Kemenag Siapkan Lima Program Strategis untuk Perkuat Masa Depan Santri dan Pesantren
24 Oktober 2026 16:42 WIB
Riko Marbun
Photo: Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag RI
Jakarta, Sonora.Co.ID - Kementerian Agama (Kemenag) menyiapkan lima program strategis untuk memperkuat pendidikan, kompetensi, dan kemandirian santri serta pesantren. Program tersebut disampaikan Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam upacara Peringatan Hari Santri 2026 di halaman kantor pusat Kemenag, Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, peringatan Hari Santri menjadi momentum untuk menegaskan kembali peran santri dalam perjalanan sejarah bangsa sekaligus mempersiapkan generasi pesantren menghadapi tantangan masa depan.
Sejak ditetapkan pada 2015, Hari Santri diperingati setiap 22 Oktober untuk mengenang perjuangan ulama dan santri dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Pada 22 Oktober 1945, Hadratusy Syeikh KH. Hasyim Asy’ari mewakili warga pesantren mengumandangkan Resolusi Jihad. Fatwa tersebut menegaskan kewajiban membela Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan mempertahankan kemerdekaan.
“Sejarah mencatat dengan tinta emas bahwa ketika kedaulatan bangsa terancam, seruan perlawanan sangat dahsyat lahir dari dinding-dinding pesantren, digelorakan oleh kaum sarungan, dan dihidupi oleh jiwa para santri,” tegas Nasaruddin.
Menurut dia, semangat Resolusi Jihad turut menggerakkan perlawanan rakyat yang mencapai puncaknya dalam peristiwa 10 November 1945, yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa santri tidak hanya berperan menjaga nilai-nilai agama, tetapi juga menjadi bagian penting dalam perjuangan dan pembangunan bangsa.
“Tugas kita, melanjutkan perjuangan para kyai dan pahlawan bangsa melalui pengabdian, karya, dan kontribusi nyata bagi Indonesia,” ujar Nasaruddin.
Sejalan dengan semangat tersebut, Kemenag memperkuat ekosistem pendidikan pesantren agar mampu memperluas kontribusinya dalam pembangunan nasional, terutama dalam mempersiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045.
Lima Program Strategis Kemenag untuk Pesantren
Nasaruddin menjelaskan, lima program tersebut disiapkan setelah terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 18 Tahun 2026 yang menandai pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren.
Regulasi tersebut menjadi bentuk pengakuan, afirmasi, dan pelembagaan komitmen negara terhadap pesantren. Dengan demikian, pesantren dan santri diharapkan memperoleh dukungan yang lebih kuat untuk berkembang dan berdaya.
Pertama, SAFESANTRI. Program ini bertujuan memperkuat pesantren sebagai lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan ramah bagi seluruh santri.
“Citra pesantren aman dan nyaman harus dikawal agar tidak tercoreng oleh laku oknum yang tidak sejalan dengan semangat pesantren,” tegas Nasaruddin.
Sebagai langkah konkret, Kemenag membentuk Satuan Tugas (Satgas) SAFESANTRI yang diluncurkan pada upacara Peringatan Hari Santri 2026.
“Bertepatan peringatan Hari Santri Tahun 2026 ini, dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, saya luncurkan Satuan Tugas SAFESANTRI. Semoga langkah ini menjadi ikhtiar nyata untuk menjaga eksistensi pesantren sebagai lembaga pendidikan yang aman, nyaman, dan ramah bagi seluruh santri,” ujar Nasaruddin.
Satgas tersebut disiapkan untuk memperkuat mekanisme pencegahan, pengaduan, pendampingan, dan respons cepat terhadap persoalan kekerasan di lingkungan pesantren.
Sejumlah tokoh pesantren telah menyatakan kesediaan bergabung dalam satuan tugas tersebut, salah satunya Gus Kautsar. Keterlibatan masyarakat pesantren diharapkan memperkuat kolaborasi dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman bagi santri.
Kedua, penguatan rekognisi ijazah pesantren. Program ini diarahkan untuk memperluas pengakuan terhadap pendidikan pesantren sekaligus membuka akses yang lebih besar bagi lulusan untuk melanjutkan pendidikan, memasuki dunia kerja, dan mengembangkan karier.
Penguatan rekognisi diharapkan memastikan capaian pendidikan dan kompetensi santri mendapatkan pengakuan yang lebih luas dalam sistem pendidikan maupun dunia kerja.
“Program ini sekaligus menjawab kebutuhan agar masa depan santri tidak terhambat bukan karena kurangnya kemampuan atau kedalaman ilmu, melainkan karena keterbatasan pengakuan terhadap pendidikan yang telah ditempuh,” kata Nasaruddin.
Ketiga, Pesantren Adaptif dan Mandiri. Program ini berfokus pada penguasaan teknologi, modernisasi tata kelola kelembagaan, dan penguatan kemandirian ekonomi pesantren.
Menurut Nasaruddin, pesantren perlu beradaptasi dengan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), serta kemajuan bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).
Selain meningkatkan kemampuan teknologi, program ini mendorong pesantren mengembangkan usaha, membuka lapangan kerja, dan menggerakkan perekonomian masyarakat di sekitarnya.
“Program ini juga akan mengawal kemandirian ekonomi Pesantren,” ucapnya.
Keempat, Santri 5.0. Program ini ditujukan untuk menyiapkan santri yang memiliki pemahaman mendalam tentang keilmuan Islam sekaligus kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.
Penguatan keterampilan, literasi teknologi, kemampuan beradaptasi, serta karakter keagamaan menjadi bagian dari upaya mempersiapkan santri menghadapi perubahan zaman.
“Ilmu agama dan keterampilan, keduanya penting sebagai bekal santri menatap masa depan,” papar Nasaruddin.
Kelima, Dakwah Digital. Melalui program ini, Kemenag menyiapkan dai dan daiyah yang menguasai ilmu agama sekaligus memahami media sosial, algoritma, AI, dan produksi konten kreatif.
Program tersebut bertujuan memperluas jangkauan dakwah yang santun dan moderat agar lebih dekat dengan generasi muda, seiring perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi dan pengetahuan keagamaan.
Dakwah pesantren diharapkan tidak hanya berlangsung melalui mimbar dan pengajian konvensional, tetapi juga menjangkau ruang digital. Transformasi tersebut tetap harus berlandaskan kedalaman ilmu agama, moderasi beragama, dan kesinambungan sanad keilmuan pesantren.
“Santri harus juga hadir dalam kreatif dan relevan di ruang digital. Sehingga dakwah yang santun dan moderat, menjadi lebih dekat dengan generasi muda,” tandas Nasaruddin.
Melalui lima program tersebut, Kemenag mendorong pesantren tidak hanya mempertahankan perannya sebagai pusat pendidikan dan pengembangan ilmu agama, tetapi juga memperkuat kontribusi dalam pengembangan sumber daya manusia, kemandirian ekonomi, dan pembangunan Indonesia menuju 2045.
News
View MoreOur Services
Sonora Education And Talent Management
Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Research Solution
Your Research Solution for Comprehensive Coverage, Reliable Sources, and Diverse Perspectives