunakan di sini terinspirasi dari keindahan kain dan pola dari Aceh, Riau, Jawa, Kalimantan hingga Papua” terang Retno. Dari komunitas yang dibinanya, Retno bisa memunculkan motif baru Sashiko yang berasal dari nilai kebudayaan Indonesia. Retno berharap melalui komunitas “Srengenge”, nama dari komunitas wastra Sashiko ini, semakin banyak perempuan memiliki ruang untuk mengaktualisasikan diri melalui karya busana yang akan membantu meningkatkan perekonomian keluarga.

“Srengenge itu artinya matahari. Harapannya, komunitas wastra Sashiko di sini dapat menjadi mata pencaharian sekaligus sebagai memberikan sinar baru bagi kesejahteraan keluarga anggotanya” imbuh Retno.Karya-karya Retno sebagai artisan sulam bersama komunitas Srengenge ini telah hadir di berbagai seminar. pameran dan dan dipercaya untuk berkolaborasi dengan perancang-perancang kenamaan tanah air, seperti Samuel Wattimena, Handy Hartono, Merdi Sihombing hingga Jenama  ‘Tanda Mata’ dan ‘Taqqia’.

Karya mereka bahkan banyak ditampilkan dalam berbagai pagelaran busana.Program ini tidak hanya mengajarkan teknik menyulam, tetapi juga membangun kepercayaan diri para perempuan untuk menghasilkan karya bernilai ekonomi. Mayoritas peserta adalah ibu rumah tangga yang sebelumnya tidak memiliki aktivitas produktif secara finansial tanpa mengabaikan perhatian dan tanggung jawab mereka baik sebagai isteri maupun ibu bagi anak-anaknya.

Kini, dari ruang tamu rumah mereka, lahir karya-karya yang tidak hanya indah, tetapi juga sarat makna budaya. Melalui karya-karya itu, mereka juga berkontribusi nyata untuk perekenomian keluarga. (YDS)
Sonora Network

Our Services

Sonora Education And Talent Management

Sonora Education And Talent Management

Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Research Solution

Research Solution

Your Research Solution for Comprehensive Coverage, Reliable Sources, and Diverse Perspectives
Management Services

Management Services

Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Event Management

Event Management

Step into Syandana, we deliver exceptional tailored event solutions

We'll reach out to you to talk about what we can do to keep leading, together.

Let’s Collaborate!

Our Satisfied Partners

Kementrian Pajak
Kementrian PUPR
Kementerian Dinas Perhubungan
Kementrian Kominfo
Kementrian Agama
Kementrian Hukum dan HAM
Telkomsek
ASDP
Nuvo Family
Pertamina
Bear Brand
Sarirasa Group
Gopek House
Counterpain
PLN
Kementrian Pelni
Ayaxx
Wincos